Kim Ji-yeong Adalah Kita

Membicarakan film “Kim Ji-young: Born 1982” yang rilis di Indonesia 20 November 2019, kita tidak bisa melepaskan pembahasan dari bukunya dengan judul yang sama atau Kim Ji-yeong: Lahir Tahun 1982 (Gramedia Pustaka Utama, terbit 18 November 2019). Lupakan sejenak mengapa ada perbedaan teks young dan yeong, mungkin disebabkan oleh lidah orang non-Korea dalam melafalkan. Bagi pencinta budaya Korea, tentu menantikan film dan bukunya. Entah dengan maksud yang beragam: bisa sebab aktor dan aktris, bisa sebab memang penasaran soal buku dan filmnya, bisa jadi sedang konsen soal isu perempuan, dan mungkin juga agar tidak FOMO saat teman-teman sesama K-pop-ers membicarakan buku dan film ini.

Setidaknya publik merasa perlu memperhatikan kisah Kim Ji-yeong setelah Irene anggota Red Velvet, tertangkap membaca buku ini dan sontak menimbulkan banyak komentar julid netizen. Buku ini ramai dibicarakan juga sebab konten yang disoroti dalam buku ini: isu perempuan, represi patriarki, dan kesehatan mental. Sebelum Irene, sempat pula Roh Hoe-chan salah satu pimpinan Partai Keadilan yang menghadiahi Presiden Moon Jae-in novel ini dengan pesan tak kalah kuat, “Tolong, perhatikan nasib Kim Ji-yeong!”

Buku ini sudah menjadi pergunjingan hingga kemudian difilmkan. Per 9 November 2019, film ini telah menembus jumlah penonton lebih dari tiga juta. Sedangkan bukunya rilis November 2017, dan terjual lebih dari satu juta di akhir 2018 di Korea saja.

Baik novel maupun film memang terpusat pada kondisi kejiwaan Kim Ji-yeong yang depresi dan “sakit”. Kalau dalam film, suami Ji-yeong yang diperankan Gong Yoo, sempat terpikir bahwa istrinya yang diperankan Jung Yu-mi kerasukan atau gila. Tampak adegan ketika Gong Yoo melakukan pencarian di mesin perambah Google bagaimana menangani istri kerasukan. Tidak sama sekali! Ji-yeong hanya depresi sebab represi oleh lingkungan sosial Korea Selatan yang patriarki dan—seperti masyarakat kita—menganggap depresi itu tidak ada dan biasa saja. Yang bila dirunut lewat adegan-adegan flashback represi itu muncul sedari Ji-yeong kecil, menumpuk, dan terakumulasi ketika Ji-yeong berumah tangga.

Digambarkan Ji-yeong “bila kumat” akan mendadak bersuara sebagai orang lain mirip kesurupan, sebagai neneknya, sahabat baiknya, bahkan ibunya. Marah-marah dan menumpahkan semua kegundahan yang selama ini Ji-yeong peram.

Yang diperam inilah yang menjadi kritik atas tatanan sosial masyarakat. Ji-yeong mengalami represi sebagai perempuan bahkan semenjak dia sebelum lahir. Melihat dan merasakan bahwa menjadi perempuan itu hampir-hampir tidak dikehendaki. Bahkan (ini tidak disebutkan dalam film) ada kalanya berlaku hukum boleh aborsi bila diketahui bahwa calon bayinya adalah perempuan. Di lingkungan keluarga: ayahnya lebih mencintai adik bungsu Ji-yeong yang laki-laki, di sekolah ketika diganggu cowok: Ji-yeong justru dibentak untuk tidak mengumbar senyum sembarangan dan pakai rok lebih tinggi, di lingkungan kerja: Ji-yeong tidak dipromosikan dan tidak dapat cuti melahirkan. Puncaknya ketika Chuseok—salah satu hari raya di Korea Selatan, Ji-yeong muntab di rumah keluarga mertuanya. Kenapa aku tidak boleh merayakan Chuseok di rumah orangtuaku?

Isu menarik lain dalam buku maupun film adalah mental illness—kesehatan mental. Benar bahwa itu ada sejak dulu, tapi sepertinya juga baru riuh kembali dibicarakan ketika ada kasus bunuh diri Sully, penyanyi Korea Selatan sebab komentar netizen mahabenar dan mahajulid.

Salah satu kejulidan yang buat penonton geram dalam film adalah ketika Ji-yeong minum kopi di jam kerja bersama anaknya, dengan semena-mena salah satu laki-laki pekerja yang juga antre menyebutnya “mam-chung”—atau boleh diartikan sebagai Ibu Serangga dengan makna ibu-ibu yang menjadi parasit sebab hanya menghabiskan gaji suami. Komentar itu sejadinya menjadi pemantik sekaligus puncak kegeraman.

Dua isu tersebut membelit nasib Ji-yeong dan membuat studio terisak. Buku dan filmnya adalah dua hal yang saling melengkapi. Ada beberapa hal yang sungguh menarik dalam buku, namun sebab keterbatasan ruang film tak tersampaikan. Di film memang sempat tersajikan ketika Ji-yeong protes terhadap orang yang bilang mengapa bisa capek mengurus rumah tangga ketika semua peralatan rumah tangga sudah secanggih sekarang. Namun, balasan atas komentar itu tidak hadir di film.

 “Orang-orang zaman dulu harus menggunakan kayu pemukul untuk mencuci pakaian, lalu merebusnya di atas api, lalu mengucek-uceknya sambil berjongkok. Sekarang ada mesin cuci dan pengisap debu. Wanita zaman sekarang tidak perlu repot-repot, bukan?”

Pakaian kotor tidak bisa berjalan sendiri ke dalam mesin cuci, air dan detergen juga tidak bisa masuk sendiri, dan pakaian yang sudah selesai dicuci juga tidak bisa menyampirkan diri sendiri ke tali jemuran. Pengisap debu juga tidak berjalan-jalan sendiri sambil membawa lap basah. Kim Ji-yeong bertanya-tanya apakah dokter itu pernah menggunakan mesin cuci atau pengisap debu. (Kalimat-kalimat ini bisa ditengok di edisi buku.)

Pun ada beberapa adegan film yang dikembangkan dan tidak ada dalam buku. Buku dan film dua medium menyapa dengan baik. Buku memberi hal-hal jauh lebih luas bila dibandingkan film yang memiliki ruang terbatas. Dan film pun memberi tafsir yang lebih komprehensif sekaligus mengambil momen-momen penting dalam novel.

Menarik mengutip salah jawaban Cho Nam-joo ketika ditanya mengapa tokoh rekaannya bernama Kim Ji-yeong. Nam-joo menjawab bahwa banyak anak gadis yang lahir pada tahun 1982 bernama Ji-yeong, seumum nama marga Kim di Korea. Maksud tersembunyinya ialah menumbuhkan kepemilikan kisah Kim Ji-yeong, sehingga banyak perempuan Korea Selatan menaruh iba dan tergerak ketika menderita represi. Baik di buku maupun film, suara Kim Ji-yeong adalah sama yakni suara perempuan yang terus ditekan dan diremehkan hingga berbuntut pada depresi.

Boleh dipilih: menonton akting jempolan, membaca narasi menyayat perasaan, atau keduanya agar lukanya paripurna tersimpan. Boleh saya kutip satu kalimat dalam ulasan novel di media Korea: Sebab Kim Ji-yeong adalah kita. Mau laki-laki ataupun perempuan, represi dan kesewenang-wenangan adalah tidak mengenakkan. []

Teguh Afandi

Penggiat Klub Baca Yogyakarta.
Teguh Afandi

Latest posts by Teguh Afandi (see all)