Catatan Ngaji Mantiq #1: Mengapa Mantiq?

 

Pada Sabtu sore, 28 November 2020, Kafe Mainmain memulai kelas logika (mantiq) dengan memakai buku daras karya al-Ghazali (1059-1111), Mi’yar al-‘Ilmi fil-Manthiq. Sebagai fasilitator kelas, saya, hamba yang daif ini, menyampaikan tiga hal sebagai mukadimah pada pertemuan pertama, yaitu tentang 1) mengapa memilih kajian mantiq; 2) sejarah masuknya mantiq dari Yunani ke dunia Islam; dan 3) bagaimana posisi mantiq dalam tradisi keilmuan Islam.

Poin pertama dari tiga hal itu akan diulas dalam esai ini, yang sekaligus menjadi rekaman ringkas dari apa yang telah saya sampaikan di kelas.

***

Ada dua alasan utama mengapa memilih mantiq. Pertama, memopulerkan (kembali) ilmu mantiq sebagai ilmu alat.

Ketika “ilmu alat” disebut, umumnya orang yang belajar ilmu-ilmu keislaman hari ini cenderung akan mengasosiasikannya dengan gramatika bahasa Arab, yakni nahwu dan sharf. Nahwu adalah ilmu tentang tata kalimat atau—bila ingin dicarikan padanan istilahnya dalam linguistik umum walau cakupan kajiannya tak seluruhnya sama persis—sintaksis. Sharf ialah ilmu tentang bentuk kata atau, dalam istilah linguistik umum, morfologi.

Bahwa keduanya ialah ilmu alat sudah cukup jelas: gramatika, sebagaimana diberi pengertian oleh KBBI, ialah ilmu tentang tata bahasa. Ia berfungsi agar cara berbahasa kita teratur dan logis. Dalam kalimat lain, gramatika adalah ‘alat’ penertib bahasa.

Namun, khazanah klasik Islam menyebut mantiq sebagai ilmu alat juga. Al-Akhdhari (abad 13) dalam nazam as-Sullam al-Munawraq—nazam yang dihafal di beberapa pesantren tradisional—mengungkapkan hal ini dalam satu baitnya: “Waba’du fal-manthiqu lil-janani # nisbatuhu kan-nahwi lil-lisani”. Artinya: mantiq bagi pikiran ialah seperti nahwu bagi bahasa. Di bagian pengantar Mi’yar, al-Ghazali pun menyebutkan analogi yang sama persis (antara nahwu-bahasa dan mantiq-pikiran). Bisa dikatakan, sementara nahwu adalah alat penertib bahasa, mantiq ialah alat penertib pikiran.

Judul karya al-Ghazali yang dikaji di kelas ini, Mi’yar al-‘Ilmi, berarti “standar ilmu”, yang mengimplikasikan makna bahwa mantiq berperan sebagai patokan ilmu pengetahuan—tempat pengetahuan dipijakkan, ditimbang, dinilai. Lebih tegas lagi, di salah satu karyanya yang menjadi kitab babon dalam ushul fiqh, al-Mustashfa, al-Ghazali menulis kalimat yang cukup banyak dikutip: “Man la ya’rif al-manthiq la yutsaqu bi’ilmih”. “Siapa tak menguasai mantiq, ilmunya tidak terpercaya.”

Dengan demikian jelaslah pentingnya mantiq. Menukil terusan dari bait Sullam yang terkutip di atas: “Faya’shim al-afkar ‘an ghayy al-khatha # wa ‘an daqiq al-fahm yaksyif al-ghitha”. “[Mantiq atau logika berfungsi untuk] menjaga pikiran agar tidak terpeleset ke dalam kesalahan, dan [juga] menyingkap tabir yang menyelimuti rumitnya pemahaman.”

Dalam tradisi Yunani kuno hingga abad pertengahan, logika merupakan satu dari apa yang dulu disebut sebagai trivium (makna literalnya: pertigaan jalan). Trivium berisi gramatika, logika, dan retorika. Bila dicari padanannya dalam tradisi keilmuan Islam, ketiga hal itu ialah nahwu-sharf (gramatika), mantiq (logika), dan balaghah (retorika). Gramatika berguna agar bahasa tersampaikan dengan tertib; logika berfungsi agar pikiran logis; dan retorika bermanfaat agar makna dapat tersampaikan dengan efektif dan sesuai konteks (entah persuasif, konfrontatif, polemis, dst.). [Bila Anda pernah mendengar istilah ‘kesalahan trivial’, itu berarti kesalahan mendasar yang menyangkut salah satu aspek dalam trivium ini.]

Pada zaman dahulu, trivium merupakan tiga dari tujuh ilmu yang terhimpun dalam liberal arts, yakni kecakapan hidup bagi orang-orang merdeka. Bila tiga yang pertama (trivium) berisi gramatika, logika, dan retorika, empat yang terakhir (quadrivium) berisi matematika, musik, geometri, dan astronomi. Pada abad pertengahan, ketujuh liberal arts ini merupakan kurikulum pendidikan skolastik yang banyak dipakai di lembaga-lembaga Katolik di Eropa. Pada abad 21 ini, setahu saya baru ada satu lembaga pendidikan Muslim yang dengan eksplisit dalam kurikulumnya memakai pendekatan liberal arts ini dan menekankan kembali trivium sebagai ilmu fondasional, yakni Zaytuna College di Amerika yang dipimpin oleh Syaikh Hamza Yusuf (bagi saya beliau merupakan wakil terbaik cendekiawan Sunni-Asy’ari di Barat saat ini). Bila boleh ada semacam misi ideologis dari kelas ini, itu ialah merevitalisasi kembali trivium dari tradisi klasik ini dan membawa mantiq, sebagai salah salah satu ilmu alat, yang belakangan ada pinggiran kembali ke posisi sentral dalam khazanah ilmu-ilmu keislaman.

***

Alasan kedua ialah bahwa mantiq bisa berfungsi untuk menelaah semua jenis pengetahuan rasional dan menjadi landasan bersama dalam berargumentasi dengan siapa saja.

Kita perlu mengingat bahwa umat Islam tidak tinggal sendiri di dunia ini. Dari total 7,7 miliar penduduk bumi saat ini, jumlah umat Islam sekitar seperlimanya (1,6 miliar). Ini berarti, seorang Muslim harus masuk ke dalam satu landasan bersama ketika berbicara dengan empat per lima penghuni bumi yang tidak berbagi agama yang sama. Orang Islam tidak bisa hanya memakai kitab suci ketika berargumentasi dengan orang yang tidak beragama Islam.

Sebagai ilustrasi, jika Anda, sebagai orang Islam, misalnya terlibat dalam adu argumentasi dengan orang yang bukan Muslim yang bertanya, “mengapa percaya ada Tuhan yang Esa?” dan kemudian Anda menjawab “karena demikianlah yang dinyatakan dalam al-Quran”, maka 1) komunikasi susah untuk dilanjutkan sebab lawan bicara Anda tidak memercayai al-Quran sebagai wahyu Tuhan; dan 2) Anda terjebak dalam argumen sirkular (istilah mantiq: dawr), yang merupakan satu bentuk cacat pikir (logical fallacy). Mengapa ini merupakan argumen sirkular? Sebab kebenaran bahwa al-Quran adalah wahyu Tuhan mestilah mengasumsikan terlebih dahulu kebenaran adanya Tuhan, bukan sebaliknya. Dengan kalimat lain, khususnya ketika Anda berbicara dengan orang yang tidak mengimani al-Quran sebagai wahyu Tuhan, kebenaran bahwa “Tuhan ada” tidak bisa dijustifikasi dengan al-Quran. Pondasi (“Tuhan ada”) tidak bisa dibangun di atas cabangnya (“al-Quran wahyu Tuhan”).

Dalam contoh seperti di atas—dalam konteks ketika lawan bicara bukan orang yang beragama Islam—komunikasi hanya bisa terjalin bila ada landasan bersama tempat semua orang yang mampu berpikir dapat berpijak. Landasan bersama ini adalah logika.

Boleh dikatakan, logika ialah ‘bahasa’ universal yang dengannya komunikasi dengan semua orang dari latar belakang apa pun—tentu sepanjang yang bersangkutan bisa diajak berpikir rasional—dapat terjalin.

Begitulah, kurang lebih, dua alasan mengkaji mantiq. Dan kelas mantiq ini bertujuan menjadi wahana belajar bersama (termasuk bagi fasilitatornya, yang juga masih belajar) untuk mengasah kemampuan berlogika.

Esai selanjutnya akan mengulas dua poin terakhir yang disebut di awal, yakni tentang sejarah logika dari Yunani ke dunia Islam dan bagaimana posisi mantiq dalam tradisi keilmuan Islam. Insyaallah.

Comments

  1. Uliyatul Mu'awwanah Reply

    Terimakasih ilmunya mas aziz, semoga sehat selalu

  2. Destika Cahyana Reply

    Luar biasa, ijin mendownload ilmunya Mas.

Leave a Reply

Your email address will not be published.