Puisi-Puisi Saifa Abidillah (Yogyakarta)

in Puisi by

04_creative_portrait_forest_rainy_raindrops_winter_wet_day_long_hair_dress_lace_ethereal_dreamy_romantic_nikon_d800_50mm_natural_light_pose_posing_artistic_clonmel_ireland_tipperary

Ehipassiko

 

tanpa pun harus berjalan

menuju hutan

aku telah di hutan

sebelum puisi ini dituliskan

 

Kutub, 2015

 

Seusai dari Hutan

 

harumnya kebajikan

adalah jauh melebihi harumnya

kayu cendana, bunga tagara,

bunga teratai maupun melati.

 

Dhammapada 55

 

Seusai dari hutan

adakah kita telah melebihi

harum bunga-bunga di jalanan?

 

mengingat-ingat

anak-istri yang meratapi

di istana?

 

duh guru, sampai dimanakah

kita berjalan

hingga cendana dan melati

telah kita lewati

 

lupa pada diri,

lupa pada ilusi

dan duri-duri

 

lihatlah,

segalanya seperti tak

terjadi apa-apa

 

Gowok, 2015

 

 

Seperti Bunga Teratai

 

Seperti dari tumpukan sampah

yang dibuang di tepi jalan

tumbuh bunga teratai yang berbau

harum dan menyenangkan hati

 

Dhammapada 58

 

Begitulah kita mesti merekah

dari tanah dan musim mana pun

tak ada jalan untuk mendekati

kekosongan

 

kita mesti tumbuh

dalam dingin dan panas

yang beringas

 

hari-hari yang keruh

dan kisruh

hanya akan lerai

 

jika kita tak memperhitungkan

mana yang menguntungkan

mana yang membingungkan

 

tumbuhlah di atas air

sebelum alam memanggil

sebelum gigil memantul

pada hari dan jemari yang kaku

 

Gowok, 2015

 

Sunyata

 

Jika tiba-tiba aku mati di sini

dan tak sempat

mengatakan satu kata pun

pada dunia

 

sampaikan pada Ibuku,

aku kalah bertarung,

menghadapi hidup dan nasib

 

dunia ini lebih mengerikan

dari pikiranku sendiri

dan jalan satu-satunya untuk merdeka

adalah tunduk pada nasib

 

penyair sepertiku,

tak harus mati

meninggalkan kata-kata

 

sebab aku tidak cukup

bijaksana atau gila,

untuk menertawakan dunia ini

 

dan jika ada yang memandang

siapa di atas bukit?

jangan memandang kepadaku

 

Ia yang bijaksana,

tidak mengeluh

karena didesak hidup,

tidak mengutuk

karena diinjak tengkuk dan dahinya

 

Ia terbebas dari segala sayatan

sanggup berdiri di atas

keheningan dan kekosongan

 

Kutub, 2015

 

 

Puncak Kutukan

 

Tanpa harus berkata apa-apa

pada hidup

kita pun akan membusuk di sini

 

tak ada lagi yang mesti kusesaatkan.

kukutuk diriku penuh

kebencian dan kedengkian

 

aku tak menemukan

bagaimana kebijaksanaan itu

mengantarkan aku,

sampai pada diri dan dunia?

 

sampai dimanakah

batas-batas kesesatan

menggelapkan mataku

pada kebenaran?

 

dunia ini penuh kutukan

dan jangan tanya,

aku telah melakukan apa?

 

seluruh waktuku

terpisah dari suara hatiku

dunia ini penuh kengerian

 

dan aku tidak tahan,

untuk tidak mengamuk

dan berontak

 

sebab seluruh waktuku

bukan lagi, serupa gundukan air

dan mazmur.

 

Kutub 2015

 

Menjadi Angin

 

Seperti kelu seruling bambu dari Persia

menyayat-nyayat sendiri

agar terbebas dari sepi dan waktu

 

aku pun juga tak sanggup menjangkau diriku

menyentuh lengan-lengan hari

yang semakin parah dan menakutkan

 

segala yang bertiup dan kembali pada diri

adalah hutan-hutan bayangan tak tersentuh

hari ini aku rubuh, mungkin juga kalah

 

aku tak sanggup menerima sagala sayatan,

menerima puisi sebagai kutukan

menerima cahaya sebagai keruntuhan

 

dimanakah kuletakkan diriku?

agar yang jauh menjadi dekat,

yang melekat tak terikat

 

juga agar segala terpaan menjadi pinangan

dan aku bisa menerima apa saja

tanpa ada keluhan dan kutukan

 

tak melukai, apalagi menyiksa diri,

aku bisa bebas dari kutukan dan kedengkian

menjadi angin yang bertandang di mana pun

 

Kutub, 2015

 

 

 

Bapak Mengerti

 

Bapak mengerti

kapan air susut

kapan air pasang,

 

kapan ia datang

kapan ia pulang

 

bintang-bintang

di langit remang

menjadi pentunjuk jalan

 

di mana ikan,

di mana persinggahan

 

bapak mengerti

di laut, angin

bagai pengantin

 

di darat, Ibu

bagai keparat

 

sebab ketika perahu merapat

Ibu mendekat

mulut pun mengumpat

 

Gowok, 2015

 

Sumber gambar: beritalitsphotography.com

Saifa Abidillah

Saifa Abidillah

Masih tercatat sebagai Mahasiswa Perbandingan Agama Fakultas Ushuluddin Studi Agama dan Pemikiran Islam, UIN Sunan Kalijaga, dan aktif mengelola LSKY (Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta).
Saifa Abidillah

Latest posts by Saifa Abidillah (see all)