Puisi-Puisi Roz Ekki; Bibir

fineartamerica.com

BIBIR

 

Seperti laut

kedalaman mulut

selalu berakhir pada bibir.

Bibir basah sepasang bocah

menari dan menyanyi

mengelilingi istana pasir.

 

Tak ada sampah

di mulut dan tangan mereka,

setiap kata butir mutiara,

patahan ranting mereka genggam

menjadi tongkat Musa,

serpihan papan mereka rakit

menjadi perahu Nuh.

 

Tapi ada saja telinga

yang menganggap setiap suara

bising,

meski kuping mereka mulai tuli.

Ada saja mata-mata

yang menangkap setiap gerakan

menjadi waswas dan curiga,

meski mereka mulai rabun.

 

Mereka takut sepasang bocah

membangun istana kaca Sulaiman

yang menyingkap betis perawan,

atau menyembunyikan

bangkai paus yang menelan

Yunus.

 

Angin bertiup kencang

melambungkan matahari,

seperti balon udara menuju senja

menyulap sepasang bocah

menjadi remaja.

 

Seperti laut

kedalaman mulut

selalu berakhir pada bibir.

Bibir basah sepasang remaja

melarung janji ke tengah

samudra.

 

Tak ada sampah

di mulut mereka,

setiap kata butir mutiara

gita mahabah suara Daud.

Tapi mata-mata dan telinga

makin waswas dan curiga.

Di atas batu karang

mereka memasang plang:

dilarang bermesraan

kecuali dengan Tuhan.

 

Sepasang mulut kelu

terpaku pada papan

yang mengiklankan Tuhan,

seperti Yusuf koyak punggungnya

dan seorang gadis menggigit jari

menikmati lukanya sendiri.

 

Kulit mereka kesat

bibir mereka kering

tapi dituding tertangkap basah

dan diberi arah jalan pisah.

Gadis penyayat jari

menyingkir dari bibir pesisir,

pemuda yang koyak punggungnya

bertekad menunggu Khidir,

meski tak kuasa melawan

fatwa usir.

 

Angin berhenti bertiup

menenggelamkan matahari,

seperti mencelupkan

mata rabun pada malam,

mengutuk sepasang remaja

menjadi musang dan kelelawar,

dan bila matahari kembali bersinar

mata-mata dan telinga waswas

bergegas ke pasar,

menjajakan buah bibir

yang mereka petik

kemarin sore.

 

2019

 

 

MULUT

 

Setelah melewati masa

dua ribu delapan belas tahun

sekian detik,

tak kudengar lagi pepatah

mulutmu harimaumu.

Sebab, taring tak lagi tarung

dan belang

hanyalah tontonan

kebun binatang.

 

Setelah melewati masa

dua ribu delapan belas tahun

sekian menit,

muncul pepatah baru:

mulutmu kucingmu.

Sebab, kata-kata dipelihara

meski tak menghasilkan

susu dan daging,

hanya tengik

dan pesing.

 

Setelah melewati masa

dua ribu delapan belas tahun

sekian jam,

muncul lagi pepatah baru:

mulutmu kambingmu.

Sebab, kata-kata hanya rengek

yang mengembek

dalam kandang,

di belakang gembala.

 

Setelah melewati masa

dua ribu delapan belas tahun

sekian hari,

muncul lagi pepatah baru:

mulutmu anjingmu.

Sebab, kata-kata penolakan

menjadi gonggong siang bolong

kata dukungan hanya kain pel

menjilat lantai.

 

Setelah melewati masa

dua ribu delapan belas tahun

sekian minggu,

muncul lagi pepatah baru:

mulutmu babimu.

Sebab suara-suara sumbang

memantulkan bunyi plung

lubang kakus,

aroma caci maki berlomba

saling melumuri muka

dengan tinja.

 

Setelah melewati masa

dua ribu delapan belas tahun

sekian bulan,

kata-kata dan suara

hanyalah embek dan ngeong,

gonggong membabi buta,

menjadi babibu,

menjadi bla bla bla.

 

2019

 

 

SUARA

 

Di atas panggung

seorang biduan melantunkan

dangdut koplo.

Sepasang pengeras suara

berdiri di sampingnya

sebagai algojo.

 

Suaranya yang lengking

menghantam dinding

dan langit-langit,

dan bulu dada seorang bocah

yang baru tumbuh

rontok diempas gebu.

 

Di bawah panggung

bocah itu memejam

sebelah matanya yang kiri,

mata kanannya bulat sempurna

mengintip surga

yang diceritakan kitab suci

di celah rok mini.

 

Di depan panggung

suit lelaki di halaman

dan cekikikan perempuan

di teras depan.

Kebahagian memperlihatkan

wajahnya yang pertama.

 

Cahaya lampu di atas

dan kertas gincu di teras,

suara manja biduan

dan tawa sipu perempuan.

Kebahagian memperlihatkan

wajahnya yang kedua.

 

Di belakang panggung

suara mesin diesel gemuruh

menabuh dada para petaruh,

bertarung mengadu untung

dalam kocok dadu

dan gelinding cap jeki.

 

 

Cahaya temaram di bawah

dan remang di belakang,

suara degup jantung bocah

dan gaduh teriak pasang.

Kebahagiaan memperlihatkan

wajahnya yang lain.

 

Telinga bocah itu

seperti diset stereo

sedang mulutnya mono.

Telinga kanannya mendengar

suara bas middle dan treble,

telinga kirinya gemuruh diesel.

Mulutnya hanya melongo

mengeluarkan bunyi o.

 

Ia terheran-heran

suara-suara yang berseberangan

bisa saling bekerja sama,

menyanyikan lagu cinta

musim kawin.

 

2019

Roz Ekki

Lahir di Bangkalan 22 Desember 1983 dengan nama administrasi Rozekki. Aktif berkesenian bersama Kamunitas Masyarakat Lumpur. Menulis puisi, prosa dan drama. Buku puisinya yang telah terbit Tiga Cuaca Tanpa Musim (Komunitas Masyarakat Lumpur, 2016), Sangkolan: Mata Celurit Mata Sabit (Basabasi, 2018). Naskah dramanya “Fragmen Pasar Burung” mendapat penghargaan Rawayan Award (Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta, 2017).
Roz Ekki

Latest posts by Roz Ekki (see all)

Comments

  1. Anam Reply

    Keren.. semangat terus bang👍secara pribadi nyaman sekali membaca puisi bang ekki

    • Roz Ekki Reply

      Terima kasih. Semoga apresiasi ini menjadi penyemangat bagi saya untuk terus berkarya.

  2. Who& Cahaya Reply

    Asyik puisinya

    • Anonymous Reply

      Terima kasih

    • Roz Ekki Reply

      Terima kasih

  3. Anonymous Reply

    kerennn!!

  4. Roz Ekki Reply

    Terima kasih

Leave a Reply

Your email address will not be published.