Dia Bertanya tentang Surga

movingthesoulwithcolor.com

 

Seorang teman bertanya tentang surga yang menurutnya membuat semua pemeluk agama ribut memperebutkannya. Saya bilang tidak tahu karena belum pernah ke sana.

“Pemeluk agama apa yang bakal jadi penghuni surga?”

“Saya tak bisa memastikan pemeluk agama apa saja yang bakal menghuni surga, sebab saya bukan pemilik surga.”

“Tapi kenapa banyak orang dan pemeluk agama mengklaim dirinya dan pemeluk agamanya yang bakal masuk surga, yang lain dibilang akan masuk neraka?”

“Mereka yang mengatakan, kenapa tanya ke saya?”

“Sebab kamu sarjana agama, pasti tahu jawabannya.”

“Sudah dijelaskan di dalam kitab suci. Silakan baca.”

“Saya sudah baca, tapi malah bingung, sebab kitab suci masing-masing agama berbeda. Semua menjamin umatnya bakal masuk surga. Maksud saya, orang macam apa yang bisa masuk surga?”

Maka saya bercerita tentang orang Madura penjual sate. Setiap hari keliling kota menjajakan dagangannya sambil berseru: “Sate… sate…!” Banyak pelanggannya, karena satenya lezat dan bikin marem. Dari hasil jualan sate dia bisa membeli tanah dan membangun rumah cukup mewah di kampungnya. Hingga suatu saat beredar kabar bahwa sate yang dijual orang itu adalah daging ayam mati. Banyak pelanggan berhenti membeli, tapi dia tetap sabar menjual sate keliling kota seperti biasa.

Pada suatu hari penjual sate itu dihadang sekelompok orang berpakaian yang mengesankan sebagai orang taat beribadah. “Hai, apa betul kamu menjual sate ayam mati?” tanya mereka.

Penjual sate jujur bilang dirinya memang menjual sate ayam mati.

“Berani sekali kamu menjual sate ayam mati di sini?”

“Kalau ayam hidup disate kasihan, Pak. Pasti keok-keok!”

“Maksudnya, tak boleh menjual sate bangkai!”

“Betul, Pak. Bangkai atau mayat atau jenazah harus dikubur, tidak boleh disate,” jawab penjual sate.

“Jadi, ini bukan sate bangkai ayam?”

“Bukan, Pak. Saya sendiri yang nyembelih ayamnya.”

“Apa nyembelihnya pakai bismillah?”

“Tidak, Pak.”

“Aduh, payah kamu. Berarti satemu ini haram!”

“Apanya yang haram? Insya Allah sate saya halal. Saya ini orang asli Madura, Pak!”

“Biarpun orang asli Madura, tapi kamu nyembelihnya tidak pake bismillah, itu haram!”

“Kalau nyembelih ayam pakai bismillah tidak bisa mati, Pak. Nyembelihnya pakai pisau.”

“Maksudnya membaca bismillah apa tidak?”

“Aduh, Pak. Saya ini orang asli Madura. Kami selalu membaca bismillah setiap hendak melakukan sesuatu. Sampeyan saya kasih tahu ya, orang Madura itu sebelum lahir sudah membaca bismillah.”

“Benar? Berani sumpah sate ini benar-benar halal?”

“Tak usah pakai sumpah-sumpahan, Pak. Kalau mau beli silakan, tidak juga tak apa-apa. Saya jualan sate mencari nafkah yang halal untuk keluarga. Saya bukan calon pegawai negeri atau calon pejabat yang mau dilantik, harus sumpah segala, tapi akhirnya banyak yang melanggar sumpahnya juga.”

“Baiklah, saya beli dua porsi sate ayam!”

“Matang apa mentah, Pak?”

“Tentu saja mateng. Buat apa sate mentah?”

“Ya siapa tahu sampeyan suka daging mentah,” canda penjual sate, membuat orang itu marah dan membatalkan pesanannya. Penjual sata hanya senyum-senyum sambil beranjak mendorong gerobaknya melanjutkan menjajakan satenya keliling kota.

“Terus, apa hubungan cerita itu dengan surga atau neraka?” tanya teman tadi.

Kemudian saya kisahkan lagi. Ada orang tersohor, yang dikenal jujur dan bersih, meninggal. Dia mendapat banyak karangan bunga, ribuan pelayat datang dan ikut mengantar ke pemakaman, berharap agar almarhum senang dan bisa istirahat dengan tenang di alam keabadian yang indah, surga. Sesampai di alam sana, arwah orang yang terkenal dan dicitrakan jujur dan bersih hingga dipuji dan dielu-elukan para pengagumnya tersebut, kebingungan tak tahu jalan ke surga. Tiba-tiba muncul arwah orang terkenal juga melintas di depannya.

“Bung mau ke mana?” tanya arwah orang yang terkenal jujur dan bersih tersebut.

“Mau memenui Tuhan.”

“Ada perlu apa?”

“Saya diundang menghadap.”

“Apa kamu tahu jalan ke sana?”

“Orang yang dapat undangan tentu diberi tahu jalan dan alamatnya.”

“Oh, pasti kamu dipanggil untuk dicemplungkan ke neraka. Sebab, sewaktu hidup kamu dikenal sebagai orang jahat yang ambisius, kejam, dan tidak toleran, banyak orang yang tak suka dan berharap kamu masuk neraka.”

“Tidak masalah masuk neraka atau surga. Saya pasrah kepada-Nya. Bagi saya bisa memenuhi undangan bertemu dan bersama-Nya sudah sangat bahagia,” jawab orang yang sewaktu hidup dicitrakan jahat, kejam, ambisius, dan licik oleh banyak orang di negerinya itu. “Anda sendiri mengapa di sini?”

“Saya sedang menunggu Tuhan yang akan menjemput saya. Kata para pengagum saya, karena saya terkenal jujur dan bersih, maka Tuhan sendiri yang akan menjemput saya diajak ke surga. Bukan saya yang harus repot-repot menemui-Nya!” jawabnya.

“Oh, kalau begitu selamat menunggu Tuhan. Semoga Dia segera menjemputmu diajak ke surga atau jalan-jalan ke mana suka. Selamat. Sukses!” kata orang yang tersohor jahat itu, kemudian berlalu.

“Ceritamu mbulet, tak nyambung sama sekali. Tapi, bagaimana sebenarnya rasa surga dan neraka, sehingga orang-orang sering meributkannya?”

Maka, saya bercerita lagi. Kali ini tentang penjual es lilin. Saben hari keliling desa. Banyak anak-anak yang membeli, mengerumuni pedagang es ililin itu sambil membawa uang recehan. Mereka pilih es lilin beragam rasa sesuai selera masing-masing.

“Aduuh, esnya panas!” kata seorang anak.

“Bukan panas, tapi dingin,” kata yang lain.

“Dingin banget, jadi kayak panas,” kata anak yang lebih besar.

“Ya, dingin-dingin panas,”  kata yang lain lagi.

“Ya, panas-panas-dingin” sambung yang lain lagi.

Anak-anak itu menikmati es lilin dingin-panas dengan riang sambil sesekali bertukar mencicipi rasa es lilin temannya masing-masing. “Mungkin rasa surga dan neraka itu seperti rasa es lilin tersebut,” kata saya.

”Ah, ceritamu semakin ngelantur, jawablah lebih konkret!” protes teman itu.

Maka saya pun bercerita tentang tidur. Konon tidur adalah kematian sesaat. Ketika tidur saya tidak sadar dan tak tahu apa pun, kadang bermimpi buruk mengerikan, mungkin seperti itulah neraka. Kadang juga mimpi indah, mungkin seperti itulah surga. Ketika terjaga, saya menemukan diri kembali seperti hidup dari kematian, kemudian saya melakukan aktivitas seperti orang hidup lainnya. “Sebenarnya kita ini benar-benar hidup atau seolah-olah hidup? Sekarang ini kita berada di alam nyata atau kenyataan alam?”

Teman tersebut bilang, “Sebenarnya saya sedang berhadapan dengan orang bingung, majenun bahlul yang membuat saya semakin tak faham dan ikut jadi bahlul mejenun.”

“Sudah dibilang dari awal, saya tak tahu soal surga dan neraka. Sudah tahu saya bahlul-majenun, tapi kamu ngotot nanya juga. Beginilah jadinya. Tapi, omong-omong, bagaimana bisa memahami surga dan neraka kalau memahami hidup saja tidak bisa?” kata saya, hinggga teman itu tidak lagi bertanya.

Denpasar, 2017 – 2020

Nuryana Asmaudi SA
Latest posts by Nuryana Asmaudi SA (see all)

Comments

  1. Sisi Reply

    Gila, keren ceritanya, jokesnya wkwk

  2. Ndear// Reply

    Kwocakk receh tapi faedah wkwkkk

  3. aziz Reply

    manttaaaaaaappppp….
    gimana caranya kirim cerpen ke basabasi bang? pakai file pdf ya?

  4. Aliya Reply

    Keren banget ceritanya

    • Anisa Trisari Reply

      Kirim cerpen ke basa-basi pake format apa? Pdf, dokumen, atau RTF?

  5. Safina akuba Reply

    Masya Allah memang keindahan surga tidak bisa kita bayangkan bagaimana indahnya

    • Cana Nurul Aini Reply

      Ahahaha… Maasyaa Allah… Ngekeh yg bermanfaat. Ahahaha… Mantap, maas

  6. Hanny Reply

    Keren Pak, masyaAllah

  7. zeytz Reply

    Hahahah candaan ‘ayam mati’ ala Madura itu emg nyata sekali. Berkali2 bapak ibu saya ngelawak ttg itu masih ttep bkin ngakak. Anw, cerpennya asik kang!

    • Nita Herawati Reply

      Haha ngakak bagus Pak

  8. hubiko Reply

    menarik ceritanya pak nuryana…:P

  9. rumbai Reply

    bahlul mejenun itu apaan?

  10. Intan Reply

    Waaahhhh bagus sekaliii. Sambil senyum senyum dan ketawa bacanyaa. Sukses selalu Paakkk!!!

Leave a Reply

Your email address will not be published.