Syaikh Manshur bin ‘Ammar

pinterest.com

 

Beliau adalah Abu Sari Manshur bin ‘Ammar. Berasal dari Merv yang pada Dinasti Abbasiyah termasuk salah satu ibu kota bagian timur. Beliau bermukim di Bashrah, Iraq. Termasuk seorang sufi pada generasi awal. Beliau adalah seorang yang sangat bijaksana di zamannya.

Tentang martabat spiritual dan reputasi kesalehan beliau, sebuah kisah berikut ini bisa menjadi salah satu rujukan. Pada suatu hari setelah beliau wafat, beberapa orang berjumpa dengan beliau di dalam mimpi. Mereka bertanya di dalam mimpi itu tentang keadaan beliau di alam kubur.

Beliau menuturkan bahwa selain mendapatkan ampunan dari Allah Ta’ala, beliau juga mendapatkan posisi terpuji di sebuah mimbar pada langit ketujuh. Allah sendiri yang memerintahkan beliau untuk naik ke mimbar yang sangat sakral tersebut.

HadiratNya juga berfirman langsung kepada beliau: “Katakan kepada para malaikat dan mereka yang mencintaiKu sebagaimana yang engkau katakan di dunia.” Di dalam firmanNya ini, ada rahasia rohani yang menggema antara beliau dengan Tuhannya.

Posisi yang tinggi secara rohani, selain tentu saja merupakan karunia yang sangat agung dari hadiratNya, juga merupakan sebuah tantangan spiritual bagi setiap salik yang senantiasa menempuh lorong-lorong rohani yang menuju kepada Allah Ta’ala.

Artinya adalah bahwa karunia agung seperti itu tidak boleh hanya ditunggu dengan cara berpangku tangan. Tidak boleh pasif. Walaupun tentu saja di sisi yang lain kita bersembah sujud dengan tekun tidak untuk orientasi kedudukan spiritual yang terpuji itu. Di dalam salah satu syarah kitab al-Hikam, tindakan seperti itu disebut dengan syahwat al-wushul. Dan itu meleset.

Ikhtiar spiritual itu merupakan suatu hal. Sedangkan karunia rohani merupakan hal yang lain. Yang pertama adalah domain setiap salik. Sedangkan yang kedua murni merupakan hak prerogatif Allah Ta’ala. Tidak ada siapa pun yang bisa merecokinya.

Apa yang merupakan domain kita dalam kancah spiritualitas, itulah tugas kita yang sesungguhnya. Jangan tebersit di dalam benak kita untuk ikut campur mengurusi apa yang sebenarnya merupakan urusan hadiratNya. Karena itu merupakan tindakan yang ceroboh dan lancang. Pantangan hal itu bagi seorang salik.

Tugas kita secara spiritual adalah berjalan menuju kepada Allah Ta’ala dengan menempuh langkah demi langkah, proses demi proses, dengan ketekunan, keikhlasan, kesabaran, kerinduan dan cinta, tanpa tertegun sedikit pun kepada karunia-karunia yang diberikan oleh Allah Ta’ala pada kita di pinggir-pinggir dan sepanjang lorong-lorong rohani.

Kenikmatan perjalanan spiritual sungguh tidak kalah lezatnya dibandingkan dengan kenikmatan berbagai macam karunia yang merupakan pahala-pahala bagi sekian sembah sujud dan pengabdian itu. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie
Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.