Sajak-Sajak Iman Budhi Santosa; Di Puncak Gunung Bibi

pinterest.com

 

DI PUNCAK GUNUNG BIBI

  

Masih tergenggam erat etika dan tatakrama Jawa

bagi Merapi, hingga setiap kali terbatuk

tak menyemburkan dahak dan liurnya ke timur

arah Gunung Bibi yang lebih tua

di mana tersimpan silsilah asal mula dirinya

 

“Gunung ini leluhur Merapi.” Ujar pencari rencek

di tepian belukar (tanpa bumbu kelakar)

hingga kisah gunung purba ini tak lagi samar.

“Percayalah, gunung pun bisa beranak-pinak

seperti cicak, seperti pohon cemara

juga serupa kita, umat manusia….”

 

Di puncak Gunung Bibi bersama pemandu mendaki

seperti terhampar kembali peta silaturahmi

yang hampir dilupakan anak cucu sendiri

ketika zaman makin dangkal diterjemahkan

sampai lahar dan awan panas dikatakan bencana

oleh jutaan mata yang gampang terpana

oleh jutaan mulut di negeri ini

yang gampang sekali berdusta

 

2018

 

 

BERSAMA PERUMPUT MERAPI

  

Ketika pagi berbagi rumput di batas hutan konservasi

tak terbaca bekas luka dan pijar lava

di sekujur tubuhnya yang merambat tua

dan hanya tersenyum waktu seekor kepodang

menjatuhkan kotorannya tepat di kepala

karena Merapi rumah bersama di alam nyata

 

“Mengapa mereka lebih mengabdi pada sapi

dan kambing etawa? Lebih mencintai sepi

daripada gemerlap kota raja?” Tulis seorang peneliti

berbekal buku dan selalu bersepatu

tak pernah menginjak tanah

saat merunut jejak tapak sejarah

yang tertera pada kawasan vegetasi rendah

 

Maka, ia pun terkejut ketika seekor ular menyelinap

di antara selangkangan seorang perumput

dan si ular hanya dibiarkan melata entah ke mana

entah akan berburu katak atau sekadar tamasya

entah mencari pasangan atau kembali ke habitatnya

 

Di bawah pohon puspa akademisi muda itu tertegun.

Di lereng Merapi, berhadapan petak-petak zonasi

ternyata rumput dapat menjelma puisi

sedangkan rumus dan teori literasi

tak ubahnya capung yang beterbangan kian-kemari

hinggap sejenak pada reranting musim kemudian pergi

sesuai arah pikiran yang dirancang

dan jarang sekali membumi

 

2018

 

 

BERSUJUD DI PUNCAK MERAPI

 

 Sampai di puncak, ia, lelaki itu

tengadah ke langit, bertanya pada matahari

mencari arah yang tepat, kiblat timur barat

sebelum bersujud meletakkan dahi

pada hamparan tanah vulkanis

tanpa seekor semut dan burung pun menemani

sebaris memberi aminan dan arti

 

Selesai bersujud di puncak Merapi

ia mengumpulkan batu-batu yang bertebaran

dan menumpuknya. Namun, segera ditinggalkan

karena di sini hanya tempat bersujud sesekali

bukan rumahku, rumahmu

tempat menulis puluhan buku

sebelum nanti lengkap dikafani

 

2019

 

 

 

DI CELAH MERBABU – MERAPI

  

Menjelang senja, di celah Merbabu – Merapi

sampai tikungan meliuk turun mendaki

tampak beberapa ekor ular menyeberang

melata dari selatan ke utara demikian tenang

 

Sejenak aku berhenti. Diam tertegun

merasakan gelap seperti menggeliat bangun

sementara gerimis juga mulai turun

 

Sebentar lagi ada iring-iringan berseragam

membawa bunga upacara persembahan

tapi kini dari utara ke selatan

tanpa peduli apa pun yang melintas di jalanan

 

Ketika hujan mulai lebat, ada kelebat

sepasang bocah laki perempuan telanjang

muncul dari celah tebing jurang

dengan ramah tersenyum menyapa

“Pulanglah, Bapak. Sebelum engkau lupa

arah utara selatan yang sebenarnya …”

 

2019

 

 

 

TETAPLAH SEPERTI MERAPI

 

Tetaplah seperti, mungkin

desau angin, atau puncak gunung

setia  menyimpan kisah cerita

tak meninggalkan jejak tapak dan gaung

 

Sepanjang jalan mendaki terus berbelit

lewat pasar bubar dan hutan-hutan wingit

tak akan kupatahkan senyum daun pada reranting

tak akan kusepak batu kerikil hingga jauh terpelanting

 

Karena di tanganmu hanya puisi

tetaplah seperti Merapi, tegak sendiri

tak pernah kecut serupa kerucut tua

berkali-kali mengucurkan tuah, malah dikira

menghajar dusun sawah dengan semena-mena

 

2010

 

Latest posts by Iman Budhi Santosa (see all)

Comments

  1. Zulayy Reply

    Ini sangat WOW, boss

  2. iwan setiawan82 Reply

    Baca puisinya jadi ingat jogja

  3. Yulian Reply

    Selalu suka sama karya karya Imam Budhi Santosa. Sangat Njawani tapi berbobot, mengandung perenungan nan arif.

  4. Dimas Reply

    Amazing 🥰🥰

  5. Muhammadn Mas'udi Rahman Reply

    Sungeng ambal warso Pak Iman Budhi Santosa

  6. Febriston Sitanggang Reply

    Halo kawan-kawan saya mau bertanya. Sebelumnya saya belum pernah mengirim puisi ke media mana saja. Dan saya ingin mulai mengirim puisi ke Basabasi.co ini. Setelah saya membaca cara pengirimannya, saya sedikit kebingungan. Itu marginnya cuma 4 aja atau di tambahi “cm”. Juga jenis teks dan ukuran teks saya bingung. Kira2 begitu mohon di respon kawan-kawan, saya ucapkan terimakasih banyak sebelumnya

  7. Aoki d Reply

    bagi pemula yang baca ini hanya bacaan dengan kata kata yg indah atau frase

  8. Muhammadona Reply

    Puisi karya penyair PSK (anak asuh ULP) sungguh bernada dan bermakna.

    Matursuksma Romo

Leave a Reply to iwan setiawan82 Cancel Reply

Your email address will not be published.