Syaikh Abubakar bin Abi Sa’dan

Beliau adalah Ahmad bin Muhammad bin Abi Sa’dan. Berasal-usul dari Baghdad. Termasuk salah seorang dari sahabat Syaikh Junaid al-Baghdadi. Sepantaran dengan Syaikh ar-Rubadzari. Beliau adalah orang yang paling paham tentang ilmu-ilmu yang dimiliki oleh kaum sufi.

Sampai-sampai Syaikh Abu al-Hasan al-Hudaiq dan Syaikh Abu al-‘Abbas al-Farghani menyatakan bahwa tidak ada siapa pun yang lebih utama di zaman ini kecuali dua orang. Yang pertama adalah Syaikh Abu ‘Ali ar-Rubadzari yang ada di Mesir. Yang kedua adalah Syaikh Abubakar bin Abi Sa’dan yang ada di ‘Iraq. Dan yang terakhir lebih utama ketimbang yang pertama.

Betapa zaman itu sangat membutuhkan orang ini. Melebihi rasa butuh terhadap segala sesuatu yang lain. Sampai-sampai sang sufi didera oleh adanya keinginan untuk bisa memberikan apa pun yang sanggup menjadikan mereka terbebas dari segala yang menyandera mereka. Utamanya di bidang dunia rohani.

Pada saat yang bersamaan, beliau justru menyatakan bahwa siapa pun yang berkehendak untuk berkawan dengan para sufi, hendaknya dia tidak memiliki nafsu, tidak memiliki hati, tidak memiliki rasa kepemilikan. Bahkan semestinya dia tidak memandang segala sesuatu dari berbagai macam sebab yang bisa menjadikannya tergelincir dan tidak sampai kepada Allah Ta’ala.

Tidak mudah untuk bisa sampai kepada segala sesuatu yang dikehendaki oleh sang sufi itu. Sama sekali tidak. Bukankah memang sewajarnya kalau seseorang memiliki nafsu atau keinginan kepada apa pun di dalam kehidupan ini? Apa yang salah pada “keinginan” terhadap segala sesuatu?

Bagi saya pribadi, tidak ada yang salah pada keinginan tersebut. Hanya saja dalam konteks ini untuk sementara seseorang harus terbebaskan dari berbagai macam keinginan yang akan menjadikannya tidak fokus kepada Allah Ta’ala, asal-usul dirinya sendiri sekaligus segala sesuatu.

Demikian pula dengan hati. Bukan apa-apa yang bisa menjadikan seseorang terlempar dari balairung hadiratNya, tapi hati yang memiliki gema terhadap berbagai ihwal yang bisa menjadikan orang tersebut menarik diri sepenuhnya dari hadapan Tuhan semesta alam.

Yang tentu saja tidak kalah pentingnya adalah adanya rasa kepemilikan yang begitu kuat di dalam diri manusia, rasa memiliki apa saja yang terutama berasal-usul dari luar diri, utamanya kita yang sedang menempuh lorong rohani menuju kepada Allah Ta’ala, bukan tertuju kepada apa pun yang lain.

Itulah sebabnya, bagi Syaikh Abubakar bin Sa’dan, seorang sufi tidak lain adalah dia yang sanggup membebaskan dirinya dari berbagai sifat dan ketentuan, bukan dari apa pun yang lain. Sedangkan seorang fakir adalah dia yang kehilangan aneka ragam sebab. Sehingga dia dapat dipastikan tidak bisa bersandar kepada siapa pun selain hadiratNya.

Hilangnya sebab menjadikan dia digelayuti oleh kefakiran. Dan kefakiran itu tidak lain merupakan salah satu sebab yang menjadikannya berlari menuju kepada Musabbib yang merupakan awal sekaligus akhir bagi segala sesuatu. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie
Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!