Iblis Putih

photoslaves.com

 

Bagaimana definisi kematian yang paling indah? Ketika kau berhasil membunuh seseorang yang paling suci di bumi ini. Akhirnya aku menemukan jawaban ketika umurku telah mencium bau kubur.

Setelah menemukan jawaban itu, aku menyiapkan bekal perjalanan dan pergi ke negeri jauh, tempat orang suci itu bertapa, menerima segala berkat kebijakan langit dan bumi.

Aku harus membunuhnya sebab ia sudah meresahkan kami dengan ajarannya, yang disampaikan oleh para pengikutnya. Ia mengatakan bahwa agama kami berasal dari dunia bawah sedangkan ajarannya adalah sebuah kebenaran yang tak terbantahkan.

Aku bertempur sengit dengan diriku.

“Apakah seorang nabi pantas dibunuh?” aku melontarkan pertanyaan, tidak menghentikan langkahku yang sudah memasuki hutan tanpa jejak. Hutan terasa begitu intim dengan kesunyiaan.

“Iya. Ia pantas dibunuh.”

“Sesekali janganlah membunuh hamba-Nya, sebab ular akan mematukmu manakala kau berada di neraka jahanam. Burung foniks akan mematuk matamu.”

“Tidak ada ular atau binatang apa pun yang membinasakanmu. Sebab perbuatanmu turut membantu anak-anak yang terbuang. Kau akan diberikan bidadari-bidadari dan malaikat-malaikat yang cantik dan mereka akan menyediakan payudaranya untuk kausesap hingga dahagamu tuntas.”

“Ada kebahagiaan di tempat yang penuh dengan bara api itu?”

“Tidak ada bara atau hal-hal yang membuatmu terluka. Kau akan dilayani oleh bidadari-bidadari cantik.”

Setelah melewati pergulatan itu, aku menembusi hutan belantara. Inilah hutan yang sering kami ceritakan—hutan yang dihuni para iblis. Seekor binatang boleh jadi jelmaan dari iblis.

Seekor ular putih bergelayutan pada sebatang pohon tempat aku istirahat. Ia mendesis-desis, menjulurkan lidahnya ke arahku. Ia menembakkan tatapan yang penuh amarah.

“Aku telah mencium gelagat pembunuhanmu,” ular itu mendesis.

“Lantas, apa urusanmu? Bukankah bangsamu pun menginginkan kebinasaan di  muka bumi?”

“Siapa bilang?”

“Jika semua iblis di dunia ini menjalankan tugasnya, tak ada seorang pun beralih ke jalan kebenaran. Ada di antara kalian iblis yang berhati mulia.”

“Ha-ha-ha. Iblis tetap iblis. Iblis tidak akan menjadi seorang malaikat.”

Ular putih bergeming. Ia masih terus memandang aku saat mulai meninggalkan pohon itu.

Dari kejauhan aku masih mendengar suara desisnya, “Tangan-tangan iblis telah terjulur ke bumi yang fana ini. Perempuan yang bermahkota kemegahan, yang dalam nas tertulis tentangnya, menginjak kepala naga lantaran hendak menelan anak yang ia lahirkan, kini tak lagi menggunakan kuasanya sebab semua telah ditarik darinya. Iblis-iblis akan mengepakkan sayapnya.”

“Akulah iblis yang kau maksud,” aku menyahut, jengkel.

Samar, aku masih mendengar suara tawa yang berat dan mengancam.

**

Aku akan menjadi tuhan, menjadi tuhan yang paling jahanam. Yang tidak mengenal belas kasih dan akan kubawakan kebinasaan kepada siapa pun yang kujumpai.

Menjelang sore, pada suatu hari, aku bertemu dengan dua orang yang mengaku murid dari nabi itu. Mereka lalu mengajari aku tentang bermurah hati dan berbelas kasih. Menghadiahiku dengan ceramah keagamaan yang membosankan. Aku muak.

Saat aku hendak berjalan terus, salah seorang berkata kepadaku, “Tinggallah bersama-sama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam1.”

Aku tinggal bersama mereka di tenda yang mereka dirikan. Mereka menjamuku dengan hidangan terbaik dari perbekalan yang mereka miliki.

Mereka masih terus bercerita tentang nabi yang mereka junjung itu.

“Apa kau tidak ingin kami menumpangkan tangan di kepalamu agar kau tahir dari segala aib dan perjalanan panjangmu selamat?”

“Aku tidak punya agama.”

Mereka menegakkan punggung, terkejut. Aku berkata lanjut, “Apalah pentingnya agama jika hati penuh dengan iri dengki? Apakah dengan agama membuat orang menjadi arogan?”

“Tidak,” salah seorang yang lebih tua menyela. “Semua agama mengajarkan cinta.”

Salah seorang dari antara mereka menjadi diam dan tampak seperti melindungi dirinya dengan ketenangan yang dijaganya. Ia lebih banyak memandangku dengan penuh selidik.

“Tapi mengapa ada saja yang menjarah atas nama agama, atau membunuh dengan dalil menjaga kesucian? Itukah agama yang kalian ajarkan?”

“Nabi kami mengajarkan tentang cinta damai. Cinta yang meluaskan jiwamu.”

Aku menjelajahi wajah mereka.

“Aku ingin membunuh nabi kalian?”

“Jangan sesekali kau mencoba membunuh seorang hamba yang langsung diutus dari langit.”

“Jika aku berhasil membunuh nabi kalian, apakah kalian akan menjadi muridku? Jika itu terlalu berat, sembahlah aku hanya sekali saja. Itu sudah lebih dari cukup.”

“Hanya kepada Tuhanlah patut kita sembah.”

Aku tertawa dan mereka hanya tersenyum mencibir. Malam itu kami mengakhiri begitu saja. Tanpa ada penyelesaian.

Keesokan harinya aku tidak menemukan mereka lagi. Mereka hanya meninggalkan pesan pada tanah dengan darah.

“Iblis tak akan pernah lebih kuat dari malaikat.”

Aku merasa hasratku lebih membara. Darahku seperti mendidih dan keinginan untuk membunuh nabi yang mereka junjung dan Tuhan makin kuat hingga membuat badan dan tanganku bergetar.

Aku tertawa. Terasa seperti berada pada suatu puncak, segalanya terasa lebih ringan dan sempurna. Sesaat setelah mengedipkan mata, dari arah langit yang cerah aku melihat bias cahaya kehijauan menukik ke arahku. Begitu bias itu menimpaku, aku melihat langit terbuka dan dari dalam langit yang terbuka itu aku mendengar suara nyaring, “Engkaulah anak yang kukasihi, kepadamu kuserahkan ia ke dalam tanganmu. Pergilah ke arah timur, kau akan menjumpai sebuah kota tua yang didatangi para peziarah. Di tengah kota itu terdapat sebuah tempat, seperti bangunan kubah. Ketika tetua itu keluar dari suatu tempat dan menghampiri daerah itu, langkahlah ke depan bersama para peziarah yang mendengar khotbahnya.

“Jangan terkejut karena ia akan menyambutmu. Ia tahu tujuanmu, karenanya, ia memeluk dan menyerahkan dirinya dalam pelukanmu dan memintamu membunuhnya saat itu juga.”

“Ia memilih menjadi martir dengan cara begitu?”

“Ha-ha-ha. Ia telah menjadi martir jauh sebelum kau ada.”

Hari-hari selanjutnya aku merasa seperti berada pada satu fase di mana segalanya terasa hambar. Aku seperti tidak lagi bergerak mengikuti lingkaran waktu. Seakan-akan aku menghadapi hari terakhir perjalanan panjangku.

Dalam keadaan demikian—dengan hasrat yang tersisa—aku menyeret langkahku lagi.

Aku tiba di kota tua itu. Aku langsung masuk melalui gerbang. Tak ada sesiapa, seperti tak ada kepastian. Kota itu tampak tua sekali dan kukira aku salah memasukinya.

Aku terus berjalan hingga sampai di tengah-tengah kota. Aku mendapati sebuah bangunan kubah dan tidak ada para peziarah, juga lelaki tua.

Aku kembali melihat langit terbuka, dari dalam langit itu tampaklah olehku berlaksa-laksa malaikat memegang pedang bermata dua dan menuding ke arahku.

Aku mendengar suara yang bergelegar, “Jiwamu sudah mati sejak dalam pikiranmu.”

Dari arah belakang aku mendengar suara angin bertiup kencang. Sesaat setelah itu aku mendengar mantra-mantra yang dikutip dari Kitab Suci dilafalkan dengan jelas. Aku melihat rohku yang paling laknat terpisah dari tubuhku.

Begitu rohku mulai meninggi, aku mendengar satu suara penuh wibawa, “Kau telah membunuh nabi itu sejak dalam pikiranmu. Dosa yang berasal dari pikiranmu lebih jahat daripada perbuatanmu.”

“Tugasku telah selesai,” rohku mendesis dan lengking suaraku memenuhi bumi. Namun, tak lama kemudian aku mendengar lagi satu suara berkata, “Sesungguhnya, tugasmu baru dimulai hari ini.”

Aku terkejut.

“Aku telah mati?” aku bertanya.

Mereka hanya tertawa.

“Sejak kapan aku mati?”

Mereka tidak menjawab.

“Siapa yang membunuhku? Doa-doa laknat kalian?”

Mereka belum juga menjawab.

“Aku belum mati?”

Malaikat bermata biru maju ke depan. “Mati dan hidupmu telah dicatat oleh Sang Empunya Pemegang Kehidupan.”

Lalu, malaikat itu menyerahkan sebuah kitab kepadaku. Saat memegang kitab itu, aku merasa tubuhku dipenuhi dengan kedengkian. Setelah membaca isinya—segala lelaku kejahatanku di masa lampau—aku tertawa nyaring. Terlebih catatan mereka tentang hal-hal keji yang dulu pernah terlintas dalam pikiranku.

“Seorang nabi pantas dibunuh,” aku berteriak.

Orang-orang yang banyaknya bagai pasir di laut dan bintang di langit menoleh ke arahku.

“Kau adalah nabi bagi dirimu sendiri,” salah seorang menyahut.

“Kau tidak pantas mendapat ganjaran,” seru mereka hampir bersamaan.

“Kau telah membunuh nabi itu sejak dalam pikiranmu.”

Aku belum sepenuhnya mencerna kalimat-kalimat yang keluar dari mulut mereka. Sebelum kutemukan jawaban, aku kemudian diarak bagai pengantin baru.

Aku semakin tidak mengerti.

Sungguh!

Waimana 1, Desember 2019

Catatan:

  1. Injil Lukas, 24: 29.
Jemmy Piran
Latest posts by Jemmy Piran (see all)

Comments

  1. yeanny Reply

    nice ever…

  2. Sekar Reply

    Saya suka krna Anda menyelipalkan satu catatan disitu

  3. ame Reply

    sungguh aku juga belum paham, tapi ini cerita penuh arti banget ><

  4. Anonymous Reply

    Saya suka ceritanya. Tapi enggak benar2 tahu apa kesimpulannya

  5. Anonymous Reply

    Terima kasih sudah berkenan membaca.

    Jemmy Piran

  6. Ariesta Reply

    Suka banget…

  7. ancell Reply

    keren abang.

    • Najla Rachman42 Reply

      Keren banget

  8. Ahmad Reply

    Keren

  9. Gui Reply

    Jadi posisinya dibalik ? Wkwkwk saulus yang diambil dari sisi kekinian kah ? Nice

Leave a Reply to Anonymous Cancel Reply

Your email address will not be published.