
Memimpikan Lanskap Baru
Dari para ibu,
orang-orang tua,
melewati kaki anak-anaknya
air mata mengalir, memecah diri
mencari celah
dan tubuh kematian
berbalik arah
ia tak lagi menjadi hantu
bagi meja, kursi, ruang-ruang kelas
ruang-ruang tunggu
pasar, sekolah, rumah sakit bernapas
sempurna
dan ilmu bebas melintas
pada halaman-halaman buku
baru maupun bekas
sedang tangan-tangan yang sembunyi
menabur air mata lewat benih-benih
menyeka kering hamparan,
mengulur diri menjadi sungai
bercabang-cabang
mengaruskan derita
dan rasa lapar
tanah baru, lanskap baru
menggenang dalam impian
lebih jernih dari sebelumnya
menggantikan kain-kain, tiang-tiang tenda
rumah, dapur, dan pergola didirikan
di dalamnya: para ibu, orang-orang tua
dan anak-anak
menyantap panekuk paling lezat
di dunia
(Darimu,
tentu
mimpi akan tetap lahir seperti ini)
Blitar, 2025-2026
Tentang Kabar
Barangkali tak akan lama
saat air sungai kembali terang
kuali-kuali dalam tenda kembali dipanaskan
sebuah kabar,
kau dan aku akan dengar
di mana anak-anak, para belia
orang dewasa, orang tua, para mursyid
darwis, juru kisah, juru tafsir
peladang, penembang, peziarah
mualim, menyaksikan;
burung-burung membangun gelombang
hitam tertib seperti magrib
burung-burung yang lahir
sebelum ababil
apa yang dibawanya
lewat paruh dan sayapnya
tak ada yang tahu
mungkin batu
atau api yang mendengar kata alastu
jauh sebelum dikobarkan ke jisim Ibrahim
dipandu angin,
burung-burung itu terus menghentak
berpusaran di atas letak
sebuah negeri lain
kau dan aku menyebutnya Benjamin
Blitar, 2025
Iqlima
Kiranya sekuntum kembang
meranumkan paras perempuan
sepasang tangan hati-hati
dan pelan
siap memetik lalu menyimpan
namun sepasang tangan lain
lebih dulu merenggutnya
maka petal-petal kembang
remuk dalam genggaman
sebagaimana Qabil yang telah
mengasah
batu kebencian
seorang perempuan lain
mengambil tiga percik bara
api darinya, membawanya
ke sebuah kamar
di dalam kamar, Iqlima yang masih
duduk berkabung menoleh
manakala pintu yang mengurung
terbuka
dilihatnya wajah itu;
sehitam dendam
sepasang mata cemburu
dan tangan yang merah tersulut
bara api yang membakar
Iqlima hanya menggeleng
seraya berucap pelan
bahwa ia tak pernah meminta
menjadi yang diperebutkan
Blitar, 2025
Gerimis Malam
Gerimis yang mendatangi malam
serupa ketukan lambat
pada pintu
seperti kesedihan yang duduk dekat
mengawasi tidurmu
mengulurkan tangannya ke dalam mimpi
mencari kerlap kunang-kunang
yang tak lagi hinggap
pada mata puisi
Blitar, 2025
- Puisi Lailatul Kiptiyah - 7 April 2026
- Puisi Lailatul Kiptiyah - 2 September 2025
- Puisi Lailatul Kiptiyah - 25 June 2024
