Jeany dan Kisah-Kisah Cinta

Setiap kali usai membaca roman cinta yang ditulis beberapa penulis besar, seperti Gustave Flaubert, Leo Tolstoy, Anton Chekov, hingga F. Scott Fitzgerlard, aku biasa mendiskusikannya bersama kekasihku, Jeany. Seperti malam itu, di awal bulan Desember yang basah, di rumahnya, aku mencoba mendiskusikan beberapa kisah cinta yang telah kami baca untuk mendapatkan maknanya. Cinta di dalam kisah-kisah itu, seperti tak ada pola yang pasti, ujarku, kecuali bahwa perasaan cinta itu tak selalu mewakili harapan tentang kebahagiaan, tapi justru lebih banyak menghadapi kebahagiaan yang gagal.

Dalam The Lady with The Dog, cerpen karya Anton Chekov, cinta Dmitri adalah semacam bumerang setelah dalam sekian tahun, dia hidup dengan meremehkan posisi perempuan yang dinikahinya. Ketika tiba-tiba dia merasakan perasaan mencintai dan menghargai wanita, tetapi itu justru ditujukan pada Anna Sergeyevna, wanita lain yang baru ia kenal, dan sudah menikah, bukan pada istrinya sendiri. Akibatnya cinta itu membuat mereka tersiksa.

Cinta memang tak pernah memiliki mata, kataku melanjutkan. Charles Bovary, seorang dokter desa yang tidak kaya dalam Madame Bovary mencintai istrinya, Emma, yang lebih mencintai harta dan orang lain. Seluruh hasrat Emma ditujukan untuk mengejar romantisme dan kesenangan borjuis seperti dalam roman-roman picisan yang dibacanya, dan akhirnya keduanya mati menderita akibat ulah Emma.

Anna Karenina karya Leo Tolstoy demikian juga, cinta tak pernah tepat pada posisinya dan berakhir dengan penderitaan. Di mana hati dan lingkungan tak lagi bisa menyatu. Anna Karenina akhirnya mati bunuh diri dalam perjalanan kereta karena depresi. Kisah Scarlet O’Hara di dalam Gone with Wind karya Margaret Mitchell, punya sisi yang lebih halus mengemas kesadaran yang terlambat, di mana, oleh sebab dada Scarlet dipenuhi oleh hasrat yang begitu liar mengejar cinta yang tak melihatnya, ia menjadi kesulitan untuk menyadari perasaan cintanya pada Rhett Butler, hingga semua kesempatannya untuk hidup bahagia hilang bersama angin.

Jeany mendengarkan setiap kata yang aku ucapkan tanpa menyela sedikit pun. Matanya yang cemerlang menatapku di antara rambut kriwil merahnya. Duduknya anggun di sofa warna hijau. Kakinya menyilang, sementara tangan kanannya menyangga dagunya, dan sikunya bertumpu pada pahanya. Jeany selalu suka mendengarkanku bercerita seperti itu tentang semua kisah cinta dalam novel-novel yang sering dibicarakan orang. Dari semua cerita itu, ia paling tertarik dengan Gatsby, pria misterius yang diceritakan Nick Carraway dalam The Great Gatsby karya F. Scott Fitzgerald yang meraih penghargaan Nobel.

“Entah, aku begitu suka dengan Gatsby,” katanya pelan.

“Apa yang kamu suka darinya?”

“Cintanya begitu kuat,” katanya, “dan kematiannya meskipun ironis, tapi menghasilkan kesan yang kuat. Dan terkutuklah Daisy Buchanan yang egois,” suara Jeany terdengar sebal ketika mengatakan itu.

Aku tertawa mendengarnya berkata seperti itu. Suaranya tetap terasa merdu dan empuk. Daisy sendiri menurutku tak bisa disalahkan, kataku pada Jeany yang kemudian mendongakkan dagunya untuk mempertanyakan pendapatku. Perempuan itu, lanjutku untuk memberi argumentasi, dia dalam posisi yang rapuh, dan dilemanya tidak mudah. Daisy memang mencintai Gatsby, tapi faktanya, ia sudah bersuami, itu pertama. Kedua, ia baru saja mengalami peristiwa sangat buruk. Ia terjebak dalam perkara yang tidak setiap orang bisa mengatasinya, apalagi menyangkut soal ancaman hukuman berat yang akan menimpanya karena mobil yang dikendarainya menabrak Myrtle Wilson hingga terbunuh.

“Siapa pun,” kataku mencoba menekankan, “ketika dalam suasana hati seperti Daisy akan bertindak sama. Hatinya yang tengah rapuh, akan mudah terhasut meninggalkan Gatsby lagi untuk pergi bersama suaminya.”

“Seharusnya, paling tidak, Daisy memberi penghormatanlah pada jasad Gatsby sebelum pergi,” kata Jeany jengkel.

“Ia tak bisa datang, meskipun ingin,” aku membela Daisy.

“Huh,” dengus Jeany, “Gatsby salah mengejar cinta.”

Aku tertawa senang melihat Jeany gusar. Wajahnya seperti bulan yang retak.

“Yah, memang ada banyak hal di sana yang bisa kita perdebatkan, tapi setidaknya kita harusnya sepakat bahwa kekayaan tak selalu mampu membuat orang bahagia,” kataku kemudian sambil memandang wajah Jeany yang masih tampak sebal.

“Bukan berarti harta tak punya nilai buat hidup kita,” Jeany mencoba melihat sisi lain.

“Aku tak mengatakan itu,” kataku menyela cepat, “maksudku esensi kebahagiaan bukan ada pada berlimpahnya harta semata.”

Jeany tertawa, dan lantas mengambil bungkus rokok mildnya, mencabut sebatang dan membakarnya. Aku tahu, ia masih memikirkan kebenaran dari pendapatku. Tetapi tentu saja aku percaya pada kemampuannya memahami hal-hal seperti itu. Dia perempuan yang telah ditempa oleh banyak peristiwa, dan membuatnya mudah memahami setiap yang hakiki.

Sementara Jeany berpikir, aku segera menimpanya dengan kisah cinta lain. Aku ceritakan bagaimana Florentino Ariza menunggu cintanya selama lima puluh satu tahun, sembilan bulan, empat hari untuk mendapatkan cinta Fermina Daza dalam Love in Time of Cholera karya Gabriel Garcia Marquez. Jeany kali ini menanggapi dengan perasaan sedikit masygul karena tak bisa menerima bagaimana ada seorang pria bertahan sedemikian kuat mengejar cintanya hingga setengah abad lebih tanpa tergoda untuk menikahi wanita lain.

“Apa sih yang merasukinya?” tanya Jeany lebih terdengar bergumam.

Aku tertawa lagi mendengar kebingungannya. Kataku, dalam buku Time and Free Will karya Henri Bergson, manusia pada dasarnya hidup dalam kenangannya. Waktu dalam diri manusia melampaui kehendak bebasnya. Itulah mengapa Florentino Ariza mengatakan bahwa cinta melampaui waktu yang bersifat fisik. Sampai di sini, kulihat muka Jeany seperti dalam kuasa pikiran yang bekerja. Tapi, aku tak ingin menunggu pendapat Jeany yang kuanggap terlalu lama untuk mengerti soal ini, jadi kutanyakan padanya, apakah dia tidak mau cinta seperti itu.

“Tentu saja aku mau,” kata Jeany di antara kepul asap rokoknya. “Cinta seperti itu pasti hanya dimiliki pria yang benar-benar mencintai,” lanjutnya menambahkan.

“Pasti juga tergantung seperti apa wanita itu pantas dicintai semacam itu,” kataku

Jeany melihatku dengan matanya yang berkilat. Wajahnya menunjukkan rasa tidak senang. Lalu, dengan nada yang tajam dia berkata, “Maksudmu aku tak pantas dicintai seperti itu?”

Pertanyaannya itu membuatku sadar bahwa dia mulai salah paham. Aku tertawa kecil, dan mencoba menjawabnya dengan menjelaskan maksud sebenarnya dari apa yang aku sampaikan. Tetapi, sepertinya tawaku membuat semuanya menjadi semakin buruk. Jeany tak sudi mendengarkan penjelasanku, tapi malah memperkarakan tawaku yang baginya terdengar seperti meremehkannya. Aku terdiam, dan hanya mendengarkan kejengkelannya merusak rasa bahagiaku bersamanya. Karena suasana hati Jeany semakin memburuk, aku lantas memutuskan untuk berpamitan, dan mencoba mendiamkannya sementara waktu. Aku berpikir dia akan lebih tenang selama beberapa hari tanpa gangguanku. Dan dugaanku itu sepenuhnya terbukti, tapi masalahnya ketenangannya melampaui harapanku. Pada faktanya, Jeany memang menjadi begitu tenang setelah selama seminggu aku biarkan sendiri tanpa aku sapa. Begitu tenangnya Jeany, hingga membuatku menjadi merasa khawatir sendiri. Semua itu kusadari setelah semua jalan komunikasi kami tiba-tiba dia blokir tanpa alasan. Aku tak lagi bisa bicara lagi dengannya. Itu terjadi di akhir Desember yang kelabu, ketika hujan selalu turun ke bumi setiap saat, di mana orang-orang tengah dikurung oleh teror korona. Pada saat itulah baru aku menyadari, betapa sulitnya memahami perempuan.[]

Latest posts by Ranang Aji SP (see all)

Comments

  1. Nadya Tifa Reply

    entah apakah ini disebut ending yang tidak terpikirkan olehku. cara pandang oenulis untuk bagian ending sedikit menarik.

Leave a Reply

Your email address will not be published.