Kumal dan Kondang

Pada hari-hari menjelang konser Sruti Respati di Solo, 27 Desember 2018, bertema Puspa Ayodya: Tribute to Ki Nartosabdo, para pengarang di Solo membuat janji menulis pelbagai hal mengenai Ki Nartosabdo. Puluhan naskah berhasil dikumpulkan dan direncanakan jadi buku persembahan bagi seniman kondang. Buku kelak diharapkan semakin mengenalkan sang seniman ke publik, melebihi tatahan sejenak ke patung Ki Nartosabdo di Klaten, Jawa Tengah. Penantian penerbitan buku mungkin masih agak lama.

Ki Nartosabdo teringat lagi, setelah membaca tulisan panjang berjudul “Ketika Nyantrik, Sering Menghabiskan Minuman Milik Guru” di Solopos, 17 Juli 2019. Ajakan ke pembaca menghormati Ki Nartosabdo (1925-1985) dengan warisan-warisan masih awet sampai masa sekarang. Tulisan diajukan menjelang peringatan ulang tahun Klaten. Kita mengingat lagi dengan membuka majalah-majalah lama dan buku-buku pernah terbit meski berjumlah sedikit. Kliping-kliping mungkin berguna saat ada orang atau institusi mau mengadakan peringatan 100 tahun Ki Nartosabdo, kelak pada 2025.

Berita kematian atau obituari kadang menjadi pengenalan awal, bukan episode mengenang masa telah berlalu. Orang belum tentu sampai ke mengenang, sebelum mengenali dengan sekian penasaran. Di Indonesia, sekian tokoh kondang mungkin sulit mendapat perhatian saat masih hidup atau menunaikan misi-misi besar tak selalu terberitakan. Pemberian perhatian cenderung pada saat tokoh itu sakit atau berpamit dari dunia. Ketokohan mulai jadi perbincangan melibatkan keluarga, sahabat, ahli, pejabat, dan publik awam.

Di majalah Sarinah, 11 November 1985, empat halaman mengabarkan kematian seniman besar di Jawa. Ia bernama Ki Nartosabdo. Berita diawali dengan perkataan baku sering disampaikan Ki Narsoabdo: “Pujian sebaiknya dimasukkan dalam kantong plastik dan ditaruh di tempolong. Kritik justru saya taruh di penampan emas.” Pengakuan untuk mengetahui diri di jalan seni memang memanen pujian dan kritik. Ia ingin bijak ketimbang tergoda angkuh atau minder. Di seni, sikap terang dibuktikan menampik menclamencle.

Pada 7 Oktober 1985, Ki Nartosabdo pamitan. Ia dikenang keluarga di hari-hari terakhir masih sempat minta bakmi dan rutin dipijit sebelum tidur. Ia menunaikan hidup panjang, sejak 25 Agustus 1925. Ia memilih menempuhi jalan seni. Bermula bermain kendang, ia memuncak menjadi dalang dan seniman gending terhormat sepanjang masa. Di sela jejak-jejak seni terkenang publik, Ki Nartosabdo bernama awal Soenarto tercatat suka melukis, bermain biola, dan bergabung ke Orkes Keroncong Sinar Purnama. Tapakan-tapakan itu sampai di titik terpenting di Semarang bersama Ngesti Pandawa dan Condhong Raos. Ia kelahiran di Klaten tapi memiliki episode penentuan di Semarang.

Kematian mengingatkan orang-orang pada sikap seni Ki Nartosabdo sering memicu polemik menghasilkan tepuk tangan atau kemarahan. Ia memang tekun mengadakan pembaharuan di pedalangan dan karawitan. Kesengajaan untuk menguak atau meralat tabu-tabu dianut di seni Jawa berlatar abad XX. Sekian polemik malah mengajak para seniman berani mengartikan dan membenahi seni Jawa di babak-babak perubahan saat zaman terus menggelinding. Kematian itu tanda seru atas kerberlangsung seni di Jawa. Pada upacara kematian, gending bertajuk Identitas Jawa Tengah gubahan Ki Nartosabdo diperdengarkan mengiringi perjalanan seniman besar.

Pada tahun-tahun masih dipengaruhi gending-gending ciptaan Ki Nartosabdo, ikthiar menuliskan biografi dikerjakan para sarjana dan seniman, tak pernah lengkap. Kita cuma mendapatkan sejumput referensi. Seniman besar masih belum dihormati dengan “buku besar” bermaksud dokumentasi untuk mengenal dan mengenang. Di Jawa, penulisan biografi seniman-seniman besar terdahulu belum terasa “wajib”. Biografi penggalan-penggalan sering di lisan terwariskan dari masa ke masa.

Pada 2002, terbit buku berjudul Nartosabdo: Kehadirannya dalam Dunia Pedalangan susunan Sumanto. Sejak bocah, Ki Nartosabdo sudah keranjingan seni Jawa. Ia memiliki kesanggupan memainkan pelbagai alat musik dan sadar risiko bergabung di pelbagai kelompok seni: keroncong, ketoprak, dan wayang wong. Pada masa 1940-an, ia mulai mengalami peristiwa-peristiwa menentukan dalam biografi kesenimanan. Pada 1945, ia mulai mendapat pujian sebagai pemain kendang. Ia terpuji dengan tepuk tangan penonton.

Keampuhan permainan kendang itu memicu penasaran Ki Sastrosabdo, pemilik Ngesti Pandawa. Ki Nartosabdo lekas diajak bergabung di pentas-pentas wayang wong oleh Ngesti Pandawa meniti babak-babak penting menunaikan seni Jawa, dari tahun ke tahun. Pilihan itu berdalih. Pada masa 1940-an, derajat wayang wong di atas ketoprak. Ngesti Pandawa dianggap semakin menjadikan tontonan wayang wong diminati penonton, dari kelas jelata sampai kalangan priyayi. Sunanto mengabarkan hari-hari awal, Soenarto atau Ki Nartosabdo bergabung di Ngesti Pandawa: “Ia dipandang sebelah mata dan sering dijadikan olok-olok. Maklum, Soenarto saat itu sangat miskin, badannya ceking, muka kusut, memakai sarung lusuh terbuat dari karet, dengan baju kumal tak pernah diganti.” Kita mengandaikan ada seniman mau melukis keragaan Ki Nartosabdo saat masih muda dan kumal, tak melulu kita melihat foto saat berusia tua dan necis.

Episode itu lekas berakhir. Hari demi hari, Ki Nartosabdo memenuhi panggilan seni tak perlu malu, rikuh, atau minder. Ki Sastrosabdo justru memuji olah seni lelaki masih muda dan memiliki impian besar di seni Jawa. Pada masa akhir 1940-an, Soenarto malah diminta jadi pimpinan karawitan dan mendapat sebutan Ki Nartosabdo: bukti keampuhan berseni. Ia tak lagi lelaki kumal dan kere. Tahun demi tahun berlalu, ia perlahan menjadi dalang kondang dan menggubah gending-gending digemari sepanjang masa. Kita mengenang Ki Nartosabdo adalah dalang terpuji di mata Soekarno. Pemimpin revolusi dan proklamator menandai pujian dengan memberikan satu stel jas dan celana pada Ki Nartosabdo, setelah berpentas di Istana Negara, 1960-an.

Biografi sebagai dalang dapat kita ketahui melalui tulisan HG Sudarmin di Intisari edisi September 1976: “Akan tetapi, resmi Pak Narto menerima predikat dalang barulah pada tahun 1958, yaitu pada pergelarannya di RRI Jakarta pada malam tanggal 28 April 1958. Ia ingat, waktu itu lakon wayang yang pertama-tama dimainkannya adalah lakon Kresna Duta, episode awal Perang Bharata Yudha.” Catatan itu bisa dicarikan bukti-bukti lanjutan demi pembuatan kronik lengkap kesenimanan Ki Nartosabdo.

Di karawitan, Ki Nartosabdo itu empu sulit ditandingi selama puluhan tahun. Ketenaran mulai terasa pada 1960-an. Ia menggarap gending-gending klasik diperkenalkan lagi ke publik. Ia pun mulai suguhkan garapan gending-gending populer. Gairah di karawitan semakin membesar saat Ki Nartosabdo masuk ke industri rekaman kaset komersial pada masa 1970-an. Babak itu dianggap Waridi sebagai pembuktian kepengrawitan. Di buku berjudul Gagasan dan Kekaryaan Tiga Empu Karawitan: Pilar Kehidupan Karawitan Jawa Gaya Surakarta, 1950-1970-an (2008), Waridi mengakui capaian-capaian Ki Nartosabdo itu mengesahkan sebutan empu. Capaian dengan tumpukan polemik di keberanian Ki Nartosabdo menggarap gending-gending klasik dan komersial.

Pengabdian di karawitan membesar dengan pendirian perkumpulan karawitan Condhong Raos, 1 April 1969. Ki Nartosabdo sebagai pimpinan untuk menggebrak seni Jawa, meninggalkan lesu, jenuh, dan kelambatan. Waridi mencatat: “Condhong Raos oleh masyarakat karawitan Jawa telah dipandang memiliki ciri garap yang khas, yakni garap musikal yang menonjolkan kesan gobyog, sigrak, dan prenes.” Keampuhan itu melahirkan kecenderungan selera dinamai garap Condhong Raosan. Ki Nartosabdo menjadi penentu dari perubahan-perubahan dan kesanggupan menjadikan karawitan digemari publik di lakon pembangunan nasional.

Peran besar Ki Nartosabdo pun berpihak ke bocah. Kita mungkin wajib memuji dan menempatkan ia sebagai teladan bagi pendidikan-pengajaran bocah di Jawa. Ia bukan guru atau pejabat tapi mengerti kemauan bocah bersenandung girang dan memetik kebajikan-kebajikan di lagu dolanan. Di Indonesia, kita sudah mengenali Ibu Sud, Pak Kasur, dan AT Mahmud. Kita perlu menambahi Ki Nartosabdo meski di penggarapan tembang dolanan berbahasa Jawa.

Ki Nartasabdo menghadirkan lagu-lagu dolanan bocah dalam gamelan Jawa. Sekian garapan: Lepetan, Sluku-Sluku Bathok, Kembang Jagung, Dhayohe Teka, dan Iris-irisan Tela. Semua garapan lagu dolanan bocah itu lekas digemari dan memberi kegirangan dari ikhtiar pendidikan-pengajaran karakter di Jawa masa Orde Baru. Di catatan Waridi, pengabdian dengan lagu dolanan bocah itu jadi pilar “keberlanjutan karawitan Jawa gaya Surakarta.” Sekian garapan moncer dan digemari publik, dari masa ke masa.

Keinginan mengenal dan mengenang Ki Nartosabdo di abad XXI berlanjut dengan penerbitan buku berjudul Ki Nartosabdo: Hidup, Idealisme, dan Ajarannya (2012) buatan Pusat Studi Javanologi (Institut Javanologi) LPPM UNS. Tulisan-tulisan dari orang-orang bergelar akademik disajikan dengan pelbagai sisi tapi selalu ringkas. Buku berpenampilan wagu agak sulit menggoda para pembaca mengenali seniman besar bernama Ki Nartosabdo. Buku itu agak memberi “ragu” secara estetika dan politis gara-gara ada sambutan dari mantan pejabat penting di rezim Orde Baru: Harmoko.

Kita membaca artikel Soediro Satoto saat menjelaskan posisi Ki Nartosabdo sebagai seniman di situasi politik berselera Orde Baru. Ki Nartosabdo sulit mengelak dari seruan-seruan Orde Baru. Ia pun menggarap gending-gending membesarkan segala misi pemerintah: Keluarga Berencana, P-4, Pariwisata, Tani Maju, dan Identitas Jawa Tengah. Gending-gending di masa sejarah sedang dicipta penguasa melalui birokrasi dan Golkar.

Seniman besar itu ada di titian sejarah, tak melulu memikirkan estetika tapi bersinggungan dengan politik. Kita mengingat dan mencatat untuk semakin memberi pujian dan tepuk tangan untuk Ki Nartosabdo di warisan-warisan membesarkan seni di Jawa. Begitu.

Bandung Mawardi

Penulis di pengedarbacaan.wordpress.com dan pengabarmasalalu.wordpress.com
Bandung Mawardi

Latest posts by Bandung Mawardi (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.