Seorang Lelaki dan Penciptanya

Suatu kali, seorang lelaki jatuh cinta kepada Tambangraras. Ia kemudian mengirim tiga puluh lima karung beras, lima puluh kerbau, dua puluh lima bebek, dan jauh lebih banyak ayam sebagai hadiah untuk melamar Tambangraras.

Namun perempuan itu menolaknya.

Hal itu membuat si lelaki sedih. Ia begitu nelangsa hingga selama berhari-hari, satu-satunya yang ia kerjakan adalah duduk-duduk dan bicara dengan udara kosong, seakan-akan Tambangraras berada di depannya.

Beberapa waktu kemudian, seorang dukun datang kepada lelaki itu dan mengatakan bahwa si dukun adalah orang yang dekat dengan Tuhan. Dan sebagai orang yang dekat dengan Tuhan, si dukun bisa mengabulkan apa pun yang diinginkan oleh si lelaki.

“Aku ingin menikahi Tambangraras,” kata lelaki itu.

Si dukun kemudian menyuruh si lelaki melukis dirinya sendiri di atas selembar kertas yang bagus. Si lelaki mengatakan bahwa dirinya tidak bisa melukis. Ia bahkan tak bisa menggambar dua gunduk gunung dengan matahari di antaranya yang cukup layak.

“Kau bisa,” kata si dukun. Lantas si dukun menggumamkan sesuatu, mengambil tangan si lelaki dan meludahi kedua telapak tangan itu.

“Sekarang mulailah,” perintah si dukun.

Dan begitulah si lelaki mulai melukis. Dan ia begitu terkejut menemukan fakta bahwa ia bisa melukis dengan sangat cepat dan bagus. Dua jam kemudian, lukisan itu telah selesai. Lukisan itu begitu persis dengan si lelaki, sehingga si lelaki mengira ia tengah bercermin sewaktu ia berdiri melihat lukisan tersebut.

“Apa yang bisa dilakukan lukisan ini?” kata si lelaki bertanya.

Si dukun mengatakan bahwa itu bukanlah sembarang lukisan.

“Aku akan mengisi lukisan ini dengan doa-doa dan berkah Tuhan,” kata si dukun. “Tambangraras atau siapa pun perempuan yang kaumau hanya perlu melihat lukisan ini, dan ia akan jatuh cinta kepadamu.”

Lelaki itu bersorak gembira. “Maha besar dan pemurah, Tuhan yang mulia,” katanya.

Si lelaki kemudian mengutus dua orang untuk mengirim lukisan itu kepada Tambangraras. Tambangraras melihat lukisan itu dan tak ada yang terjadi.

Tambangraras diam seperti patung.

“Ini lukisan yang buruk,” kata Tambangraras pada akhirnya.

Ketika dua utusan tersebut bertanya apakah Tambangraras mau menikah dengan si lelaki, Tambangraras tetap menggeleng.

“Bahkan Tuhan yang mahakuasa pun tak mampu membantuku,” kata si lelaki dengan sedih ketika mendengar apa yang terjadi.

Ia melemparkan lukisan itu ke sudut ruangan, lantas ia mengurung diri dalam kamar. Ia menelantarkan dirinya sendiri selama bertahun-tahun, dan tak peduli kepada apa pun hingga tahu-tahu kondisinya sudah sangat menyedihkan. Ia terlihat sangat tua, lemah, dan jatuh miskin. Pada waktu itu, ia sudah bisa menerima kenyataan bahwa ia tidak akan bisa menikahi Tambangraras dan memutuskan untuk melupakan perempuan itu.

Beberapa jam setelah dilemparkan ke sudut ruangan, lukisan tersebut bergerak-gerak. Lantas gambar dalam lukisan itu menjulurkan tangan, menggerakkan kepala dan badan, kemudian melangkah keluar dari permukaan kertas.

Ia sama persis dengan si lelaki.

Selama beberapa menit, ia berputar-putar dalam ruangan itu seperti orang bingung dan tak ada yang mengetahuinya. Lantas ia melihat pintu terbuka, dan demikianlah ia keluar.

Ia berjalan tak tentu arah. Ia bertemu hal-hal baru dan orang-orang baru. Ia mengerjakan apa pun yang ia bisa untuk bertahan hidup dan hal-hal semacam itu. Di sebuah pelabuhan, ia turut mengangkuti karung-karung berisi pala dan merica; di kaki sebuah gunung, ia membantu orang-orang menanam dan memanen padi; di rumah seorang saudagar, ia turut membantu dalang menyiapkan pertunjukan wayang kulit; dan seterusnya, dan sebagainya.

Lantas pada suatu ketika, ia telah mempunyai cukup uang untuk membeli rumah dan sawah yang luas. Ia mulai merintis pertaniannya sendiri. Dan karena ia sudah banyak bertualang sebelumnya, ia mempunyai banyak sekali kenalan yang secara berkala datang mengunjunginya.

Di rumahnya yang bertambah luas, ia secara rutin menyelenggarakan pertunjukan wayang kulit dan ia mengundang orang-orang penting ke sana.

Pesta-pesta berlangsung meriah dan ia selalu bersemangat untuk itu. Lantas pada suatu kali, dalam sebuah pesta, ia bertemu seorang perempuan. Mereka saling jatuh cinta lantas memutuskan untuk menikah.

Pasangan itu hidup dengan bahagia dan sepertinya mereka adalah pasangan paling bahagia di Mataram. Semua orang berpikir bahwa mereka akan bahagia selama-lamanya, setidaknya sampai salah satu dari mereka meninggal.

Lantas pada suatu hari, selembar surat datang ke rumah pasangan itu.

Aku penciptamu, bunyi surat itu, dan aku ingin bertemu denganmu.

Pasangan tersebut tak mengerti apa yang dimaksudkan surat itu. Namun itu sudah cukup membuat mereka cemas.

“Apakah Tuhan yang menulis dan mengirimkan surat ini?” kata si istri bertanya.

“Apakah Tuhan menulis surat semacam ini?” si suami balik bertanya.

Si istri mengedikkan bahu. Lantas mereka sepakat untuk mengabaikan surat itu. Si suami meremas surat tersebut, lantas membuangnya ke liang pembuangan sampah dan membakarnya.

Beberapa hari kemudian, selembar surat yang lain tiba.

Kau tidak bisa mengabaikanku, bunyi surat itu, aku penciptamu dan karena itu kau milikku.

Si suami tidak bisa mengabaikan surat itu begitu saja. Ia benar-benar cemas kini.

“Apakah itu artinya aku akan mati?” kata si suami bertanya kepada istrinya.

“Setahuku,” jawab si istri yang juga cemas, “itulah artinya jika pencipta kita memanggil kita.”

Lantas mereka berpelukan dan menangis.

Si suami ingin membalas surat itu. Namun tak ada alamat pengirim yang tertulis di sana. Dan kurir yang mengantarnya juga sudah pergi.

Maka si suami memutuskan untuk menunggu di beranda rumah. Berhari-hari ia menunggu dengan kepasrahan seseorang yang hendak dijemput maut.

Ia berpikir, tak ada cara untuk lari dari maut.

Lantas beberapa hari kemudian, seorang kurir mengantarkan surat yang ketiga.

Aku akan datang, bunyi surat itu.

Malam itu, sepasang suami istri tersebut tidak bisa tidur sekejap pun. Mereka duduk berdua dan saling bercerita.

Ini malam pertemuan kita yang terakhir, pikir mereka.

Dan si lelaki menceritakan ulang bagaimana perjalanan hidupnya, bagaimana ia merintis usahanya, lantas melihat si istri pada suatu hari, dan tahu-tahu ia tahu bahwa ia jatuh cinta kepada perempuan itu.

Si istri juga melakukan hal yang sama.

Lantas mereka saling mengutarakan pengakuan-pengakuan, sebab mereka tak ingin berpisah dalam kondisi berdosa satu sama lain.

“Aku pernah secara tidak sengaja melihat pembantu kita mandi,” kata si suami. “Dan malamnya, ketika kita bercinta, aku membayangkan tubuh pembantu kita itu.”

Si suami mengucapkan itu dengan cemas. Ia yakin si istri akan marah karena itu.

“Pembantu yang mana?” kata istrinya bertanya. Dan perempuan itu tidak terlihat marah.

Si suami menyebut sebuah nama. Lantas si istri tertawa.

“Aku pernah memasukkan sedikit ingus ke sambalmu,” kata si istri. “Aku lupa apa yang membuat aku melakukannya. Namun aku memang melakukannya.”

Si suami tertawa mendengarnya.

“Sekarang katakan apa lagi yang pernah kaulakukan,” kata si suami. Dan begitulah mereka terus saling menyampaikan rahasia-rahasia. Dan tak ada di antara keduanya yang merasa terluka.

Si suami mandi bersih sekali pagi itu. Bagaimanapun, ia ingin mati dalam kondisi bersih dan terlihat tampan. Ia makan banyak sekali sebab yakin bahwa itu adalah makanan terakhir yang masuk ke perutnya. Setelah itu, ia dan si istri duduk di beranda, memandang dengan cemas ke ujung jalan.

Hari sudah siang ketika seorang lelaki muncul di halaman rumah mereka yang luas. Lelaki itu terlihat tua dan kusam dan menderita. Namun bagaimanapun, lelaki itu terlihat persis benar dengan si suami.

“Apakah itu penciptamu?” kata si istri berbisik di telinga si suami.

“Ia tidak terlihat seperti Tuhan,” kata si suami.

“Ya, ia lebih tampak seperti versi gagal dirimu,” sahut si istri.

Mereka mempersilakan lelaki kusam itu masuk dan duduk. Si lelaki mengamati sekeliling, lantas ia mengatakan bahwa ia datang untuk mengambil kembali segala sesuatu yang memang miliknya.

“Kau hanya bayanganku,” kata lelaki itu kepada si suami. Dan ia berupaya menjelaskan semuanya. Ia mengatakan bahwa si suami hanyalah makhluk yang kabur dari sebuah lukisan, dan lukisan itu adalah lukisan si lelaki. Sudah bertahun-tahun berlalu ketika si lelaki menyadari bahwa kertas berisi lukisan dirinya telah kosong. Lantas ia mendengar kabar tentang seseorang yang sama persis dengan dirinya, yang hidup berbahagia dengan seorang istri.

“Seharusnya aku yang mengalami itu semua,” kata lelaki itu, “dan bukannya kau.”

Lantas pada waktu itulah si istri bangkit dan memukul kepala lelaki kusam itu. Si lelaki tersungkur dengan kepala membentur lantai.

“Apa yang kaulakukan?” seru si suami.

“Lihatlah,” kata si istri, “ia hanya seorang penipu!”

Dadang Ari Murtono
Latest posts by Dadang Ari Murtono (see all)

Comments

  1. Reka Dramadani Reply

    Aku suka cerpennya. Ide yg unik. Bahasa yg mengalir dan mudah dipahami. Aku baca sampai akhir karena penasaran. Menarik

    • Yunita Reply

      Good.
      Ceritanya menarik dan bikin penasaran sama endingnya.

  2. Ahmad Reply

    Saya sedikit terganggu dengan banyaknya kata “dan” di cerita. Seolah tdk ada kata penghubung yg lainnya.

    • halub Reply

      Coba lu contohin bikin yang lebih baik dan masuk ke kanal ini

  3. Lia Reply

    Terbaik

  4. halub Reply

    Coba lu contohin buat satu cerpen yang tembus di kanal ini?

  5. Nazury Reply

    Ceritanya sangat menarik, aku suka. Aku tertawa saat cerita terakhir.

Leave a Reply

Your email address will not be published.