Maleficent 2; Kisah Ibu Asuh Mengalahkan Kebenciannya

Sumber gambar: comicbook.com

Setelah menonton trailer film sekuel terbaru Disney berjudul “Maleficent: Mistress of Evil”, saya kemudian memutuskan untuk menontonnya dengan teman sejawat. Tetapi, setelah tuntas menonton filmnya di bioskop, saya meninggalkan kesan: film pertama jauh lebih berkesan ketimbang film kedua. Film pertama, menurut saya agak “kontroversial” karena plotnya “seorang wanita yang ditolak” yang banyak ditemukan bersifat reduktif dan juga wanita pada umumnya. Film pertama lebih memiliki banyak tema gelap yang memberikan efek “spin” yang menarik bagi saya.

Narasi dan nuansa film ini menarik bagi anak-anak dan sangat khas dengan nuansa film Disney. Bila menengok ke belakang, Maleficent pertama membawa kita melalui perjalanan karakter unik, peri kuat dengan sayap hitam, yang membentuk ikatan tak terduga, jatuh cinta dengan manusia (Raja Stefan) ketika dia masih muda. Tindakan pengkhianatan Raja Stefan mengeraskan hatinya yang mengubahnya menjadi Maleficent jahat. Tapi, kisah ini bukan hanya tentang konversi Maleficent, melainkan terus berlanjut lebih dari itu, bahkan di luar hari ketika dia kemudian mengutuk Putri Aurora, dan menceritakan versi berbeda dari film “Sleeping Beauty” (1959), kali ini dikisahkan dari sudut pandang antagonis: “Maleficent” (2014) dan “Maleficent” kedua (2019).

Bila dalam “Sleeping Beauty”, Aurora adalah korban dari kejahatan Maleficent. Dalam “Maleficent”, Aurora adalah seorang pahlawan yang meluluhkan kerasnya hati Maleficent. Saya tidak berpikir kepribadian Aurora telah berubah dari film pertama dan kedua. Ini bisa membingungkan penonton ketika membandingkan anak remaja dengan orang dewasa, tetapi terus terang saya tidak merasakan perubahan besar dalam kepribadiannya.

Film kedua, sambil mempertahankan sebagian besar karakter (dan aktor—kecuali pangeran yang telah beralih) dari film pertama, dimaksudkan untuk fokus perseteruan ibu asuh dan calon ibu mertua yang berawal dari cekcok di jamuan makan malam dan berakhir dengan pertarungan barbar antarratu. Kayak emak-emak adu mulut gegara rebutan makanan di kondangan. Jadi, daya tarik besar dalam sekuel keduanya adalah suguhan dua ratu dengan antagonisme masing-masing. Meskipun, keduanya secara teknis “jahat” tetapi Ratu Ingrith, ibu Pangeran Philip, mungkin sedikit lebih jahat karena mengorbankan dendam masa lalu yang membuatnya bernafsu memusnahkan Maleficent dan berkeinginan memiliki Kerajaan Moors. Ceritanya bisa ditebak dan rasanya seperti tidak akan benar-benar membutuhkan sekuel lagi.

Pada titik ini, saya merasa film ini seolah-olah dibangun dan terjadi dalam hitungan hari. Pertunangan, pengaturan, dan perencanaan pembunuhan, pengantar untuk seluruh ras yang tampaknya bersembunyi sejak lama atau membuat jarak antar-kedua ras yang berseteru yang dipisah aliran sungai, rencana pernikahan, perang, dan berakhir happy ending dengan pernikahan Putri Aurora dan Pangeran Philip.

Dari segi pemeran, Putri Aurora (Ellen Fanning) memerankan karakternya dengan baik. Ia adalah sosok berparas cantik, baik hati, dan rentan dalam kepolosannya saat dia memulai episode romantis dalam hidupnya setelah dilamar sang Pangeran Philip. Dari sana satu per satu konflik mulai bermunculan. Maleficent (Angelina Jolie) memainkan karakter kompleks Maleficent dengan sangat mudah, brilian, terang sekaligus gelap. Ratu Ingrith dengan peran antagonis yang kuat disertai dengan tekanan luar biasa dan tak henti-hentinya dalam kehidupannya di masa lalu. Ia mengalami rasa sakit dan dendam yang tak terkatakan di beberapa titik. Menahan rasa sakit dan dendam itu seperti itu selama bertahun-tahun sebelum menemukan cara untuk membagikannya dengan cara yang barbar.

Tokoh-tokoh lain yang tidak kehilangan karakter. Film dengan kekuatan pelintiran yang tidak klise, sentimen yang dalam, humor yang sangat alami dan aksi yang selalu membuat penonton berdecak kagum. Meskipun, harus disadari bahwa karakter Maleficent telah dimanusiakan dalam pengulangan ini, cerita dalam film benar-benar menekankan bahwa dia sama sekali bukan manusia, dan mengeksplorasi seluk-beluk kehidupannya dan bagaimana dia berhubungan dengan manusia yang dia temui dalam kehidupannya.

Secara keseluruhan, film ini menimbulkan efek yang luar biasa bagi indra penonton. Sinematografi yang memukau dimulai dengan menjelajah kerajaan bangsa Moors hingga makhluk alam kecil termanis di habitatnya yang dibuat dengan pengalaman visual yang menyenangkan. Seluruh adegan dan pengaturan itu memanjakan mata dengan bidikan artistik, efek CGI yang apik, gaya dan penggunaan yang warna yang luar biasa.

Lantas, masih ada sesuatu yang berkelebat dalam pikiran saya: dalam film pertama Maleficent menghindar dari menjadi penjahat sejati. Jika dia memilih untuk mengulang ini dalam “Maleficent: Mistress of Evil”, lalu apakah itu membuat film pertama terlihat tidak relevan? Saya merasa bahwa Maleficent hanya mencoba “mengoreksi” kejahatan yang dilakukannya dengan menjadi “pahlawan.” Dia tidak mengompensasinya secara berlebihan, menghapusnya, atau membatalkannya. Itu masih dilakukan hingga kaum manusia menerimanya. Dari sudut pandang moral, menjadikan anak yang tidak bersalah menjadi korban memang tidak dibenarkan dan juga tidak dapat dimaafkan. Untungnya, bagaimanapun, Maleficent akhirnya menyadari kesalahannya sendiri. Kesadaran bahwa apa yang telah dilakukannya adalah salah. Menurut saya, itulah inti cerita dalam film pertama hingga berlanjut ke film kedua.

Akhirnya, film ini menyampaikan pesan yang indah. Film ini mengajari kita, bahwa cinta seorang ibu lebih kuat daripada kebencian terhadap kejahatan. Akhirnya, manusia dan peri bisa hidup damai. Tidak hanya untuk anak-anak, tetapi juga kepada orang dewasa. Ada beberapa pelajaran nyata yang membuka mata. Kita hidup di masa di mana para pemimpin menanamkan rasa takut para pengikut mereka dengan menggambarkan kejahatan di dunia. Rasa takut itu digunakan untuk memulai kekerasan dan mendapatkan kekuatan. Film ini membuka mata Anda terhadap manipulasi dan menunjukkan kepada Anda bahwa ada cara yang lebih baik dengan cinta, kedamaian dan koeksistensi.

Cinta dalam bentuknya yang paling murni dapat menyelamatkan seseorang dari semua kutukan: kesengsaraan, kesulitan, rintangan, dan lain-lain. Cinta adalah obat mujarab seperti iklan di tivi: “cintai ususmu ….” Jadi, cinta tidak hanya berarti hubungan antara laki-laki dan perempuan. Alih-alih menunggu seseorang untuk mencintai Anda. Cintai orang-orang yang sudah mengelilingi Anda dan mencintai Anda, ibu, ayah, saudara lelaki, saudara perempuan, dan sahabat, dan mantan-mantan Anda.*

Roy Martin Simamora

Dosen PSP ISI Yogyakarta; Alumnus National Dong Hwa University, Taiwan; penyuka teh hijau. IG: mroy1990 (IG)
Roy Martin Simamora

Latest posts by Roy Martin Simamora (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.