Terbenam dan Tersingkir di Loak Ingatan

Terbenam dan Tersingkir di Loak Ingatan
Dok. Eko Triono

“Apa sebenarnya ingatan dan milik kita yang mana dan bersama siapa kita harus memiliki dan membaginya?” Itu pertanyaan dari gema memandang grafiti Anne Frank, yang hadir di dinding pelabuhan loak; IJ Hallen.

Menuju IJ Hallen, George Orwell muncul di kepala saya, dalam potret imajinya yang jangkung. Meski jangkung, pada 1933 dia menggambarkan kisah terbenam di London, kemudian tersingkir di Paris dengan motif ekonomi. Dan saya sudah sarapan roti ekonomi di Leiden Central, Belanda, tetapi, tetap saja, saya mengalami pula apa itu terbenam, kemudian tersingkir. Bedanya dalam kubangan ingatan.

Saya berdiri di depan jadwal kereta yang tertib tanpa kejutan. Tiga mahasiswa Indonesia di Leiden datang kemudian. Mereka mengajak saya ke pasar loak terbesar di Eropa.

Kereta intercity dari Leiden Centraal ke Amsterdam Centraal sampai dalam tiga puluh dua menit. Jalan kaki keluar stasiun empat ratus meter menuju penyeberangan Amsterdam NDSM (Nederlandse Droogdok en Scheepsbouw Maatschappij). Di tempat mengantre pada kapal penyeberangan sekarang ini, George Orwell muncul dalam kepala. Sambil nunduk dia ngoceh rasanya terbenam. Saya harus mendongak untuk mencoba mendapatkan pemandangan tentang debur ombak pada dinding pelabuhan atau semacamnya. Orang-orang berdiri berdesak. Kalau saya memandang lurus, hanya sampai batas perut mereka. Mungkin kalau Orwell, yang tinggi itu, di kapal penyeberangan ini bisa bikin judul: Nongol dan Kelihatan di Amsterdam.

Lima belas menit kemudian, kami sampai. “Apa sebenarnya ingatan dan milik kita yang mana dan bersama siapa kita harus memiliki dan membaginya?” Gema itu menyambut dalam kepala, saat melihat grafiti Anne Frank dalam aneka warna di dinding gudang pelabuhan.

Anne Frank, pada tujuh puluh enam tahun yang lalu, saat ulang tahunnya yang ketiga belas, dia menerima buku tanda tangan dengan sampul kain warna merah putih dengan kunci kecil di bagian depan. Tetapi dia menggunakannya sebagai buku catatan. Dia menegaskan tidak mengizinkan orang lain membacanya. Pada Maret 1944, dia, yang remaja, mendengar Gerrit Bolkstein di radio dari London, yang berkata bahwa kalau perang berakhir akan dikumpulkan catatan publik mengenai penderitaan warga Belanda, juga Yahudi, di bawah pendudukan Jerman. Dia, yang sejak Mei 1940 terjebak di Amsterdam dalam pendudukan Jerman, bersemangat menuliskan kesaksian akan banyak hal.

Ketika mengantre untuk membeli tiket, yang bentuknya koin, untuk orang dewasa lima euro dan anak-anak dua ero, saya menduga bahwa baik George Orwell maupun Anne Frank memiliki naluri tentang apa itu: distribusi memori. Hanya saja pola dan motifnya berbeda.

Keunggulan penulis sastra, seperti Orwell, adalah membagi memori dengan pendekatan yang subjektif. Dia mengelola seperangkat peristiwa silam, yang lezat atau getir, menggunakan metode sastra bersentuhan personal atas pilihan sudut pandang yang dianggap penting, baik yang dramatis, maupun melankolis. Para penulis ilmiah menggunakan metode yang dalam kaidah mereka disebut objektif, bahkan dengan meniadakan subjek dalam teks laporannya. Seorang sastrawan yang berbagi memori sosial, akan berbeda dengan sejarawan. Saat saya masuk hanggar, yang di depannya mulai dipajang meja bekas, sepeda bekas, karpet bekas, muncul pertanyaan; yang mana yang dipilih oleh negara untuk mendistribusikan memori sosial, terlebih memori kekerasan?

Kami sepakat berpisah di pintu masuk pasar loak terbesar Eropa ini. Kami menyebar sesuai agenda masing-masing dan nanti janji ketemuan di titik yang ditentukan.

Pasar loak IJ Hallen terletak di kawasan Amsterdam Noord, bekas galangan kapal NDSM. Usianya sekitar seratus tahun, tetapi bangkrut pada 1984. Para seniman mengubah daerah bangkrut itu jadi sarana ekspresi seni grafiti. Kemudian bangunan beralih fungsi menjadi tempat pasar loak. Pasar biasanya digelar tiap bulan satu sesi, yakni Sabtu dan Minggu. Biasanya di awal bulan. Para pedagang yang menggelar lapaknya dikenakan tiga puluh satu euro untuk stan empat meter. Dan tiga puluh tujuh euro bagi mereka yang lokasinya di hook. Meski julukannya pasar loak, isinya sangat lengkap. Tersedia sejumlah barang kebutuhan mulai dari pakaian, mainan, peralatan, hingga barang-barang unik dan langka.

Seorang pedagang menawarkan pada saya jaket. Dia berkata, “Ini jaket kesayangannya saya sebelumnya.”

Saya tersenyum. Saya membayangkan dia berubah menjadi sebuah negara yang sedang menawarkan catatan masa silam. Seperti terpetik dari seri diskusi kronik 1945–1949 di Fakultas Hukum Universitas Leiden, bahwa ternyata pemerintah Belanda sendiri tidak sepenuhnya terbuka dengan masa lalunya. Terutama masa lalu kekerasan di Hindia-Belanda. Sebagaimana pula pemerintah Indonesia terhadap sejumlah memori kekerasan di dalam sejarahnya sendiri.

Agaknya, dalam suatu konteks, memori yang ditakuti ini adalah yang aktif-transitif. Ia masih bisa menjadi alat dan sarana bagi kuasa atau antikuasa pada hari ini.

Memori, atau sejenis ingatan yang sedemikian fungsinya, akan menjadi kelereng yang berbahaya apabila diberikan pada suatu kelompok. Yakni kelompok yang bukan dari ilmuwan yang melihat memori sebagai suatu kajian objektif. Bukan pula sastrawan yang menjadikannya subjektif menawan kemanusiaan kita.

Tetapi, kelompok yang berpolitik; yang bertanding rebutan kelereng terbanyak.

Maka ada benarnya kekhawatiran Anne Frank ketika berkata Toosje Kupers. Pada hari murung di bulan Juli 1942, setelah Margot Frank menerima panggilan dari Zantralstelle fur judische Auswanderung, sesaat sebelum sembunyi, Anne memberi Toosje buku, seperangkat alat minum teh, kucing keluarga, dan sekaleng kelereng.

Anne berpesan, “Aku mencemaskan kelerengku, karena aku takut kelereng ini akan jatuh ke tangan yang salah. Bisakah kau menyimpannya untuk sementara?”

Mereka yang berpolitik-kuasa, melalui manipulasi memori kekerasan sosial, telah memakai dan memanfaatkan lebih dulu memori tersebut. Untuk melindungi kepentingan kelompok, identitas, atau visi politiknya.

Saya kira sindiran George Orwell pada 1933, pada bisikan kemiskinan demi bertahan hidup dalam Terbenam dan Tersingkir di Paris dan London, menjadi bertaut bagi pedagang politik memori kekerasan yang tidak dituntaskan. Katanya, “Menjual pisau cukur tanpa bercukur terlebih dahulu, itu bodoh.” Dan jadi makin membodohi jika pisau cukur itu adalah memori politis bekas pakai. Yang kemudian bukan hanya dijual buat mencukur bulu ketek suara terbanyak, atau memotong roti, yang dibeli di stasiun ekonomi Leiden Centraal ataupun Pasar Senen, tetapi buat memotong ingatan suatu generasi di suatu negeri, dan menggantinya dengan ingatan yang, bahayanya, bukan hanya keliru, tetapi: palsu.

(2018)

Eko Triono

Eko Triono

Menulis kumpulan cerita Agama Apa yang Pantas bagi Pohon-pohon? (DIVA press, 2016).
Eko Triono

Latest posts by Eko Triono (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.