Kenanganmu Itu, lho, Alfonso…; Ulasan Film Roma (2018)

Sutradara – Skenario: Alfonso Cuaron

Pemain: Yalitza Aparicio, Marina de Tavira, Fernando Grediaga, Jorge Antonio Guerrero

Ada dua kata kunci untuk bisa segera satu frekuensi dengan Roma: “kenangan” dan “personal”. Dua tema yang langsung mengingatkan saya pada gaya bertutur Wong Kar-wai (WKW) yang sama-sama auteur. Tidak bisa tidak, saya harus membandingkannya dengan, terutama, In the Mood for Love (2000) yang sama-sama kental menonjolkan kenangan. Meski begitu, jelas ada perbedaan mencolok di antara keduanya yang bisa mengarahkan saya dengan lekas untuk menilai Roma.

Setiap kita tentu punya kenangan, artinya kenangan-kenangan yang paling mencuat bila harus ditanya “Kenangan seperti apa yang paling berkesan sepanjang hidupmu?” Dengan tidak menafikan bahwa setiap kenangan Anda semua punya makna yang amat besar bagi masing-masing pribadi, tetapi tidak semua kenangan bisa diwujudkan dalam ekspresi seni, baik lewat, di antaranya, karya seni rupa, lagu, cerita, atau film. Pokok soalnya ialah cara kenangan disampaikan. Bagaimana kenanganmu yang bersemayam di benakmu bisa menarik orang lain untuk turut menikmati sesuai preferensi masing-masing, karena tentu saja ada emosi yang berlaku universal, misalnya rasa cinta; apalagi manusia kan dikaruniai empati.

In the Mood for Love berlatar Hong Kong, tetapi WKW tidak ambil pusing ketika harus syuting di Thailand. Yang penting, suasananya dapet, toh penonton juga langsung bisa menangkap bahwa ada yang “beda” pada film ini. Kisah perselingkuhan juga tidak berarti bahwa itu adalah kisah nyatanya WKW. Bukankah apa yang kita kenang tidak persis sama dengan apa yang sesungguhnya terjadi?

Berbeda dengan Roma. Cara Alfonso Cuaron menuangkan kenangannya ke dalam medium film bisa dikatakan mencapai taraf obsesif. Ia dengan sengaja merekonstruksi kondisi dan situasi semasa ia kanak-kanak. Konon, lokasi yang digunakan dalam syuting adalah tempat tinggal keluarga Cuaron dulunya. Perabotan dan pernak-pernik rumah diupayakan persis sama dengan yang diingat Cuaron. Demi kenanganmu itu, apakah harus sebegitunya, Alfonso?

Adegan di awal-awal film di garasi, ketika sang ayah berusaha memarkirkan mobil mengandung pesan blak-blakan tentang bagaimana selanjutnya film dikemas, sekaligus mengandung metafora. Dalam beberapa menit kita bisa tegang mengira-ngira apakah mobil akan tergores atau tidak, karena garasinya memang tidak terlalu besar. Itu mobil mentereng, yang mengilap dan terawat. Kamera menyoroti detail-detail dari jarak dekat aksi memarkir mobil, memperlihatkan hanya beberapa sentimeter saja jarak antara tembok dan bodi mobil, dan bannya yang melindas tahi anjing. Sepresisi dan selambat itulah Cuaron membesut Roma.

Ya, meskipun dinominasikan dalam sepuluh kategori dalam ajang Academy Awards ke-91 (2019)—termasuk yang mencengangkan adalah bahwasanya film hitam-putih ini dinominasikan sebagai Best Picture sekaligus… Best Foreign Language Film! (karena diproduksi secara mayoritas oleh Participant Media, dengan kata lain merupakan “film Hollywood”, tapi juga karena nyaris keseluruhannya berdialog bahasa Spanyol dan campuran Indian)—, Roma tetaplah “tidak untuk semua orang”. Lambat banget! Nyaris tanpa “aksi”, ia menggelinding begitu saja selama 130-an menit.

Seperti karya penyutradaraan Cuaron lainnya, Y tu Mama Tambien! (2001), Roma pun masih menampilkan isu kelas sebagai sudut pandang penceritaan, kali ini lebih diperkaya dengan isu ras dan kekerasan yang masih menyelimuti Meksiko, negara asal Cuaron. Saya membaca keberulangan tema tersebut sebagai sebuah upaya “penebusan rasa bersalah” (kelas [menengah]) sang sutradara. Inilah sisi personal Roma.

Kalau Anda mau tahu sedikit saja soal Meksiko kontemporer, ia termasuk negara yang bisa dikategorikan “hancur-hancuran”. Negeri ini dikoyak ketidakkompetenan pemerintahannya yang korup dan berkelindan dengan suburnya kekerasan yang diakibatkan kejahatan bersenjata, terutama yang berkaitan dengan narkoba. Cobalah menonton sejarah gelap Meksiko lewat serial Narcos musim ketiga yang juga tayang di Netflix (apaan! Tukang sedot pake torrent aja sok-sokan streaming, hehehe).

Keruwetan di Meksiko masa sekarang tidak terlepas dari kejadian di tahun 1970–1971 yang menjadi seting Roma, ketika negara main mata dengan model kapitalisme purba, yakni lewat perampasan tanah yang dilakukan secara sistematis dan brutal, salah satu episode kekerasannya adalah bentrokan para pendemo dengan polisi dan preman bayaran yang kemudian disebut sebagai Pembantaian Corpus Christi. Di tahun itu Cuaron masih belia. Ia termasuk generasi yang merasa “terlambat” untuk turut mengubah arah sejarah negerinya. Ada miripnya dengan beberapa generasi di Indonesia yang penasaran sekaligus berjarak dengan berbagai peristiwa kelam dalam beberapa periode NKRI (#uhuk).

Sebagai kanak-kanak, dunia Cuaron amatlah terbatas. Ia lebih memilih bercerita dari sudut pandang Cleo (diperankan dengan kepasifan yang enigmatik oleh Yalitza Aparicio yang ikut bersaing mendapatkan piala Oscar di kategori Aktris Terbaik), seorang pribumi Indian yang bekerja sebagai pembantu di sebuah rumah tangga kelas menengah. Sosok Cuaron diwakili oleh anak terbungsu dalam keluarga, anak yang paling dekat dengan Cleo.

Karena posisi rendah Cleo, dan posisi kelas keluarga itu, zeitgeist pergolakan yang sedang terjadi di sekitar mereka hanya sampai samar-samar lewat kabar-kabar tak tuntas media massa. Mereka lebih terbakar persoalan-persoalan pribadi. Sofia (diperankan Marina de Tavira yang dinominasikan dalam kategori Best Supporting Actress) sang nyonya rumah lebih mengkhawatirkan ditinggalkan oleh suaminya yang selingkuh, Cleo sendiri gundah karena dihamili pacarnya yang setelah pamit ke toilet bioskop raib tak berkabar.

Huh, Dasar Lelaki!

Disengaja atau tidak, Roma mengandung pesan feminisme. Boleh jadi, ini adalah respons Cuaron terhadap sifat phallic sejarah. Artinya, ketidakberesan sebuah masyarakat bisa dipandang sebagai keruwetan yang ditimbulkan ulah kaum lelaki. Suami Sofia, Dokter Antonio, adalah tipe seorang patriark yang menjadi tumpuan (terutama ekonomi) ibu, istri, dan anak-anaknya, tetapi tega meninggalkan mereka demi selingkuhannya. Ia amat membanggakan mobilnya yang meskipun ukurannya kurang cocok dengan luas garasi, ia tak peduli. Sudah tahu keluarga itu memelihara anjing, dan, meskipun ia marah-marah terus karenanya, adalah sebuah kepastian bahwa saban ia pulang roda mobilnya melindas tahi anjing yang bertebaran di garasi. Tidak pula ia punya solusi memecahkan masalah. Sekinclong apa pun mobil kebanggaannya, tetap saja ia melindas tahi. Penafsiran tentang kiasan itu saya serahkan kepada sidang pembaca yang tentu pada cerdas-cerdas.

Begitu pula pemuda Fermin, pacarnya Cleo. Bukannya menikahi, ia malah kabur dan lebih memilih menempa tubuh dengan berlatih ilmu kanuragan yang kelak berhubungan dengan tragedi yang dialami Cleo ketika insiden Pembantaian pecah. Penggambaran sosoknya mengingatkan saya pada pose-pose sastrawan Jepang peraih Nobel Kesusastraan Yukio Mishima yang juga sama-sama membanggakan latihan fisiknya yang keras dan kecondongannya pada fasisme. Ada kaitannya atau tidak, entahlah.

Tokoh-tokoh lelaki yang berkarakter tidak kompeten lenyap satu per satu. Tinggallah para perempuan dan anak-anak yang harus menanggulangi kebingungan akibat perubahan yang begitu cepat. Sofia harus mencari pekerjaan padahal sudah lama ia menikmati gaya hidup “menggantungkan diri pada suami”. Mobil suaminya ia jual dan ia ganti dengan mobil yang lebih kecil (supaya bisa dengan mudah masuk garasi. Ini baru namanya berinisiatif mencari solusi. Serius deh, adegan di dalam rumah, terutama di garasinya, memancing klaustrofobia) dan, tentu saja, lebih murah. Cleo mengalami dislokasi kesadaran, antara apakah dia sudah menjadi bagian dari keluarga ataukah dia selamanya akan dianggap sebagai bagian dari kelas berbeda.

Film Terbaik?

Hemat saya, Roma memikat para juri Piala Oscar dalam hal sinematografi. Soal ini, dahsyat betul si Alfonso. Selain menyutradarai, memproduseri, menulis naskahnya, mengeditnya, Cuaron pun adalah DoP-nya! Sorotan kameranya bertendensi epik, tidak tergesa-gesa, kebanyakan bersudut lebar (sayang juga tidak bisa menontonnya di layar bioskop).

Tema dan gaya penyutradaraan Cuaron jelas memuaskan selera para juri. Sejak awal masuk Hollywood, bisa dibilang ia adalah anak ajaib yang lekas moncer namanya, padahal film yang disutradarainya baru sedikit. Film terpopuler yang pernah dibesutnya adalah Harry Potter and the Prisoner of Azkaban (2004). Meski demikian, sesungguhnya ada yang mengganjal dalam Roma, dan juga Y tu Mama Tambien! Soal ideologi (Cie…) yang cocok dengan “ideologi Hollywood”.

Seperti saya sebutkan di atas, meski ada ditampilkan isu pergolakan “revolusioner”, meski sudut pandang yang digunakan sepanjang film digiring sebagai sudut pandangnya Cleo dari kelas bawah, sesungguhnya ideologi yang mengemuka adalah ideologi kelas menengah (bolehlah ditambahi “ngehek”) Cuaron sendiri. Cleo-Sofia-Antonio adalah para Doctor Zhivago kontemporer yang melawan arus revolusi dan berlarat-larat dalam soal asmara. “Revolusi” sebagai latar dalam dua film besutan Cuaron (plus Children of Men [2006]) adalah revolusi yang “dijinakkan”.

Menurut saya, tidak penting-penting amat apakah nantinya menang atau tidak sebagai Film Terbaik di ajang paling bergengsi insan perfilman Hollywood. Roma lebih pantas dihormati dengan menontonnya berkali-kali. Dari sisi penerimaannya yang membelah pendapat penonton, mengingatkan saya pada Pulp Fiction (1994). Film yang disutradarai Quentin Tarantino ini juga masuk nominasi sebagai film terbaik, tapi dikalahkan Forrest Gump. Banyak yang berpendapat, termasuk saya, bahwa Pulp Fiction, meskipun merupakan sebuah terobosan dalam dunia sinema, ia tidak dimenangkan karena sejatinya para juri Oscar yang terkenal konservatif tidak terlalu paham betul dengan film itu, dan bikin mereka tak nyaman.

Nah, jangan-jangan itulah yang bakal menimpa Roma. Mungkin, bakal banyak juri yang berpandangan, “Film ini memang ‘beda’, tapi ‘gimana menjelaskannya dengan tepat, ya?” Seunik itulah Roma.

***

P.S.: Roma merujuk ke nama kompleks perumahan tempat keluarga ini tinggal.

Leave a Reply

Your email address will not be published.