Aku Mencintaimu di Bumi Manusia

Setelah marak poster film “Bumi Manusia” karya Hanung Bramantyo, aku teringat pada kisah yang tidak jauh sedih-nya, seperti penilaian sang sutradara terhadap kisah Bumi Manusia sebagai kisah cinta remaja. Karena merupakan suatu keharusan untuk memangkas imajinasi dari buku, serta “dipaksa” untuk mengikuti imajinasi sang sutradara, menjadi Bumi Manusia dari planet lain entah berasal dari galaksi apa. Tapi, sebenarnya bukan soal itu. Pun diriku masih memegang apa yang Pram katakan, “… harus adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan.”

Jadi, mungkin, aku sudah rela dengan apa yang akan terjadi terhadap film yang (semoga) sungguh luar biasa itu. Mungkin, Annelies menjadi kurang lugu atau malah kebablasan dan superagresif. Minke yang kecerdasannya mampu menembus batas pikiran, malah menjadi duta bucin di tingkat Hindia-Belanda.

Barangkali, seseorang yang doyan membaca buku, merasa puas ketika berhasil menemukan kekasih di dunia nyata menyerupai tokoh di dalam sebuah buku, atau sebaliknya. Menolak untuk memiliki kisah seperti yang dialami oleh kekasih imajinernya atau menolak kisah kehidupan sendiri yang tidak mirip di buku.

Rocky Gerung pernah mengklaim bahwa fiksi mampu membangkitkan imajinasi, yang kemudian membawa kita menuju telos atau sebuah titik dan tujuan akhir. Jika, kita mengacu pada logika RG dan bertolak dari roman Bumi Manusia—yang jelas-jelas bukan kitab suci—akan kita temukan seseorang yang benar-benar kita cintai mengiringi kisah hidup dan tujuan kita, meskipun hanya imajinasi. Kita mendadak turut berperang melawan kolonial seperti Minke melawan pengadilan kulit putih lewat kata, di mana kolonialisme ingin menguasai akal dan perasaan sehingga kita diharapkan menjadi budak cinta!

Bukan rahasia umum jika para pengagum Minke di film garapan Hanung akan membela kekasih imajinernya sampai credit film ditampilkan. Tidak menutup kemungkinan, mereka yang militan akan mempertahankan Dilan, eh Minke, eh Iqbaal, sampai tiga buku Tetralogi Buru lainnya difilmkan juga. Bucin-kah mereka? Tidak! Budak adalah manusia yang dibeli fisik beserta tenaganya untuk menjadi pekerja yang harus memenuhi keinginan si pembeli. Mereka para militan cinta Iqbaal adalah raja, dan para pemeran film adalah budaknya. Kitalah yang membeli tiket include dia-dia itu, para pemerannya. Dan dia-dia itu harus memenuhi keinginan kita, bukan? Jika tidak, bagaimana cara mereka dapat uang? Ya, mungkin, mereka bisa membangun bisnis sendiri. Tentu, bisnis budak dan kita gantian jadi budaknya. Lho, kok kebalik?! Sebab, perasaan dan akal kita dibeli.

Sebenarnya, aku pun telah lama menjadi bucin bahkan jauh sebelum kusentuh buku Bumi Manusia. Ketika si dia berkata, “Aku sangat mencintaimu.” Seolah tubuhku terikat tali tuntun pada kuda. Seperti Bu Kusir yang sedang bekerja mengendarai aku kuda supaya baik jalannya. Namun setelah kuselesaikan buku pembuka Tetralogi Buru, aku menemukan kekasih baru. Annelies adalah kekasih itu. Aku sangat mencintainya meski hanya di dalam kepala.

Kutemukan banyak tanda yang mengatakan kalau kedua kekasihku akan pergi. Dan itu terjadi. Aku kehilangan Bu Kusir, karena ia “dibawa” oleh orang tuanya, pun Annelies pergi dibawa oleh pihak keluarga dari ayahnya. Meski Bu Kusir sempat berpamitan, tak seperti Annelies yang tiba-tiba hilang, itu menyakitkan. Sungguh, persoalan tersulit adalah persoalan orang tua, kesulitan kedua setelah persoalan mengenal diri sendiri, yang mungkin bahkan tidak akan pernah selesai.

Berbulan-bulan aku terisolasi di sebuah ingatan yang mematikan. Belum sempat mati, malah kudengar kabar kalau Annelies sudah tiada. Tidak adil jika Bu Kusir tetap hidup. Lalu, ia kumatikan juga. Kukuburkan di dalam kepalaku, di sebuah ruang ingatan yang berseberangan dengan makam Annelies. Aku hancur kala itu. Bahkan sampai sekarang aku masih suka mengumpat pada keadaan dan kedua kekasihku itu. Sekali mengumpat, berkali-kali mereka datang secara bergantian. Annelies menampakkan dirinya seperti Noni Belanda yang misterius. Sedangkan Bu Kusir mewujud demit kearifan lokal bernama pocong tanpa mata merah seperti Mumun.

Itulah yang kutakutkan. Ketika banyak bucinis yang dikecewakan, akan melahirkan banyak kecoak demit yang berkeliaran. Kan mengerikan kalau sampai mereka berkumpul di seluruh bioskop di Indonesia setelah menonton film “Bumi Manusia”, dan di Monas lalu serentak berteriak, “Bucin bersatu tak bisa kesurupan! Dasar setan!”

Nah, para militan cinta yang sedang menyiapkan amunisi untuk 15 Agustus 2019 dengan semangat 17 Agustus 1945, dan para puritan kisah Bumi Manusia yang sedang menyiapkan banyak teori, bersatulah! Karena sejatinya, kita adalah budak diri kita sendiri. Supaya besok setelah pintu bioskop dibuka, kita akan dipertemukan kembali dengan Annelies dan Iqbaal dengan kondisi yang baik, aman, dan menenteramkan. Apa pun yang terjadi setelah film selesai diputar, setelah ucapan terima kasih dari operator otomatis bioskop selesai, tidak akan terjadi perang antarkelompok pembela kekasih imajinernya masing-masing. Mari bersama-sama mengikhlaskan kekasih yang telah mendahului kita. Agar para demit yang pernah kita cintai sukses melalui proses reinkarnasinya, untuk kemudian bisa berjumpa lagi dengan kita, meski di akhirat nanti.

Nizar Ibrahim Hartono

Lahir di Karanganyar, 28 Januari 1995. Sedang menempuh penerbitan pertama buku kumpulan cerpen.
Nizar Ibrahim Hartono

Latest posts by Nizar Ibrahim Hartono (see all)