Syaikh Muhammad al-Balkhi

Beliau adalah Abu ‘Abdillah Muhammad bin al-Fadhl al-Balkhi. Berasal dari Balkh, Afghanistan. Tinggal di Samarkand. Bersahabat dengan Syaikh Ahmad bin Khadhrawih al-Marwazi. Menyimak banyak hadits dari Syaikh Qutaibah bin Sa’id. Wafat pada tahun 319 Hijriah.

Pada suatu hari, Syaikh Abu ‘Utsman al-Hiri mengajukan sebuah pertanyaan kepada Syaikh Muhammad al-Balkhi: “Apakah tanda bahwa seseorang itu celaka?” Beliau yang ditanya menyodorkan jawaban: “Ada tiga perkara. Pertama, seseorang itu memiliki ilmu agama, tapi dia tidak tergerak untuk mengamalkannya.

Kedua, seseorang itu mengamalkan ilmu agama yang dimilikinya, tapi tidak bersemayam keikhlasan di dalam amal-amalnya. Ketiga, seseorang itu dimudahkan untuk berdekatan dengan para kekasih Allah Ta’ala, tapi dia tidak memiliki penghormatan kepada mereka sebagaimana semestinya.”

Memahami betul tentang jalan hidup yang bisa mengantarkan seseorang pada nasib yang akan mencelakakannya, sama pentingnya dengan betul-betul memahami jalan hidup yang bisa mengantarkan seseorang pada nasib yang akan menguntungkannya.

Itulah sebabnya, kenapa Qur’an berisi tentang berbagai kisah orang-orang yang durhaka pada satu sisi, dan di sisi yang lain juga berisi tentang berbagai kisah dari aneka ragam orang-orang yang patuh dan beruntung. Kedua-duanya sama-sama penting.

Dengan adanya kejelian kita di dalam mengambil iktibar dari kisah-kisah mereka yang durhaka dan kemudian menjadi nista karenanya, diharapkan kita bisa mengambil jarak aksiologis dari berbagai tindakan mereka yang sama sekali tidak terpuji tersebut. Menjadi jelas bagi kita bahwa ketika Qur’an menyodorkan kisah-kisah tentang mereka yang bertindak destruktif, secara tidak langsung sebenarnya Qur’an ingin menyatakan kepada kita: “Jauhilah watak mereka. Tumbangkan sifat-sifat buruk dari dirimu agar tidak menjadi nista seperti mereka.”

Sementara berkaitan dengan kisah-kisah mereka yang saleh dan terpuji, kita mesti menjadikannya sebagai suluh yang selain berfungsi menerangi langkah-langkah rohani kita, kisah-kisah tersebut juga bisa kita jadikan sarana untuk senantiasa mengobarkan heroisme spiritual di dalam mengikis “jarak” yang membentang antara kita dengan Rabbul’alamin.

Karena itu, mengetahui seluk-beluk keburukan menjadi sama pentingnya dengan mengetahui seluk-beluk kebaikan. Kalau tidak, bisa jadi kita terperosok di dalam keburukan sembari merasakan bahwa kita berada di dalam kebaikan. Kita merasa aman-aman. Atau sebaliknya.

Betapa sangat banyak contohnya. Di antaranya adalah orang-orang yang menempuh jarak yang sangat jauh, dari berbagai negara, untuk sampai ke Baitullah di Makkah sana. Tapi bersamaan dengan hal itu, mereka tidak sanggup menguasai malam kelam nafsu mereka sendiri. Sehingga seluruh keanekaragaman makhluk tidak sanggup mereka pandang sebagai “jejak-jejak” yang konkret dari kemahaan Allah Ta’ala. Pernik-pernik realitas di dalam kehidupan ini hanyalah dipandang oleh mereka sebagai jibunan makhluk yang tidak bertuan. Na’udzu bilLahi min dzalik. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie
Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.