Jejak Puisi pada Novel

/1/

PARA penyair yang tergerak melakukan pergeseran daya cipta dari menulis puisi ke dalam bentuk novel mutakhir, setidaknya ada tiga tokoh yang lazim diperbincangkan: Sapardi Djoko Damono, Joko Pinurbo, dan Goenawan Mohamad. Penyair Sapardi Djoko Damono melakukan proses penciptaan alih wahana puisinya sendiri, “Hujan Bulan Juni” ke dalam bentuk novel dengan judul sama. Joko Pinurbo melakukan proses penciptaan alih wahana puisi Sapardi Djoko Damono,  “Pada Suatu Pagi Hari” ke dalam novel berjudul Srimenanti (2019). Goenawan Mohamad mencipta novel Surti + Tiga Sawunggaling (2018) dengan konteks sosial politik wilayah tempat ia tumbuh dan berkembang, pesisir utara Jawa, pada masa perang kemerdekaan 1947.

Ketiga novel karya penyair ternama Indonesia itu tidak panjang, sekitar seratus halaman. Jejak puisi menandai ciri novel ketiganya. Sapardi Djoko Damono berobsesi pada suasana batin puisi “Hujan Bulan Juni”. Ia  kemudian membebaskan tipografi puisi ke dalam bentuk prosa, menciptakan diksi lugas, dan memerdekakan perkembangan tokoh, struktur narasi, dan kisah yang berbeda dari puisi hipogramnya. Begitu juga dengan Joko Pinurbo. Ia membebaskan tipografi puisi ke dalam bentuk prosa, menciptakan diksi prosa yang lugas, bahkan berupa parodi, dan membebaskan diri dari romanstisme puisi “Pada Suatu Pagi Hari” karya Sapardi Djoko Damono. Dalam  perkembangan tokoh, struktur narasi dan kisah yang dikembangkan Joko Pinurbo berbeda sama sekali dengan puisi yang menjadi hipogramnya. Goenawan Mohamad terikat dengan tipografi puisi dalan novelnya. Ia tak sepenuhnya membebaskan diri dari ikatan tipografi puisi untuk mengalirkan struktur narasi sebuah teks  prosa.

Pastilah ketiga penyair ini mencipta novel dengan kreativitas yang dikembangkan untuk menemukan ruang daya cipta yang memiliki ciri khasnya masing-masing. Mereka menemukan keunikan yang memperkaya khazanah sastra mutakhir.

 

/2/

Sapardi Djoko Damono lebih mengembangkan struktur narasi dengan obsesi pada dunia akademik yang sangat dekat dengan atmosfer kehidupannya. Ia mencipta novel dari sebuah konteks kehidupan yang sangat dekat dengan biografinya sebagai penyair dan dosen. Tokoh utama novelnya, Sarwono, seorang dosen, penyair, dan antropolog. Ia mencintai Pingkan dengan mempertaruhkan segala perbedaan latar suku, agama, dan kultur, yang membangkitkan konflik batin. Betapapun Sapardi Djoko Damono mencipta bermula dari puisi, ia menggugurkan dua hal: tipografi dan bahasa simbol. Ia meninggalkan tipografi puisi, dan sebagaimana seorang novelis, ia mencipta struktur narasi yang memenuhi konvensi, dengan tahap-tahap yang mencapai klimaks dan peleraian. Sebagaimana penulis novel pada umumnya, ia mempertaruhkan keutuhan kisah.

Pada penciptaan Joko Pinurbo, novel Srimenanti, tidak bertumpu pada struktur narasi. Ia bisa menunculkan serpihan-serpihan kisah, yang tak perlu dilacak kausalitas dan klimaksnya. Ia mencipta novel dengan mengembangkan bahasa satire yang terselubung kritik. Kemunculan tokoh hantu laki-laki tanpa celana dalam novel itu telah mencapai beberapa fungsi. Pertama, tokoh hantu laki-laki tanpa celana telah merangkai struktur narasi yang berupa serpihan-serpihan kisah. Kedua, hantu laki-laki tanpa celana menyingkap kekejian konteks politik Orba, latar kekuasaan yang kuyup dominasi—kekerasan demi tercapainya partisipasi rakyat. Ketiga, hantu laki-laki tanpa celana menjadi tokoh yang paling tepat bagi Joko Pinurbo untuk melancarkan satire, kritik yang terselubung humor.

Jejak puisi pada novel Goenawan Mohamad, Surti + Tiga Sawunggaling terdapat pada tipografi, ekspresi bahasa simbol, dan kekuatan imaji. Dari awal hingga akhir ia menjaga tipografi puisi dalam novelnya. Dari awal sampai akhir Goenawan Mohamad mengisahkan narasi dalam tipografi puisi. Begitu pula dengan diksi yang terpilih, betapapun mudah untuk dipahami, tetapi memiliki kekuatan simbol dan imajinasi—yang kadang bisa kita tafsir dari mitos. Tiga burung sawunggaling – yang lepas dari lukisan  dalam kain batik Surti – merupakan medium pengembaraan batin Surti untuk memahami (1) realitas kehidupan tokoh lain, (2) situasi batin tokoh lain, (3) nasib hidup tokoh lain, dan (4) konteks politik yang melingkupi tokoh. Kekuatan simbol burung sawunggaling dalam novel Goenawan Mohamad membangkitkan imajinasi pembaca dan memperkaya tafsir terhadap teks sebagai karya yang kompleks.

 

/3/

Jejak puisi pada novel Sapardi Djoko Damono lebih bertumpu pada suasana batin, dan perkembangan struktur narasi yang terus terikat pada suasana batin itu. Ia bisa leluasa mengembangkan karakterisasi, latar, konflik, dan bahasa sebagaimana lazimnya sebuah novel. Ia tidak terikat pada simbol-simbol dan tipografi yang biasa berpengaruh dalam ekspresi penyair.

Keterikatan novel Joko Pinurbo pada puisi menjadi lebih pekat lagi. Ia terikat sekali pada hipogram puisi “Pada Suatu Pagi Hari” karya Sapardi Djoko Damono, selain pada puisi-puisinya sendiri. Ia mengembangkan imajinasi dan karakter tokoh berdasarkan larik-larik puisi Sapardi Djoko Damono. Ia bahkan menghidupkan bahasa satire yang menjadi ciri khas ekspresi dalam puisi-puisinya—yang selalu berobsesi pada celana. Ia menghadirkan novel dengan kekuatan parodi. Ia masih mengembangkan suasana dan ruh spiritual yang mendasari penciptaan puisi-puisinya. Ia bahkan tak mengembangkan struktur narasi sebagaimana sebuah novel yang memerlukan perkembangan alur. Ia seperti menghasilkan serpihan-serpihan kisah, serupa mosaik, yang tak mengembangkan tahapan-tahapan alur serupa sebuah narasi.

Yang menarik justru novel Surti + Tiga Sawunggaling yang diciptakan Goenawan Mohamad. Novel ini masih terikat akan tipografi, simbol, dan mitos sebagaimana puisi-puisi Goenawan Mohamad. Akan tetapi, ia menghadirkan karakterisasi tokoh dan struktur narasi sebagaimana sebuah narasi fiksi yang konpleks, yang menghadirkan kekayaan tafsir.

/4/

Hujan Bulan Juni merupakan alih wahana yang memanfaatkan kepopuleran Sapardi Djoko Damono. Ia menawarkan teks yang menyentuh kesadaran literasi dan pergulatan kultural masyarakat Indonesia dengan multikultur. Puisi “Hujan Bulan Juni” menjadi pijakan suasana batin untuk mengembangkan novel yang menyentuh horizon pemahaman pembaca Indonesia.

Joko Pinurbo dengan novel Srimenanti juga memberi warna penciptaan novel dengan menghadirkan parodi, satire yang menggunakan diksi yang cair, dan dengan cara yang cerdik menyingkap kekerasan dominasi kekuasaan Orba, yang banyak menimbulkan korban, dengan memunculkan tokoh hantu tanpa celana.

Kehadiran  Surti + Tiga Sawunggaling menawarkan keunikan penciptaan novel, yang hadir dengan simbol, imaji, dan tipografi puisi, tetapi struktur narasi tetaplah menjadi pertaruhan Goenawan Mohamad. Dalam novelnya ini Goenawan Mohamad menghadirkan struktur narasi yang kaya tafsir, menjaga diksi yang menjadi pertaruhan daya ciptanya. Diksi yang diciptakannya tetaplah menampakkan karakter Goenawan Mohamad—dia tak menjadi pribadi yang lain.

Kehadiran ketiga novel karya para penyair ini memberikan warna yang memperkaya khazanah sastra Indonesia mutakhir. Dalam penulisan novel yang rata-rata pendek, mereka menawarkan ragam novel yang menawarkan struktur narasi, simbol, dan perkembangan karakter tokoh yang menandai keutuhan sebuah novel. Dalam kependekan novel yang mereka ciptakan, nilai-nilai, kontemplasi, dan pertaruhan imaji, tetap hadir secara sempurna. Mereka hadir dengan diri mereka sendiri. Mereka memberi warna keunikan penciptaan novel, yang masing-masing menggali konteks sosial-politik, tanpa harus menghadirkan ktitik banal.

Mereka menghadirkan konsep bahwa dunia terpecah antara dialogis sirkulasi spiritual, hegemoni style, dan ruang gelap sosial politik. Ketiga novel itu merealisasikan  sastra yang berpijak dari dunia kenyataan yang berbenturan dengan perubahan-perubahan konteks sosial pembaca, memasuki pergulatan kreatif yang besar membentuk pluralitas kanon sastra.

S. Prasetyo Utomo

Dosen Universitas PGRI Semarang, doktor Ilmu Pendidikan Bahasa Unnes.

Latest posts by S. Prasetyo Utomo (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.