Ketika Cintanya Lebih Tinggi Daripada UMK di Kota Industri

 

Sumber Gambar: ShopBack

Menonton film dokumenter Sexy Killers, bikin teringat bahwa saya sendiri sudah tinggal di kota industri selama dua dekade. Sebut saja Kota Baja yang kebetulan umurnya baru saja menginjak kepala dua. Berdirilah di sana perusahaan plat merah penghasil baja terbesar di Asia Tenggara. Lulus SMP, saya diplot oleh orang tua untuk menjadi karyawan pabrik yang merupakan salah satu profesi paling tersohor di sini. Saya disarankan untuk masuk SMK supaya bisa lulus langsung kerja. Sewaktu SMK, saya pernah menjalani praktik kerja lapangan (PKL) di sebuah BUMN di Kota Baja. Dari pengalaman selama satu bulan itulah saya memutuskan untuk tidak pernah melamar sebagai pekerja lapangan di pabrik. Selepas lulus SMK, saya tidak lantas melamar kerja sesuai jurusan seperti halnya teman sekelas yang lain. Saya justru kuliah lagi di jurusan yang berbeda drastis: dari teknik ke ekonomi. Akibatnya, saya melakoni pekerjaan-pekerjaan di bawah ini.

These are 5 jobs I’ve had.

  1. Penulis Buku

Selama PKL, saya tidak hanya menulis laporan kerja, tapi juga menulis diari. Saya ceritakan di buku harian tentang kelakuan absurd orang-orang di pabrik. Tak ketinggalan, kisah cinta saya dengan anak magang dari SMEA. Dari hobi iseng inilah saya kepikiran menjadi penulis buku. Selama kuliah, saya menulis naskah untuk buku pertama. Sampai akhirnya, buku pertama saya terbit. Saya mendapatkan penghasilan pertama dalam hidup dari royalti. Namun, penghasilan sebagai penulis buku yang saya terima tidak cukup untuk menghidupi saya dan tujuh keturunan saya. Saya tetap harus cari kerja setelah lulus kuliah. Dari pekerjaan menulis buku ini, saya bertemu dengan salah seorang pembaca bernama Milea yang nantinya jadi pacar saya.

  1. Asisten Admin Marketing Bank

Sewaktu kuliah, saya sempat magang di sebuah bank syariah sebagai asisten dari asistennya account officer. Semacam ahlinya ahli dalam membantu pekerjaan fotokopi. Posisi pekerjaan ini memungkinkan saya untuk tahu penghasilan dan utang seseorang. Bahkan, dengan hanya memasukkan identitas KTP nasabah pada sebuah sistem milik Bank Indonesia bernama BI Checking, kita bisa tahu berapa utangnya yang belum lunas.

Banyak nasabah datang dari kalangan pekerja sektor industri. Mereka datang untuk mengajukan fasilitas kredit pemilikan rumah, kendaraan, talangan haji, cicil emas, atau sekadar iseng buka deposito. Semula mayoritas warga asli sini berprofesi petani. Berhubung sawah-sawah digusur lalu ditanami besi, jadilah banyak pabrik. Petani-petani pun melahirkan karyawan dan karyawati pabrik. Ekonomi masyarakat pun terangkat berkat industri.

  1. Messenger

Selesai magang, saya diangkat sebagai karyawan kontrak. Selain admin marketing, job description saya bertambah sebagai messenger. Tugas messenger sesuai namanya: mengirim pesan. Tepatnya, mengantarkan dokumen bank kliring ke cabang kota sebelah. Dari pekerjaan inilah saya benar-benar kenal duit. Sebab saya sudah digaji sesuai UMK kota saya yang termasuk dalam “7 Kota dengan UMK Tertinggi di Indonesia” versi On the Crot. Ketika saya baru belajar mencium wangi uang yang hangat-hangatnya baru keluar dari ATM, Milea yang jadi pacar saya saat itu sudah punya visi jauh ke depan. Milea pun mutusin saya via WhatsApp.

Milea: “Kita putus ya.”

Saya: “Alasannya?”

Milea: “Aku dijodohin.”

Saya: “Siapa cowok yang beruntung itu?”

Milea: “Namanya Dilan. Cari aja profilnya di Facebook.”

Saya: “Kenapa kamu mau?”

Milea: “Dilan udah kerja di perusahaan bonafide.”

Saya: “Terus?”

Milea: “Dia udah karyawan tetap.”

Saya: “Itu mah bukan dijodohin, tapi kamunya yang doyan.”

Milea: “Whatever. Intinya, kita sampai sini aja.”

Saya: “Yakin nih?”

Milea: “Yakin.”

Saya: “Nggak mau pilih tirai 2?”

Kemudian, foto profil WA Milea ilang. Tanda saya diblok.

  1. Admin Proyek

Resign dari posisi messenger di bank, saya cukur botak dan pindah kerja ke kantor baru. Saya pun move on, baik secara istilah maupun harfiah. Kantor baru saya adalah subcontractor perusahaan tempat kerja Dilan, pacar barunya Milea. Sederhananya, kantor saya melayani perusahaan yang melayani perusahaan Dilan. Saya berada di kasta ketiga yang dirajai Dilan.

Saya sudah menghindari kerja di pabrik sedemikian rupa. Sampai saya kuliah di jurusan akuntansi supaya bisa kerja di kantor. Eh, saya malah dapat kerjaan baru dan ditempatkan di pabrik sebagai admin proyek. Pabrik ini merupakan perusahaan baja kerja sama Indonesia-Korea Selatan. Awal pendirian, perusahaan ini disambut dan ditolak. Disambut oleh fresh graduate yang cari kerjaan. Ditolak oleh masyarakat setempat yang kena dampak langsung dari aktivitas produksi. Isu debu besi sempat jadi bahan protes warga. Spanduk penolakan pun dibentangkan di pinggir jalan. Namun, lambat laun masyarakat bisa berkompromi dengan debu. Apalagi tingkat perekonomian warganya meningkat setelah putra-putri daerahnya diangkat jadi karyawan.

  1. Staf Keuangan

Dua hari jadi admin proyek di pabrik, manajer memutuskan saya untuk jadi staf keuangan saja di kantor cabang. Akhirnya, saya hijrah dari pabrik ke kantor. Salah satu job desc baru saya adalah penggajian (payroll). Dari sinilah saya jadi tahu seluruh gaji karyawan pabrik. Dari helper sampai manajer. Mulai operator hingga supervisor. Pantas saja, Milea rela meninggalkan saya untuk membersamai Dilan. Untuk posisi pekerjaan seperti Dilan, gaji dan upah lembur yang dikantongi memang bisa bikin cewek dengan senang hati menggantungkan masa depannya. Selayaknya PLTU di berbagai kota di Indonesia, pabrik-pabrik di Kota Baja pun punya dampak tertentu terhadap masyarakat di sekitarnya. Tidak hanya memengaruhi nasib warga setempat secara kesehatan, karier, dan keuangan, tapi juga percintaan.

Kok kayak ramalan zodiak di “Planet Remaja” zaman jebot, ya?

Haris Firmansyah

Pengarang novel sepak bola Wrecking Eleven yang tidak pernah mau diajak main futsal. IG: harisfirmans
Haris Firmansyah

Leave a Reply

Your email address will not be published.