Hamil Berpuluh Tahun

Seorang perempuan sudah hamil selama dua tahun. Suaminya berkali-kali memaksanya supaya pergi ke dokter. Namun perempuan itu menolak. “Aku baik-baik saja,” kata si perempuan.

“Kau tidak baik-baik saja,” kata si suami. “Kau seharusnya sudah melahirkan lebih dari setahun lalu.”

Namun si perempuan terus mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja. Dan bagaimana pun, ia tidak mau pergi ke dokter.

Pada tahun ketiga, suaminya sudah tidak tahan lagi. Pada suatu hari, suaminya pergi ke dokter seorang diri dan menceritakan apa yang terjadi dengan istrinya kepada si dokter.

“Kau yakin istrimu hamil?” dokter bertanya. “Maksudku, itu sama sekali tidak lazim. Seseorang yang hamil sampai tiga tahun, maksudku.”

“Itu yang saya takutkan,” kata si suami. “Mungkin saja janin dalam rahimnya mati dan membusuk. Atau mungkin menjadi batu.”

“Atau kanker,” potong dokter.

“Atau kanker,” si suami mengangguk.

Si suami kemudian membawa si dokter ke rumah mereka. Dan si dokter berpura-pura menjadi kawan lama si suami–seorang peternak ayam buras–yang datang berkunjung. Sebab, bagaimana pun, jika si istri mengetahui bahwa seorang dokter datang ke rumahnya, ia pasti akan mengusir dokter tersebut.

Si istri menyambut si dokter dengan ramah. Dan bertanya macam-macam hal yang umum, semisal di mana si dokter–dalam hal ini si peternak ayam buras–mengenal si suami, seberapa akrab mereka, apa kesibukan lelaki tersebut akhir-akhir ini selain merawat ratusan ekor ayam buras, dan mengapa sebelum hari itu si suami tidak pernah mengenalkan mereka.

Si dokter yang sudah mendapat beberapa arahan dari si suami menjawab semua pertanyaan si perempuan dengan baik tanpa menimbulkan kecurigaan. Dan si dokter, dengan cerdik, menyelipkan pertanyaan-pertanyaan mengenai kehamilan si perempuan.

“Aku baik-baik saja,” kata si perempuan. “Apa salahnya seorang perempuan hamil selama bertahun-tahun?”

Ketika mengantar si dokter pulang, si suami bertanya bagaimana menurut si dokter kondisi si perempuan.

“Ia terlihat sangat baik,” kata si dokter. “Tapi aku tidak bisa menyimpulkan apa-apa sebelum kita melakukan pengecekan menyeluruh. Dan untuk itu, ia harus dibawa ke tempat praktikku.”

“Tapi itu tidak mungkin,” si suami menggeleng.

Dan si dokter mengulurkan sebuah bungkusan kepada si suami. “Obat bius,” kata si dokter. “Berikan ini ke minumannya dan ia akan segera tertidur seperti pingsan. Kau bisa membawanya ke tempatku.”

Dan itulah yang kemudian dilakukan si suami.

Si dokter hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat hasil pemeriksaan menyeluruh si perempuan.

“Bayinya tumbuh,” kata si dokter kepada si suami. “Tumbuh dengan sangat sehat. Dan sekarang, kau harus mempercayai ini, si bayi sudah berusia dua tahun. Maksudku, sama kondisinya dengan bayi berumur dua tahun.”

“Apa maksudnya?” si suami tak mengerti.

“Si bayi,” kata si dokter, “sudah bisa berjalan dan mengucapkan kata-kata.”

“Itu tidak mungkin,” si suami berseru.

“Tapi memang itulah yang terjadi.”

“Saya tidak pernah mendengar bayi itu bicara,” kata si suami.

“Kau harus lebih saksama mendengar,” kata si dokter.

Lantas, sebelum si perempuan sembuh dari efek obat bius, si suami membawanya pulang. Beberapa saat kemudian, si perempuan terbangun dengan kepala sedikit pening. “Apa yang terjadi kepadaku?” si perempuan bertanya.

“Kau kecapekan,” si suami menjawab. “Karena itu kau tidur seperti pingsan. Mungkin itu efek kehamilanmu.”

“Ya,” kata si perempuan sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Mungkin ini efek kehamilanku.”

Si suami yang berusaha menjalankan saran si dokter kini jadi berusaha lebih sering dekat-dekat dengan si perempuan. Ia menempelkan kupingnya di perut si perempuan yang sudah sangat besar, dan mendengar suara papa papa dari dalam perut tersebut. Si suami juga mendengar langkah kaki dari dalam perut tersebut, suara ceria anak yang bermain, dan lain sebagainya.

Si suami juga jadi lebih sering memperhatikan si perempuan. Dan si suami baru menyadari jika pada waktu-waktu tertentu, si perempuan berbicara dengan bayi dalam rahimnya. Si perempuan mengajari kosa kata baru. Si perempuan membaca sebuah buku dongeng. Si perempuan menonton film kartun dengan perut membusung seolah-olah bayi dalam perut itu sedang menonton film tersebut, dan lain sebagainya.

“Bayi itu tumbuh,” kata si suami pada akhirnya kepada si perempuan.

Dan si perempuan menatap si suami dalam-dalam. “Tentu saja dia tumbuh,” kata si perempuan. “Tumbuh dengan sangat sehat. Itu sebabnya perutku terus membesar selama ini.”

Dan setelah diam beberapa saat, si perempuan kembali bertanya, “Bagaimana selama ini kau bisa tidak menyadarinya?”

Si suami hanya menggeleng.

***

Fakta bahwa si bayi tumbuh sehat dan normal meskipun sedikit tak wajar dalam rahim si perempuan justru membuat si suami bertambah cemas. Ia membayangkan suatu hari, ketika si bayi sudah tumbuh semakin besar, rahim si perempuan akan meledak dan bayi itu terlempar dalam kondisi bersimbah darah.

“Kita harus mengeluarkannya,” kata si suami. “Kita harus pergi ke dokter.”

Si perempuan menggeleng. “Aku tidak mau,” kata si perempuan.

“Dokter bisa mengoperasi dan mengeluarkan bayi itu,” kata si suami.

“Tidak perlu operasi untuk mengeluarkan anak ini,” kata si perempuan. “Aku bisa saja melahirkannya sekarang, maksudku, mengeluarkannya sekarang. Tapi aku memang tidak mau. Aku sengaja menyimpan anak kita dalam rahimku.”

“Kenapa?” si suami tercengang.

“Karena aku ingin selalu melindunginya,” kata si perempuan. “Dan tak ada tempat paling aman bagi seorang anak selain di rahim ibunya.”

Si suami mengira istrinya sudah sinting. Dan itu menyebabkan mereka bertengkar hebat.

“Bagaimana pun, aku akan membawamu ke dokter,” kata si suami. “Bahkan jika itu berarti aku harus membiusmu.”

Si perempuan melotot. “Jangan sekali-kali kau melakukan itu.”

“Aku sudah pernah melakukannya,” kata si suami. “Kau ingat sewaktu kau tidur seperti pingsan? Kau tidak tahu dan tidak menyadarinya. Dan aku akan mengulanginya sekali lagi.”

Si perempuan menjerit. “Kau jahat,” lengking si perempuan. “Aku tidak mau melihatmu lagi.”

Itu sepertinya keputusan yang terbaik. Di satu sisi, si perempuan bersikeras dengan keputusannya untuk tidak mengeluarkan si anak dari dalam rahimnya. Dan di sisi lain, si suami sudah tidak tahan dengan kegilaan si perempuan. Mereka pada akhirnya pergi ke KUA, menyampaikan keinginan berpisah, dan hakim KUA tidak bisa memahami alasan perpisahan tersebut serta menyebut jika hal itu benar-benar tidak masuk akal. Namun, pada akhirnya, hakim mengetuk palu dan mengesahkan perceraian itu setelah si suami memberi si hakim setumpuk uang dalam amplop.

“Aku tidak akan menemuimu lagi,” kata si suami.

“Itu memang yang terbaik,” kata si perempuan. “Demi anakku, aku akan melakukan apa pun, termasuk berpisah denganmu.”

Bertahun-tahun berlalu semenjak saat itu. Orang-orang, bagaimana pun, sudah terbiasa melihat si perempuan berjalan ke mana-mana dengan perut yang semakin besar. Tumbuh semakin besar dan semakin besar. Mereka juga mengerti jika dalam perut si perempuan ada seorang anak yang tumbuh, meski seperti si suami–kini mantan suami–mereka tak pernah memahami bagaimana hal seperti itu bisa terjadi.

Si anak, sesungguhnya, adalah anak yang cerdas. Pada usia sepuluh tahun, si anak dalam rahim itu sudah mengerti banyak hal yang ia dengar dari ibunya–lagi pula, perempuan itu kian sering membacakan aneka macam buku untuk si anak. Pada usia lima belas, si anak sangat mahir Bahasa Inggris. Para tetangga sering datang dan meminta tolong si anak membantu pekerjaan rumah anak-anak mereka. Para tetangga itu akan duduk di depan si perempuan, membacakan soal tepat di depan perut menggelembung si perempuan, dan dari dalam perut itu, si anak akan menyampaikan jawaban-jawabannya.

“Kau seharusnya membawa anakmu ke sekolah,” kata salah satu tetangga pada suatu hari. “Anakmu pasti akan selalu jadi juara kelas.”

Si perempuan menggeleng. “Anak-anak sekarang,” kata si perempuan, “tingkahnya aneh-aneh. Aku lihat di media sosial banyak sekali kasus perundungan. Aku tidak bisa membiarkan anakku menjadi korban perundungan. Lagi pula, jika aku mengirim anakku ke sekolah, itu berarti aku harus ikut ke sekolah. Lebih baik, aku mengajarinya sendiri seperti yang selama ini aku lakukan.”

Dan si tetangga mengangguk. “Ya, itu masuk akal.”

***

Ketika si anak berusia dua puluh tahun, perut si perempuan sudah membengkak sebesar sekarung beras seratus kilo. Si perempuan kesulitan berjalan, kesulitan ke kamar mandi, kesulitan memasak, dan seterusnya.

Beberapa tetangga datang dan menyarankan agar si perempuan melahirkan saja anak itu. Namun si perempuan menggeleng.

“Aku akan tetap menjaganya,” kata si perempuan.

Pada suatu hari, ketika si anak sudah berusia dua puluh empat tahun, si perempuan benar-benar tak bisa melakukan apa-apa. Ukuran perutnya tidak memungkinkannya lagi bahkan untuk sekadar bergeser dari tempat tidurnya.

Si perempuan hanya bisa berbaring sambil menatap langit-langit kamar. Begitulah berhari-hari. Dan pada suatu hari, si perempuan meninggal.

Tepat ketika si perempuan meninggal, si anak keluar dari rahim si perempuan dengan jalan merobek kulit dan daging perut si perempuan. Si anak, telanjang dan belepotan darah, tertatih-tatih berjalan, lantas duduk di pinggir tempat tidur menatap mayat si perempuan.

Si anak tahu ibunya telah meninggal. Dan secara teori, berdasarkan ajaran si perempuan, si anak menyadari bahwa ia mesti menguburkan ibunya, hanya saja ia benar-benar gagap melakukannya.

Si anak bermaksud keluar dari rumah dan meminta bantuan dari para tetangga. Itu hal yang sangat mudah. Ia pintar berkata-kata. Namun, ketika kini ia harus mengerjakan semua itu sendiri di dunia luar, di dunia yang bukan rahim si perempuan, si anak merasa kebingungan dengan apa yang pertama kali mesti ia kerjakan.

Maka si anak hanya bisa diam.

Si anak diam. Diam dan terus diam. Dan berhari-hari berlalu semenjak saat itu.

***

Si anak lapar. Dan secara teori, ia tahu ia harus makan. Ia tahu untuk makan ia harus menyiapkan makanan. Ia mengerti teori-teori dasar semacam itu karena selama ini si perempuan selalu mengerjakan segala sesuatu sambil mengucapkan apa yang tengah dikerjakannya agar si anak di dalam rahim bisa mendengar dan mengetahui. Si anak memutuskan untuk memasak, seperti yang kerap dikerjakan ibunya. Si anak memandang sekeliling dan tiba-tiba menyadari bahwa ia, sesungguhnya, tak tahu apa-apa tentang memasak selain teori-teori untuk itu.

Si anak bermaksud membeli makanan, satu hal yang ia dengar sesekali dilakukan ibunya jika perempuan sedang malas memasak. Dan untuk itu ia tahu ia perlu uang. Dan ia tahu di mana si perempuan menyimpan uang. Namun, kini, ia benar-benar kebingungan ketika mesti melakukannya sendiri.

Dan satu-satunya yang bisa dikerjakan oleh si anak adalah duduk dan menangis dan menahan lapar yang terus menyerang.

Lantas hari berganti. Dan si anak masih telanjang, masih belepotan darah, masih dan terus bertambah kelaparan.

Si anak menatap jenazah ibunya yang perlahan membusuk dengan nanar.

“Kau seharusnya mengajariku cara bertahan hidup,” isak si anak, “melindungiku dengan cara membiarkanku merasakan kerasnya dunia.”

Dan perlahan-lahan, si anak berbaring, bersiap menyambut maut di samping jenazah si perempuan.

Dadang Ari Murtono
Latest posts by Dadang Ari Murtono (see all)

Comments

  1. Zuinal Aini Reply

    Wah keren, dalam makna.

  2. Rodliyah Reply

    Cerpen yang unik. Maknanya sangat dalam soal bagaimana seharusnya orang tua/ibu mengasuh anak. Alih-alih melindungi dari kerasnya dunia, ia tak membiarkan si anak belajar bertahan hidup.
    It’s great!

  3. Zee Hermanto Reply

    Terkaget-kaget

  4. Rosyidina A Reply

    Idenya bener2 unik, eksekusinya juga keren. Salut sama kakak penulis 👏

  5. Syachrizal Reply

    Mantab sekali

  6. Dahri D,. Reply

    Sialan, wokwokwo

  7. Syaza Quella Reply

    Kalau dibayangin secara nyatanya anak itu ukuran tubuhnya gak mungkin normal seperti manusia lainnya. Hikmahnya dapet pas di akhir cerita, great kak:)

  8. Hotma D.L. Tobing Reply

    Bagus juga cerpennya.

  9. dehall Reply

    KEREN BANGET

  10. Dom Reply

    Cerita memang tak butuh logika.

  11. nochingu Reply

    maknanya dalem banget

    • Dea Marvina Reply

      MaasyaAllah saya kagum dgn ide penulis, kereen. Semoga saya juga mendapatkan ide- ide kreatif seperti Anda.

    • Ida Idut Reply

      Keren bed ceritanyaaaaa

  12. Uyuk Reply

    Sebagai ibu, aku menangis. Aku takut salah mendidik anakku.

  13. Joseselvian Telaumbanua Reply

    Keren banget ceritanya, dengan makna yang sangat dalam

    • hilda Reply

      Suka sekali dengan ide ceritanya. Orang tua terkadang lupa bahwa anak perlu beradaptasi dengan dunia luar agar dapat bertahan hidup menghadapi keradnya dunia

  14. Hans Reply

    sinting

  15. Rumpun Reply

    Ceritanya keren banget🥺

  16. deetasa Reply

    ide cerita yang takkan terpikirkan oleh siapapun. keren

  17. luna Reply

    Bagus bangettt huhuu

  18. Dieni Reply

    Inspiratif sekali 🙂 menyala abangku

Leave a Reply to Uyuk Cancel Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!