Syaikh ‘Ali ash-Shayrafi

Beliau adalah Abu al-Hasan ‘Ali bin Bundar bin al-Husin ash-Shayrafi. Termasuk sufi agung dari Nisapur. Beliau diterima dengan senang hati di antara para sufi dan mendapatkan berkah lewat persahabatan dengan mereka.

Di Nisapur, beliau bersahabat dengan Syaikh Abu ‘Utsman al-Hiri dan Syaikh Mahfuzh. Di Samarkand, beliau bersahabat dengan Syaikh Muhammad bin al-Fadhl al-Balkhi. Di Balkh, beliau bersahabat dengan Syaikh Muhammad bin Hamid. Di Jowzjan Afghanistan, beliau bersahabat dengan Syaikh Abu ‘Ali al-Jawzajani. Di Rey Iran, beliau bersahabat dengan Syaikh Yusuf bin al-Husin.

Di Baghdad, beliau bersahabat dengan Syaikh Junaid al-Baghdadi, Syaikh Ruwaim al-Baghdadi, Syaikh Sumnun bin Hamzah, Syaikh Ibn ‘Atha’ dan Syaikh al-Jurayri. Di Syiria, beliau bersahabat dengan Syaikh Thahir al-Maqdisi, Syaikh Ibn al-Jala’ dan Syaikh Abu ‘Amr ad-Dimasyqi. Di Mesir, beliau bersahabat dengan Syaikh Abu Bakar al-Mishri, Syaikh Abu Bakar ad-Daqqaq dan Syaikh Abu ‘Ali ar-Rubadzari.

Dengan demikian, menjadi jelas bagi kita bahwa beliau telah mengunjungi para sufi di berbagai negeri. Beliau yang wafat pada tahun 359 Hijriah itu pastilah tidak saja telah digerakkan oleh keinginannya untuk senantiasa berkelana ke sana kemari dengan hampa tujuan spiritual, tapi murni menemui para sufi untuk semata menebalkan cahaya rohani beliau.

Para sufi adalah wadah-wadah rohani yang telah sanggup menampung cahaya-cahaya Ilahi. Bahkan tidak tanggung-tanggung, sebagai wadah-wadah, mereka tidak saja kebak dengan cahaya-cahaya spiritual, tapi malah sering kali luber. Sehingga berkah Ilahi meluap-luap lewat mereka.

Semakin banyak kita menemui para sufi secara lahir dan batin, maka akan semakin banyak pula curahan-curahan cahaya rohani yang akan kita tampung di dalam diri dan perilaku-perilaku kita. Karena jelas bahwa pertemuan dengan mereka akan melahirkan ekses-ekses spiritual yang begitu nyata dan indah.

Itulah sebabnya, ketika pada suatu hari Syaikh ‘Ali ash-Shayrafi bersama Syaikh Abu ‘Abdillah bin Khafif berada di atas sebuah jembatan yang sempit, Syaikh Abu ‘Abdillah berkata kepada beliau: “Silakan kau di depan.” Syaikh ‘Ali ash-Shayrafi bertanya: “Sebab apa kau mempersilakan aku di depanmu?” Syaikh Abu ‘Abdillah dengan tegas menjawab: “Engkau pernah berkumpul dengan Syaikh Junaid al-Baghdadi, sementara aku tidak pernah melihatnya.”

Allah Yang Mahatunggal telah menderivasikan kemuliaanNya yang tak bertepi, di antaranya, kepada para sufi sesuai dengan kapasitas masing-masing dalam menampungnya. Semakin banyak seorang sufi menampung kemuliaan hadiratNya, maka semakin mulia pula dia.

Dan salah satu cara untuk meningkatkan kualitas kemuliaan yang hakiki itu adalah dengan cara kulakan terhadap orang-orang yang lebih mulia dibandingkan kita. Baik mereka yang masih hidup maupun mereka yang telah wafat.

Kepada mereka yang masih hidup, ikhtiar kita adalah menjumpai mereka dan dengan cermat kita mengambil pelajaran-pelajaran rohani melalui ilmu, moralitas dan spiritualitas mereka. Sementara kepada yang sudah wafat, ikhtiar kita adalah memungut jejak-jejak rohani mereka lewat kitab-kitab atau kisah-kisah yang menuturkan tentang ilmu, moralitas dan spiritualitas mereka. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie
Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.