Syaikh Muhammad bin Abu al-Wardi

Beliau adalah Muhammad bin Abu al-Wardi Abu al-Hasan. Hidup di sekitar paruh kedua abad kesembilan Masehi. Bersahabat dengan Syaikh Sari as-Saqati, Syaikh Abu al-Fath al-Hammal, Syaikh al-Harits al-Muhasibi dan Syaikh Bisyr al-Hafi. Segenerasi dengan Syaikh Junaid al-Baghdadi. Beliau adalah salah seorang sufi agung di Iraq. Dan karena beliau merupakan salah seorang murid dari Syaikh Bisyr al-Hafi, maka model jalan rohani yang beliau tempuh mirip dengan jalan rohani sang guru tersebut.

Tentang gambaran mengenai bimbingan Allah Ta’ala secara langsung terhadap proses dan perjalanan rohaninya, cerita singkat sebagaimana berikut ini bisa kita jadikan petunjuk. “Pada suatu hari,” tutur beliau seperti dikutip di dalam kitab Nafahat al-Unsi min Hadharat al-Qudsi karya Mulla ‘Abdurahman al-Jami, “setelah saya melaksanakan shalat Maghrib, saya selonjorkan kedua kaki saya. Tiba-tiba terdengar suara teguran dari langit keagungan, ‘Apakah seperti itu cara engkau duduk bersama raja-raja?'”

Maksudnya adalah bahwa “Jika engkau bersama raja-raja dunia saja tidak seperti itu cara dudukmu, kenapa di hadapan Tuhan semesta alam cara dudukmu begitu?”

Betapa teguran itu mengindikasikan kepada kita semua bahwa bimbingan hadiratNya kepada beliau itu sungguh sangat ketat. Saya membayangkan bahwa seandainya saya sendiri yang mendapatkan bimbingan seketat itu, niscaya saya akan senantiasa mengalami kedodoran di dalam melaksanakannya. Tentu saja kalau saya tidak mendapatkan suplai pertolongan dari Ilahi.

Perkara bimbingan moral yang dialami oleh Syaikh Muhammad bin Abu al-Wardi menunjukkan kepada kita semua betapa akhlak yang terpuji itu memang lebih tinggi kedudukannya dibandingkan ilmu. Karena jelas bahwa akhlak yang baik itu merupakan sari pati dari aktualisasi ilmu. Sementara ilmu itu masih beku sebagai teori atau konsepsi belaka.

Akhlak yang mulia di hadapan Allah Ta’ala tentu saja bukan hanya model duduk yang sopan sehabis melaksanakan shalat. Tidak. Sama sekali tidak. Akan tetapi lebih dari itu kita mesti sanggup memosisikan diri secara ideal di hadapan hadiratNya sekaligus memosisikan Dia di hadapan kita sebagaimana semestinya.

Memosisikan diri secara benar di hadapan Allah Ta’ala adalah merealisasikan segenap kepatuhan dengan penuh ketulusan di dalam mengimplementasikan berbagai macam perintah, baik pelaksanaan perintah itu menyenangkan maupun tidak.

Yang seharusnya menjadi fokus dari pengamalan ajaran-ajaran agama yang sangat sakral itu bukan terutama aneka ragam perintah, akan tetapi dari mana perintah-perintah tersebut datang. Dengan tertarik kepada sumber segala perintah itu, kita akan senantiasa merasa senang di dalam melaksanakannya.

Lebih ideal lagi dalam konteks paradigma tasawuf, memosisikan diri di hadapan hadiratNya adalah memandang diri sebagai ketiadaan semata. Hanya Allah Ta’ala yang betul-betul ada secara hakiki. Keberadaan kita tak lebih hanya merupakan pantulan yang sangat temaram dari kemahaan wujud hadiratNya.

Dari paradigma spiritual itu akan menjadi nyata bagi kita bahwa segala sesuatu tidak lain merupakan manifestasi dari Allah Ta’ala belaka. Karena itu, ketika Dia mencipta segalanya, sesungguhnya bukan terutama dalam rangka mencipta itu sendiri, tapi murni untuk menunjukkan siapa Dia sebenarnya. Menunjukkan kepada siapa? Ya, kepada hadiratNya sendiri. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie
Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.