Kerasukan Roh Celeng

walty.nl

 

MENJELANG dini hari Jumat, Ki Broto meninggalkan pedepokan. Hampir tersingkap fajar. Ia berjalan mengikuti jalan setapak ke ladang singkong dan jagung. Mengamat-amati kelebat sekawanan celeng yang merusak tanaman. Ternyata ladangnya masih utuh. Semalam tak turun sekawanan celeng dari hutan lereng gunung yang menyergap ladangnya. Ia termangu. Memandangi tempat terjadinya peristiwa pada suatu malam ketika ia menombak mati seekor celeng betina, dan sekawanan binatang liar itu lari dalam gelap semak belukar ke arah hutan: kembali ke sarang mereka. Celeng mati itu dibiarkan tergeletak bangkainya. Lenyap pada keesokan harinya. Mungkin dicabik-cabik dan dimangsa harimau hutan.

Langkah kaki Ki Broto mencapai pesantren Gus Sarwi. Masih terlalu pagi. Ki Broto melihat sang juragan duduk bersila di pelataran pesantren, bersama tamu-tamu dari daerah yang jauh. Ki Broto, yang setiap kali mendatangi pengajian di pesantren Gus Sarwi, tercengang dan curiga melihat sang juragan duduk bersila di pelataran pesantren. Apa yang diinginkan sang juragan dari Gus Sarwi?

Dandanan sang juragan sungguh aneh: mengenakan sarung, baju koko, dan berpeci. Baru kali ini sang juragan berlaku santun, mengangguk hormat dan menyalami Ki Broto.

“Pantas, kau begitu tangguh. Rupanya kau berguru di sini,” kata sang juragan, meledek Ki Broto.

Tak menanggapi ledekan sang juragan, Ki Broto mencari tempat duduk yang nyaman untuk mendengarkan pengajian Gus Sarwi. Usai pengajian, tamu-tamu berdesakan di pendapa untuk mengadukan nasib mereka dan meminta doa Gus Sarwi. Sang juragan masih tenang menanti tamu-tamu meminta doa pada Gus Sarwi. Pendapa itu sudah ditinggalkan para tamu, tinggal Gus Sarwi, sang juragan, dan Ki Broto.

Sang juragan tepat bersila di depan Gus Sarwi. Menyalami Gus Sarwi dan mencium punggung tangannya.

“Mohon Gus Sarwi berkenan mendoakan saya menjadi wakil rakyat.”

Gus Sarwi sempat memandangi sang juragan, sekilas, tersenyum, dan berdoa. Sang juragan makin berpengharapan akan keyakinan dirinya tak lama lagi menjadi wakil rakyat. Ia meninggalkan pesantren dengan dada busung. Ki Broto yang memandangi sang juragan, dan memahami tabiat lelaki setengah baya itu, merasa bahwa Gus Sarwi tengah menggugurkan kebimbangannya, antara memberi doa atau menolak. Tapi Gus Sarwi sudah memilih untuk memberikan doa pada sang juragan.

Sang juragan tampak sangat yakin kehadirannya di pesantren Gus Sarwi akan menaikkan dukungan terhadapnya menjadi wakil rakyat. Ia tampak bergairah, ramah, dan murah senyum. Ki Broto yang telah berpuluh tahun mengenal sang juragan, bertanya-tanya dalam hati: tidakkah lelaki setengah baya itu sedang bermain sandiwara?

***

 

MASIH terlalu pagi, sang juragan turun dari mobilnya di pelataran pedepokan Ki Broto dengan cahaya mata yang berbinar-binar. “Saya minta tolong, kau berkenan menyelenggarakan pertunjukan kuda lumping ke berbagai wilayah desa untuk menyertaiku kampanye.”

“Kau yakin kuda lumping bisa menarik dukungan rakyat?”

“Mudah-mudahan. Setidaknya, di desa-desa lereng gunung ini, kuda lumping masih jadi tontonan yang digemari orang.”

“Apa kau tak cukup hidup dari keuntungan hotel dan bisnis tanah?”

“Saya tak mau mengulang kemiskinan di masa lalu, Ki. Masa kecilku terlalu miskin. Ibu seorang janda, ketika saya masih berumur setahun. Pernikahan Ibu dengan ayah tiri tak pernah membuat saya bahagia. Saya harus mengurus empat orang adik, hidup dengan ayah tiri, kuli pengangkut pasir yang berperilaku kasar. Saya memilih meninggalkan rumah. Mencari hidup seorang diri, dan bertarung mencari kebahagiaan, mungkin saya memburu kepuasan. Tapi sebenarnya, saya sedang mencari keajaiban. Gus Sarwi yang memintaku untuk membawa serta para penarimu dalam setiap kampanye ke desa-desa.”

Ki Broto menyimak kisah yang dituturkan sang juragan. Tidak semua yang dikisahkan lelaki setengah baya itu disukainya. Ia tak bisa menolak permintaan sang juragan untuk mementaskan kuda lumping ke berbagai desa di lereng gunung. Terutama permintaan Gus Sarwi, yang membuatnya tak bisa menolak. Meski di dasar hatinya senantiasa muncul pertanyaan: kenapa Gus Sarwi mendukung permintaan sang juragan?

Sepulang sang juragan, Ki Broto mulai memanggil para penari kuda kumping dan penabuh gamelan. Mereka mulai berlatih menari kuda lumping di pelataran pedepokan. Tarian kuda lumping tanpa kerasukan roh.

***

 

DALAM kampanye sang juragan, orang-orang berdatangan memasuki tanah lapang berumput di desa lereng gunung. Mula-mula memang hanya beberapa sosok anak muda yang mendekati panggung. Ketika gamelan kuda lumping ditabuh, orang-orang mulai berdatangan. Tanah lapang itu dijejali manusia: penonton dan pedagang makanan. Sang juragan mulai pidato. Ki Broto memilih berada di bawah panggung. Begitu sang juragan selesai pidato, kuda kumping mulai dimainkan.

Mula-mula muncul penari-penari kecil bertopeng jenaka, berjoget mengikuti irama kendang. Gerakan-gerakan yang jenaka penari bertopeng itu segera diikuti dengan kemunculan para penari prajurit menaiki anyaman bambu serupa kuda, bercat putih. Mereka memeragakan prajurit penunggang kuda putih berambut emas, berekor emas, serta memiliki sayap emas melawan pasukan penunggang celeng.

Orang-orang kampung merapat mendekati pementasan kuda lumping. Satu demi satu penari kuda lumping kerasukan rh. Ada yang menari serupa monyet. Ada yang menyerupai harimau. Ada yang menyerupai penari genit. Ada yang menari serupa badut. Ada yang menari dengan garang serupa raksasa murka. Mereka minum air kembang. Mata terbeliak. Gerakan tak terkendali. Liar, menerjang orang-orang yang mengerumuni pergelaran kuda lumping.

Para penari itu dihadapi Ki Broto dengan tenang. Ki Broto membawa cambuk yang dilecutkan membelah bumi. Para penari yang kerasukan rh itu disadarkan. Tak ada lagi di antara mereka yang kerasukan roh. Gamelan masih berkumandang. Gendang mengentak-entak. Dari arah panggung terjadi kegaduhan. Sang juragan merangkak. Matanya terbeliak. Menyeruduk orang-orang, yang memekik, “Celeng! Celeng!”

Sang juragan yang kerasukan roh celeng turun dari panggung. Menari di depan para penabuh gamelan. Menghirup air kembang. Menyeruduk orang-orang yang menontonnya. Ki Broto segera menangkapnya. Meniupkan doa ke ubun-ubunnya. Sang juragan tergeletak letih, lemah, dan memejamkan mata. Ketika ia terbangun, terhuyung-huyung, dipeluk Ki Broto. Sang juragan merasakan ketenangan.

“Apa saya kerasukan roh celeng?” tanya sang juragan dengan suara bergetar. Tapi tak terdengar nada berduka.

Pergelaran kuda lumping kembali dimainkan. Barongan muncul ke tengah tanah lapang. Orang-orang desa masih setia menontonnya. Mereka tak mau meninggalkan tanah lapang sampai menjelang sore, ketika gamelan tak lagi dimainkan dan para penari menaiki mobil truk bak terbuka, kembali ke pedepokan. Sang juragan terlebih dahulu mengendarai mobilnya, meninggalkan tanah lapang desa. Ia tak pernah menduga, bila hari itu roh celeng menyusup ke dalam jiwanya.

***

 

SETELAH terbangun pada Jumat dini hari Ki Broto tak lagi dapat memejamkan mata. Ia mengikuti kata hatinya untuk melihat-lihat ladangnya, memeriksa adakah sekawanan celeng yang merusak ladang singkong dan jagung. Senyap. Tapi ia melihat jejak-jejak sekawanan celeng menyusup ladangnya. Ia melihat ladang singkong petani yang dirusak sekawanan celeng, dengan batang-batang singkong yang bertumbangan. Lama Ki Broto memandangi lahan singkong yang diserbu celeng dari hutan lereng gunung. Kemarau panjang menggersangkan hutan lereng gunung, hingga kawanan celeng dan kawanan kera hampir tiap malam turun merusak ladang-ladang petani.

Langkah Ki Broto menyusuri jalan setapak mencapai pesantren Gus Sarwi. Ia salat subuh di masjid pesantren itu. Mendengarkan pengajian Gus Sarwi. Orang-orang memenuhi pelataran pesantren. Mendengar pengajian Gus Sarwi, dan berharap mendapat doa usai pengajian.

Mereka yang meminta doa tinggal di pendapa rumah Gus Sarwi. Ki Broto hanya ingin berbincang-bincang dengan Gus Sarwi. Ia menunggu semua orang yang berkepentingan dengan Gus Sarwi berpamitan dan meninggalkan pendapa. Sang juragan, yang baru saja terkabul keinginannya menjadi wakil rakyat, masih bertahan menghadap Gus Sarwi.

“Terima kasih, Gus, sudah mendoakan saya jadi wakil rakyat,” kata sang juragan. “Tapi kenapa ya, sampai saat ini saya sering kerasukan roh celeng? Saya seperti kehilangan diri saya sendiri, dan roh celeng itulah yang menguasai jiwa.”

Gus Sarwi tersenyum. Tenang sekali ia menukas, “Kau sendiri yang mengundang roh celeng untuk merasuki dirimu. Kaulah yang bisa mengendalikan atau mengusirnya.”

Ki Broto mengamati perubahan perangai sang juragan. Tapi ia melihat lelaki setengah baya itu tak memahami perkataan Gus Sarwi. Sang juragan meninggalkan pesantren dengan perangai yang sama dengan ketika datang: manusia yang sesekali bakal dirasuki roh celeng.

Ingin sekali Ki Broto menggugat Gus Sarwi: kenapa harus menaungi orang-orang serupa sang juragan? Tapi ia mengurungkannya. Tentu Gus Sarwi lebih tahu akan hal-hal yang dilakukannya.

***

Pandana Merdeka, Agustus 2020

Latest posts by S. Prasetyo Utomo (see all)

Comments

  1. Kagiy Reply

    Mantap,

  2. Chopper kun Reply

    nice

  3. s-t Reply

    baguss…

  4. edri Reply

    Ngena sekali.

Leave a Reply

Your email address will not be published.