Syaikh ‘Amr al-Makki

bahcesigonul.tumblr.com

 

Beliau adalah Abu ‘Abdillah ‘Amr bin ‘Utsman al-Makki ash-Shufi. Beliau adalah salah satu guru rohani dari sang sufi eksentrik, Syaikh Husain bin Manshur al-Hallaj. Beliau juga segenerasi dengan Syaikh Abu Sa’id al-Kharraz dan Syaikh Junaid al-Baghdadi. Wafat di Baghdad pada tahun 290 Hijriah.

Dikisahkan bahwa Syaikh ‘Amr al-Makki pernah datang ke Asfihan. Di sana, beliau digandrungi oleh seorang pemuda yang ingin mendapatkan berkahnya. Tapi bapak si pemuda itu melarang anaknya untuk mendekati sang sufi. Sehingga dia menjadi sakit, dan sakitnya itu lama sekali.

Setelah sekian lama, Syaikh ‘Amr al-Makki bersama para jama’ahnya yang terdiri dari para fakir menjenguk sang pemuda yang telah lama tergeletak sakit. Sang pemuda langsung mengenali beliau dan bahkan merasa lebih akrab. Dia berharap kepada Syaikh ‘Amr al-Makki agar salah seorang qawwal atau penyanyi di antara jemaah beliau bersedia menyenandungkan tentang nasib dirinya sebagai orang yang sakit.

Dalam rangka merespons pengharapan itu, beliau memberikan isyarat kepada sang qawwal. Lalu, disenandungkanlah bait berikut ini: “Aku sakit, aku sakit, dan tidak ada seorang pun dari kalian yang menjengukku. Hambamu sakit, hambamu sakit, maka aku akan pulih kembali.”

Setelah mendengarkan dan meresapi senandung sang qawwal itu, si pemuda yang semula berbaring itu langsung duduk, sakitnya terasa banyak berkurang, badannya lebih enteng. “Tolong, bersenandunglah sekali lagi,” kata si pemuda kepada sang qawwal.

“Dan yang jauh lebih menyedihkan ketimbang sakitku itu,” sang qawwal melanjutkan senandungnya, “adalah keberpalinganmu dariku. Dan keberpalingan hambamu bagiku sungguh sangat menyakitkan.”

Selesai bait yang kedua itu disenandungkan, penyakit si pemuda itu langsung lenyap secara total. Dia langsung berdiri dan duduk dengan betul-betul sehat. Tidak ada sisa rasa sakit sedikit pun. Bapak dari si pemuda betul-betul terkejut dengan apa yang disaksikannya. Seketika itu juga dia bertobat dari kerentek hatinya yang berburuk-sangka kepada Syaikh ‘Amr al-Makki. Bahkan dia menyerahkan anaknya untuk mengikuti perjalanan rohani sang sufi sehingga akhirnya si pemuda menjadi bagian di antara para wali.

Pelajaran spiritual apakah yang bisa kita dapatkan dari sepenggal kisah di atas? Pertama, seseorang akan dengan sangat mudah dipertemukan oleh takdir dengan jalur rohaninya yang akan mengantarkannya pada jenjang spiritual yang sempurna. Di dalam hidup ini, di atas peta-peta rohani, seseorang akan saling mencari dengan orang lain yang jalur atau corak rohaninya sama. Atau paling tidak memiliki banyak kesamaan. Ketika berjumpa, masing-masing keduanya pasti merasakan sudah sekian lama saling kenal dan akrab, jauh sebelum pertemuan lahiriah itu.

Kedua, perpisahan yang terjadi di antara pencinta dengan kekasih, di antara kekasih dengan pencinta, pastilah sangat menyakitkan. Bahkan rasa sakit itu tidak hanya berkubang di hati, tapi juga berimbas ke fisik sebagaimana yang telah dialami oleh si pemuda itu. Hal tersebut sangat bisa dimaklumi. Bagaimana mungkin tidak. Bukankah pencinta itu merupakan cermin spiritual bagi sang kekasih? Demikian pula sebaliknya. Bukankah pencinta itu merupakan duplikasi paling sempurna bagi sang kekasih? Demikian pula sebaliknya. Memisahkan keduanya adalah sumber rasa sakit yang tak terkatakan kepedihannya.

Ketiga, perjumpaan antara pencinta dengan kekasih adalah segalanya. Ketika pencinta menemukan kekasih atau sebaliknya, itu laksana seseorang yang menemukan dirinya yang hilang. Betapa kegembiraan melonjak-lonjak, meluap-luap, hingga berbagai sarana ungkap terkulai untuk betul-betul sanggup menggambarkannya. Itu baru yang terjadi di antara sesama manusia yang dibingkai oleh cinta rohani. Apalagi kalau yang terjadi itu adalah di antara kita dengan Rabbul’alamin. Sungguh jauh lebih sangat mengagumkan.

Keempat, mengikuti orang rohani yang sudah jelas terbebaskan dari berbagai macam egoisme, merdeka dari tipuan segala sesuatu yang selain hadiratNya, akan sangat efektif dalam mengelola potensi rohani untuk sampai pada derajat kesempurnaan. Sebagaimana si pemuda yang tidak membutuhkan waktu yang bertele-tele untuk menggapai tingkat kewalian ketika secara intensif berada di bawah bimbingan Syaikh ‘Amr al-Makki. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie
Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.