Syaikh Ghaylan as-Samarqandi

Nama beliau persis sebagaimana judul di atas. Tidak kurang, tidak lebih. Setidaknya menurut penelusuran saya terhadap kitab Nafahat al-Unsi min Hadharat al-Qudsi karya Mulla ‘Abdurahman al-Jami yang memang menjadi rujukan utama di dalam penulisan biografi singkat si sufi ini.

Beliau bersahabat dengan Syaikh Junaid al-Baghdadi. Bahkan lebih dari itu, beliau juga mengambil lisensi tarekat dari sufi agung kebanggaan Baghdad tersebut. Beliau diperkirakan wafat pada pertengahan abad kesepuluh Masehi.

Berkaitan dengan berbagai diskursus tentang makrifat, beliau sangat jago di dalam menjelaskannya dengan sebegitu detail dan gamblang. Bukan semata berangkat dari berbagai macam literatur yang memang mengurai tentang makrifat keilahian tersebut, tapi terutama menghablur dari pengalaman-pengalaman rohani beliau sendiri.

Salah satu kalimat beliau yang menggugah, utamanya bagi saya pribadi, adalah sebagaimana berikut: “Seseorang yang makrifat memandang dari “perspektif” Allah terhadap hadirat-Nya sendiri. Seseorang yang alim berangkat dari pembuktian menuju kepada Allah. Dan seseorang yang jatuh cinta sama sekali tidak membutuhkan dalil, baik bagi cintanya sendiri maupun bagi kekasihnya.”

Seseorang yang makrifat tak lain adalah dia yang telah mengalami sekaligus merasakan bahwa hakikat segala sesuatu adalah Allah Ta’ala itu sendiri. Juga mengalami dan merasakan bahwa apa yang disebut sebagai segala sesuatu mutlak bermula dan berakhir kepada hadirat-Nya. Pun dia mengalami dan merasakan bahwa segala sesuatu itu senantiasa diliputi oleh Allah Ta’ala jua.

Dengan adanya pengalaman demi pengalaman rohani yang sedemikian cemerlang seperti itu, pastilah seseorang yang makrifat mengalami dan merasakan bahwa kemampuannya memandang adalah percikan dari sifat bashar hadirat-Nya. Tidak mungkin tidak. Dan apa pun yang merupakan objek pandangannya, secara hakiki tak lain adalah Allah Ta’ala.

Sementara seseorang yang alim, penglihatannya tidak bisa langsung tembus kepada hadirat-Nya, tapi masih tersangkut dengan bukti-bukti yang mengindikasikan bahwa Allah Ta’ala itu ada. Di hadapan penglihatannya, hadirat-Nya itu masih gaib, masih bersemayam di balik segala sesuatu yang empirik. Masih dibutuhkan adanya sesuatu yang lain untuk menarik kesimpulan bahwa hadirat-Nya itu betul-betul wujud.

Hal itu terjadi karena penglihatan mata kepala dan akal pikiran parsial si alim tersebut lebih mendominasi dirinya dibandingkan akal universal dan kecemerlangan batinnya. Sehingga dia di dalam memandang apa pun menjadi lebih dekat kepada paradigma benda-benda empirik ketimbang terhadap substansi dan hakikat terdalam segala sesuatu.

Sedangkan orang yang senantiasa dirundung cinta transendental terhadap Allah Ta’ala sama sekali merasa tidak membutuhkan pembuktian apa pun bahwa hadirat-Nya itu akan selalu ada untuk dirinya, sampai kapan pun, selamanya. Itulah orang yang sudah wushul, orang yang sudah sampai, orang yang sudah bersanding mesra secara spiritual dengan Allah Ta’ala, orang yang telah kembali kepada asal-usulnya dengan penuh rela dan direlakan. Semoga kita semua dimudahkan oleh hadirat-Nya untuk sampai pada kedudukan rohani yang sangat terpuji itu. Amin. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie
Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.