Rumus Hidup Bahagia Ala Pak Tua dari Danzig

 

Judul: Kearifan Hidup

Penulis: Arthur Schopenhauer

Penerbit: Basabasi

Tahun: 2019

Tebal: viii+130 hlm

Dalam pembukaan novel Anna Karenina yang telah menjadi klasik, Leo Tolstoy menulis, “Setiap keluarga yang bahagia itu sama saja; adapun setiap keluarga yang tidak bahagia, tidak bahagia dengan caranya masing-masing.” Kata “keluarga” di situ bisa kita ubah menjadi “orang” dan kita tahu belaka semua orang yang bahagia memang sama saja. Mereka bahagia karena hal-hal yang sama, hal-hal yang telah banyak disebut oleh para nabi dan orang bijak.

Jauh sebelum Arthur Schopenhauer menulis Kearifan Hidup, sudah berderet para penulis membikin risalah tentang rumus-rumus menjadi bahagia. Mulai dari Seneca sampai Imam Al-Ghazali. Mulai dari orang Barat sampai orang Timur. Mulai dari zaman baheula sampai zaman sekarang. Itu menunjukkan dua hal; bahwa semua orang pada setiap zaman menghendaki kebahagiaan dan bahwa mencapai kebahagiaan itu ada caranya.

Apa cara menjadi bahagia? Kaum agamawan selalu bilang kunci kebahagiaan adalah dengan meningkatkan iman dan takwa kepada Tuhan. Kaum saintis bilang kebahagiaan hanyalah perkara biologis dan kimiawi—Yuval Noah Harari pernah membicarakan secara mendalam perihal ini pada bagian terakhir Sapiens. Sementara filsuf, apa kata mereka soal kebahagiaan?

Saya tidak mengenal semua filsuf dan tentu saja tidak atau belum membaca semua buku yang pernah ditulis filsuf. Tapi, itu tidak mengurangi fokus bahasan kali ini. Sebab, kita tidak hendak membicarakan semua filsuf dan pendapat mereka tentang kebahagiaan. Kita hanya akan membedah gagasan dan pendapat Schopenhauer—seorang filsuf kebangsaan Jerman yang lahir di Danzig (kini Gdansk, Polandia)—tentang kebahagiaan dalam buku Kearifan Hidup (diterjemahkan oleh Ratih Dwi Astuti dari The Wisdom of Life).

Dalam sebuah hadits Nabi disebutkan bahwa kebahagiaan itu tergantung hati. Tergantung kondisi batin. Pada halaman 7 kita bisa menemukan gagasan seperti hadits itu: “Jadi, unsur pertama dari kebahagiaan hidup adalah hakikat kita—jati diri kita, sekalipun bukan demi kebahagiaan jati diri merupakan faktor yang tetap punya pengaruh dalam segala situasi; lagi pula, tidak seperti keberkahan yang digambarkan pada dua kelompok lainnya, jati diri bukanlah permainan takdir dan tak dapat direnggut dari diri kita—dan, sejauh ini, jati diri memiliki nilai absolut yang bertolak belakang dengan nilai relatif dua kelompok lainnya.”

“Dua kelompok lainnya” yang dimaksud adalah apa yang kita miliki dan apa kata orang lain tentang kita. Sedangkan “hakikat diri” bermaksud sesuatu yang tetap melekat dalam jiwa, suatu hal tentang ruhani. Tentu kita sudah sering mendengar hal semacam itu. Bahwa kebahagiaan seseorang itu lebih banyak berhubungan dengan apa yang ada di pikirannya dan bagaimana sikap ia terhadap sesuatu, bukan perihal apa yang ia miliki atau pendapat seseorang mengenainya.

Dalam buku ini, Schopenhauer mengupas secara tuntas dan asyik mengenai hakikat diri kaitannya dengan kebahagiaan. Saat membahas itu, ia berkali-kali menekankan pentingnya kecerdasan dan ilmu. Juga pentingnya kesendirian. Pada saat yang sama ia mengutuk soal kebodohan. Menurutnya, kekayaan jiwa adalah satu-satunya kekayaan sejati. “Manusia dengan kekayaan batin tidak menginginkan apa pun selain waktu senggang tak terganggu untuk mengembangkan dan mematangkan kemampuan intelektualnya, maksudnya, untuk menikmati kekayaannya; singkat kata, ia menginginkan izin untuk menjadi dirinya sendiri, sepanjang hidupnya, setiap hari dan setiap jam.” (hlm. 38)

Ia juga menyebut dua musuh besar kebahagiaan, yaitu penderitaan dan kebosanan. “Maka, sementara kelas bawah tak berhenti-henti berjuang memenuhi kebutuhan, dengan kata lain, melawan penderitaan, kelas atas melakoni perang yang terus-menerus dan sering kali tanpa harapan melawan kebosanan.” (hlm. 21)

Pada bagian kedua, Pak Tua dari Danzig membahas soal properti atau kepemilikan manusia terhadap sesuatu. Ini adalah unsur kedua dari kebahagiaan. Tapi tak seperti jati diri, unsur satu ini tidak begitu menentukan kebahagiaan. Kekayaan harta mustahil ditentukan batasnya. Orang miskin cukup puas dengan sedikit harta, sedangkan orang kaya kerap kali tak pernah puas dengan berapa pun kekayaan yang ia miliki. Oleh karena itu, apa yang kita miliki bukanlah unsur terpenting guna mencapai kebahagiaan. Sebab, sering kali apa yang kita milikilah justru yang memiliki kita, bukan sebaliknya. “Istri dan anak-anak tidak saya anggap bagian dari kepemilikan seseorang; justru ialah milik mereka.” (hlm. 54)

Bagian terakhir buku ini membahas posisi atau derajat manusia di mata manusia lain. Bagian ini terbagi menjadi lima sub-bab yang masing-masing berjudul Reputasi, Harga Diri, Kedudukan, Kehormatan, dan Ketenaran. Ini adalah bagian paling menarik karena Schopenhauer menjelaskan macam-macam posisi manusia di mata manusia lain dengan gamblang. Ia membawakan contoh dan mengutip pelbagai ungkapan. Dua nama yang pendapatnya paling sering ia kutip adalah Shakespeare dan Goethe.

Pada sub-bab Kehormatan ia membahas panjang lebar mengenai kehormatan kesatria. Ia menyebutkan ciri-ciri dan prinsip-prinsip kehormatan macam itu. Lebih tepatnya ia menyindir mengenai kehormatan kesatria. Apa itu kehormatan kesatria? Kurang lebih jenis kehormatan para kaum feodal, kehormatan yang menuntut darah dan nyawa apabila kehormatan tersebut diganggu, tak peduli kecil atau besar gangguan tersebut. Tak peduli betapa remehnya gangguan tersebut.

Sub-bab Ketenaran juga tak kalah menarik. Apalagi jika dikaitkan dengan keadaan kekinian di mana gampang sekali orang meraih popularitas sekaligus gampang sekali popularitas itu menghilang. Schopenhauer membahas beragam jenis ketenaran dan penyebab seseorang mendapatkan ketenaran. Semakin sulit ketenaran diraih, semakin lamalah ketenaran tersebut akan bertahan. Ia juga menyebutkan bahwa ada dua sebab seseorang memperoleh ketenaran, yaitu karya dan perbuatan. Karya lebih abadi daripada perbuatan. Seseorang yang menulis cerita tentang orang yang rajin bersedekah akan lebih lama dikenang daripada seseorang yang rajin bersedekah.

“Pada biasanya, semakin lama ketenaran seseorang bertahan, semakin lambat ketenaran itu datang; karena semua hal luar biasa membutuhkan waktu untuk berkembang. Ketenaran yang bertahan secara turun-temurun bagaikan sebatang pohon ek yang tumbuh sangat perlahan; dan ketenaran yang hanya bertahan sebentar bagaikan tanaman yang bersemi selama setahun lalu mati; sedangkan ketenaran palsu sama seperti cendawan, muncul dalam semalam lantas lenyap sama cepatnya.” (hlm. 110)

Andy Warhol—seniman ternama Amerika Serikat—pernah berkata, “Pada masa depan, seseorang bisa terkenal dalam lima belas menit.” Seseorang yang lain menimpali ucapan itu dengan olok-olok, “Pada masa depan, seseorang bisa langsung kembali tidak terkenal dalam lima belas menit.”

Pada akhirnya, rumus kebahagiaan ala Schopenhauer—Pak Tua dari Danzig—berporos pada hakikat diri, pada keadaan hati dan pikiran. Sekali lagi, kebahagiaan kita tergantung pada apa yang kita pikirkan dan bagaimana sikap kita terhadap sesuatu hal, bukan pada apa yang kita miliki ataupun apa yang orang lain pikirkan tentang kita.

Terdengar familier? Memang. Tapi apakah mudah untuk menerapkan rumus kebahagiaan itu? Sila jawab sendiri. (*)

Tambun Selatan, 20 Desember 2019

Comments

  1. tari Reply

    rumus bahagia dari dulu masih berputar pada rasa syukur dan pikiran yg baik, tapi kebanyakan org sulit mempraktikkan. padahal sesederhana itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published.