Syaikh Muhammad as-Sakhiri

Beliau adalah persis sebagaimana judul di atas. Setidaknya menurut pemahaman saya terhadap kitab-kitab referensi yang memuat nama-nama para sufi di dalamnya. Saya juga tidak menemukan data yang jelas di manakah beliau dilahirkan, dan di mana pula beliau wafat.

Saya juga tidak mengetahui siapakah teman-teman rohani beliau. Siapa pula guru-guru spiritual beliau. Tidak disebutkan di dalam kitab-kitab thabaqat yang tersedia di dalam kepustakaan saya. Hanya secuil kisah tentang beliau yang menurut saya cukup menarik. Selebihnya tidak ada.

Syaikh Abu Isma’il ‘Abdullah al-Anshari al-Harawi yang dikenal dengan sebutan Syaikh al-Islam menyatakan bahwa Syaikh Muhammad as-Sakhiri adalah seorang sufi yang datang ke kuburan Nabi Muhammad Saw di Madinah al-Munawwaroh dengan mengatakan: “Aku adalah tamumu ya Rasulallah.

Tolong berilah aku makan. Aku lapar sekali. Jika engkau tidak memberiku makan, maka akan kupecah lampu-lampu di masjidmu ini.” Beliau tegas sekali mengatakan kalimat tersebut, tanpa tedeng aling-aling. Seolah-olah berbicara kepada temannya sendiri, bukan kepada yang termulia dari kalangan seluruh makhluk.

Ada seseorang yang kemudian datang kepada Syaikh Muhammad as-Sakhiri. Seorang lelaki. Memberinya kurma dan makanan-makanan yang lain. Sampai beliau kenyang-sekenyangnya. Orang yang baru datang lantas bertanya kepada Syaikh Muhammad as-Sakhiri: “Apa yang katakan kepada Nabi Muhammad Saw?”

Orang yang baru datang itu tertawa dan menyebutkan apa yang tadi dikatakan oleh Syaikh Muhammad as-Sakhiri kepada Rasulullah Saw. Persis sama. Tidak kurang sedikit pun. Beliau semakin bertanya-tanya, dari mana orang ini mengetahui semua itu? Tidak seorang pun yang menjawab.

“Dari mana engkau mengatakan semua ini?” tanya Syaikh Muhammad as-Sakhiri kepada orang yang baru datang itu. Orang itu menjawab bahwa dia itu tertidur di masjid Nabawi di sebelah sana. Lalu, dia melihat Nabi Muhammad Saw di dalam mimpinya. Nabi Pungkasan Saw bersabda dalam mimpinya itu.

“Sesungguhnya aku punya seorang tamu yang buruk akhlaknya. Pergilah engkau ke rumahmu dan kenyangkanlah dia. Katakan kepadanya bahwa masjid ini bukanlah merupakan tempat melampiaskan nafsu”, sama sekali bukan. Malah tempat bersembah sujud kepada Allah Ta’ala.

Nabi Muhammad Saw sangat mungkin mengetahui tamu-tamunya yang datang dan apa saja yang dikeluhkan mereka kepada tuannya. Bukan tahu dengan sendirinya, tapi diberi tahu oleh hadiratNya. Karena Allah Ta’ala mengetahui segala sesuatu, tidak mungkin tidak. Itu pun dengan pengetahuan hudhuri.

Sangat mulia akhlak Rasulullah Saw kepada seorang tamu yang buruk akhlaknya, apalagi kepada seorang tamu yang mulia akhlaknya, pasti lebih bagus lagi. Betul-betul Nabi Muhammad Saw merupakan tauladan bagi seluruh umat manusia, tanpa terkecuali. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie
Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!