Ilusi Ke(tak)beruntungan

Beberapa hari sebelum Ramadan, dengan bangga, istri saya bercerita tentang keberhasilannya memenangkan tawar-menawar dengan penjual cempedak. “Mulanya dia kukuh 18 (ribu) tiga buah, tapi Bunda juga nggak mau kalah di harga 15,” kisahnya. “Ketika deadlock, Bunda putuskan meninggalkannya. Belum sampai hitungan kelima, dia sudah memanggil Bunda,” lanjutnya, dengan mata yang kian berbinar. “Lima belas dapat tiga!” pungkasnya, puas.

Saya pun “mengeksekusi” cempedak itu lima tak lama kemudian. “Belum matang, Bun,” kata saya sambil menunjukkan isi cempedak yang belum kuning penuh. Kekhawatiran saya terbukti, cempedak kedua dan ketiga malah putih dan tidak berasa!

Ingatan saya melayang pada sejumlah kejadian serupa, kejadian-kejadian yang saya sebut ilusi keberuntungan.

Pernah, ketika di bangku SMA dulu, saya tidak masuk sekolah karena sakit. Akibatnya saya tak bisa mengikuti ulangan kimia, padahal saya sudah belajar keras beberapa hari sebelumnya. Begitu masuk keesokan harinya, saya merasa sangat beruntung ketika melihat soal-soal yang keluar adalah bab-bab pelajaran yang belum saya kuasai. Malam harinya saya pun mempelajari bab-bab soal tersebut sehingga mengabaikan materi-materi yang lain. Keesokan harinya saya habis akal mendapati tak satu pun soal ulangan susulan berasal dari bab-bab yang saya hafal malam tadi.

Ketika kuliah, saya dan seorang teman selalu menyempatkan diri untuk membeli buah tiap tanggal muda. Biasanya kami akan membawa pulang, paling tidak sekilo pir, dari pasar. Suatu hari, kami dan para pembeli lainnya berebutan pir di kedai kaki lima yang menggantung kardus bertuliskan “2000 dapat 3” di tiang terpalnya. Kami membayar dengan wajah semringah raya sebelum sepuluh menit kemudian kami melewati penjual buah yang berteriak, “Pir murah! Satu lima ratus!”.

Maret lalu, ketika saya memboyong keluarga dalam residensi menulis saya di Turki, saya dan istri sempat menggerutu karena harus melewatkan kuliah tentang Mevlana Jalaluddin Rumi. Fasilitator kami dengan santai mengatakan bahwa kuliah tentang keramik Turki sudah menunggu kami di Karavansarai. “Kita tadi terlalu lama di Uludag,” katanya menyebut pegunungan salju di wilayah Byrampasa yang baru saja kami tinggalkan. “Kenapa baru sekarang Anda mengatakannya,” protes saya. Dan dengan santai laki-laki kelahiran Izmir itu menjawab bahwa orang Turki sangat menyayangi anak kecil. “Saya lihat putri kalian senang sekali main di sana. Saya tak tega. Apakah kalian tadi tak melihatnya?”

Saya dan istri bersipandang. Kami bagai mengutuk ketaksensitifan kami sebagai orangtua. Bagai hendak merobohkan pertahanan kami yang sudah goyang, Muimin, begitu fasilitator 40 tahun itu menyebut dirinya, menembak kami dengan kata-kata: “Kalau saya jadi kalian, saya rela seharian ini hanya untuk si kecil. Selama di Turki saya lihat dia stres tiap kali waktu makan tiba karena dia tak bisa makan menu gandum dan nasi basmati. Dan tadi … alangkah senangnya Su Maura. Sayang sekali, saya masih bujangan alias masih jauh dari punya anak.”

Kali ini, keberuntungan itu merupa dari ketakberuntungan. Kami sama-sama menoleh Maura. Putri kami yang masih 4 tahun itu terlelap di bangku private-bus kami. Ah, nelangsanya perasaan kami. Mevlana Museum? Sudah menjauh dari kepala kami.

Kita semua, tentu pernah berada dalam situasi di atas. Disadari atau tidak. Dipikirkan atau pun tidak sempat. Ilusi ke(tak)beruntungan adalah sebuah peringatan. Dalam The Art of Happiness, Khalil Khavari, menyebutnya sebagai consciousness meets remindness. Ilusi ke(tak)beruntungan adalah pertemuan adalah hasil bertemunya kesadaran dan teguran. Kita menyadari bahwa kebaikan bersama kita. Di saat yang berdekatan, kita pun diingatkan bahwa status kegembiraan, kebaikan, kelancaran, atau situasi-situasi yang sebangun dengan keberuntungan adalah sama dengan apa pun yang ada di dunia ini: fana dan dipergilirkan.

Bersyukur dan muhasabah adalah sikap terbaik untuk menyikapi kejutan-kejutan dalam kefanaan (baca: kehidupan), nasihat Said Hawwa dalam Tazkiatun Nafs.

Tapi, apa yang saya—dan juga Istri (atau bahkan juga Anda)—alami, sebenarnya jauh lebih baik, atau bahkan tidak ada apa-apanya, dibandingkan dengan ilusi keberuntungan yang menimpa—sekaligus dirasakan keluarga—Fagilyu Mukhametzyanov pada medio 2021.

Karena kekeliruan pemeriksaan medis, pria Rusia berumur 49 tahun yang divonis meninggal, ternyata masih hidup. Keluarganya mengucap syukur tak henti karena Mukhametzyanov terjaga ketika peti jenazahnya hendak ditutup. Tapi, sebagaimana durasi kemenangan-istri saya tadi, karena ketakutan menemukan dirinya akan dimakamkan hidup-hidup, Mukhametzyanov menderita serangan jantung dan benar-benar meninggal beberapa saat kemudian.(*)

Benny Arnas
Follow Me
Latest posts by Benny Arnas (see all)

Comments

  1. Echika Reply

    Bang Bennnnnnnn, nulis kok nggak pernah jelek!!

    Ini jleb banget!

    Singkat, asik, dan nendang!

    • halub Reply

      Makasih Bang, tulisan ini amat berarti, sehat selalu Abang dan keluarga

  2. Rahayu Reply

    Endingnya …
    Nendang!

  3. Awal Reply

    Mas Ben banget

  4. Andre Reply

    Dulu, kurun 2019–2021, tiap Rabu saya punya tungguan: Spasi Bang Benn di ruangsastra.com. Sedih sekali ketika pengujung 2021 Bang Benn rehat nulis di sana. Esai seperti yang dimuat Basabasi ini adalah khas beliau banget. Santai tapi selalu menghadiahi after-taste yang kuat buat pembaca, buat saya.

    Semoga Bang Benn sering-sering nulis esai di Hibernasi.

  5. Danang Tergalek Reply

    Hanya judul, semua keren banget.

    Apa Mas Ben ingin menjadi mujadid Mazhab dalam literasi.

    Ilusi Ke (tak)

    Banyak sekali judul-judul (melawan pakem) yang Anda tulis.

    SALUT

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!