“Soerat Tjerita” dan Novel
Pada awal Abad XXI, aku keranjingan membeli buku-buku lawas. Buku demi buku dibeli untuk masuk rumah. Sekian buku sanggup dibaca […]
Pada awal Abad XXI, aku keranjingan membeli buku-buku lawas. Buku demi buku dibeli untuk masuk rumah. Sekian buku sanggup dibaca […]
Usman, seorang bujang lapuk yang kerjanya menjadi penjual cendol, disuruh ibunya supaya cepat menikah. Namun, niat saja belum cukup tanpa […]
Serat Centhini menjadi sastra Jawa klasik yang kembali banyak ditelaah sebagai sastra kuliner, bersamaan dengan perkembangan pesat sastra kuliner Indonesia […]
Saya masih ingat potongan adegan di bagian akhir film “47 Ronin” yang saya tonton beberapa waktu lalu. Saya juga ingat […]
Keberadaan Balai Pustaka—berdiri tahun 1908 dengan nama Commissie voor de Volkslectuur (Komisi Bacaan Rakyat)—kerap dianggap sebagai lembaga yang bertanggung jawab […]
Seperti detektif yang sedang berpikir keras memecahkan sebuah kasus, kami—dua orang pemuda kolot—berdiskusi. Mengapa detektif jadi perumpamaan untuk kami? Jawabannya, […]
Karya sastra dinikmati bukan hanya sebagai bacaan pelipur lara, karena terkadang justru menambah lara. Tidak benar juga jika karya sastra […]
/1/ Sejarah sastra di Indonesia mustahil dilepaskan dari perubahan besar media, setidaknya, sejak akhir abad ke-19: dari sastra-budaya berbasis kelisanan […]