Review film The Night Comes For Us (2018): Brutalitas Para Antihero

in Hibernasi by

Jika Anda ingin tontonan film laga penuh adegan aksi yang beringas, berdarah-darah, brutalitas maksimum dengan sekian umpatan kasar nonstop minus romantisme asmara usia tanggung, silakan tonton G30S streaming-nya di Netflix, tajuk pertama anak bangsa The Night Comes For Us (TNCFU) karya Timo Tjahjanto. Niscaya gonzo gore-action berdurasi 121 menit ini akan membuat tulang-belulangmu ngilu sampai mengucap serapah yang serupa dari para tokohnya.

Mungkin perlu ada disclaimer sejak dini.

Film ini sepertinya tidak cocok untuk: penyuka film bertema religi yang memegang teguh standar nilai etika moral tertentu—karena setiap tontonan haruslah menjadi tuntunan bagi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara pada umumnya. Itu.

Kedua, para penggemar film drama romantis yang gandrung dengan model-model kisah fairy tale manis, karena scene romantis tak terselip barang secuil pun kecuali saat Ito yang tiba-tiba muncul membawa seorang anak perempuan di depan Shinta lagi setelah (3 kali lebaran?) menghilang tanpa kabar. Alih-alih melepas kangen suasana justru jadi canggung dan konfrontatif.

Ketiga, para aktivis keadilan sosial antikekerasan yang kurang santai dengan fiksi. Dan terakhir, jauhkan dari konsumsi anak-anak. Suguhan ini terkhusus bagi mereka yang telah berakal matang, mampu membedakan mana fiksi mana realitas. Kalau masih keukeuh untuk menonton, risiko risih ditanggung sendiri.

Bukan apa-apa, tidak semua orang bisa menerima visual sadistis genangan darah menjijikkan, kepala pecah, potongan tubuh termutilasi, mayat berserakan, adu jotos brutal tanpa basa-basi sejak menit awal hingga akhir, plus dialog-dialog cercaan yang lazim kita dengar di dunia nyata, seolah-olah menafikan budaya luhur bangsa kita yang penuh tepa salira, ramah tamah, dan musyawarah untuk mufakat itu dalam menghadapi setiap persoalan genting. Konteksnya pada perseteruan kelompok gangster Asia Tenggara yang punya cabang di ibu kota.

Cerita TNCFU bermula dari Ito yang membelot dari tugasnya untuk menghukum para penduduk sebuah kampung pesisir yang diketahui telah mencuri sedikit dari sekian kekuasaan gelap dunia kriminal kelompok Triad. Ia lebih memilih menyelamatkan Reina, gadis kecil anak seorang penduduk yang dibantai, dan menembak mati anggota Triad lainnya. Tentu itu jadi masalah. Ito diburu.

Apa lacur, ketika ia kembali ke kawan-kawan lamanya, hunian Shinta berubah jadi ajang tawuran maut tumpat petaka yang justru mengancam keselamatan semua. Kebetulan, anggota penting Triad lainnya memiliki hubungan khusus dengan Ito—Arian, yang lalu dikirim untuk menghabisi Ito dan kolega. Di masa lampau, Arian adalah junior Ito yang diam-diam memiliki obsesi untuk menggantikannya, petarung andalan Chien Wu, bos Triad yang berang dengan pengkhianatan.

Maka selama hampir sejam durasi, kekacauan demi kekacauan di apartemen itu tak terelakkan lagi. Pertarungan jarak dekat melawan komplotan bersenjata lengkap membawa laga berintensitas tinggi pada level kehancuran apokaliptik paling gila. Chaotic. Pasukan Triad yang dikirim sampai harus dua kloter untuk menghabisi Bobby Bule, Shinta, Reina, Fatih, dan Wisnu. Sempat terlintas pikiran, apakah kebisingan seperti itu tidak mengganggu para tetangga hingga menelepon pihak yang berwajib, ya? Dan ternyata klise. Mereka datang terlambat.

Dari sini atmosfer dan arah cerita memberi kesan latar distopia; kondisi sebuah kota yang telah dikuasai Triad tidak secara amatiran, karena di adegan sebelumnya, Ito yang berniat mengambil logistik dari Yohan si pemadat maniak, diculik oleh beberapa oknum polisi misterius meski kemudian mampu membebaskan diri. TNCFU masih mungkin akan berlanjut sekuel/prekuel jika ditilik dari beberapa narasi yang samar, cenderung menggantung. Faktornya ada pada tokoh Reina, The Operator, Shinta, Chien Wu, dan oknum aparat yang melingkupi perjalanan takdir seorang Ito.

Menonton film ini, bagi saya ibarat menikmati suguhan khusus buah racik Rumah Dara (2009) dan sekuel The Raid sekaligus. Grafis kekerasan dan pertarungan bebas tanpa ampun bagai simponi menyakitkan sekaligus indah, sebuah estetika berdarah yang menakjubkan dari sokongan visual efek paling kompeten dan berani yang telah lahir. Apartemen kumuh, gudang pelabuhan, The Butcher Shop, disulap jadi area bebas hukum selain hukum rimba yang edgy, artistik.

Tapi entahlah, seperti masih ada yang kurang dengan segala kekerenan visual ini. Dari penilaian rating cukup memuaskan IMDb (7.4/10) dan Rotten Tomatoes (85%–90%), dari komentar positif para kritikus film asing itu.

Bagi saya yang awam, paket lengkap film bagus ditentukan oleh eksekusi akhir dan story telling yang baik. Penulisan skenario yang matang dan kedalaman karakter jadi salah dua variabelnya. Dialog-dialog di sepanjang film terdengar sangat eksplisit dan kaku serta miskin metafora. Introduksi yang minim meminta konsekuensi lebih pada kedalaman karakter. Background tidak detail ditampilkan. Seperti ada gap interpersonal tokoh pada penonton. Memang tak semuanya mesti dijelaskan, tapi sebab apa seorang Ito menyelamatkan Reina, atau faktor yang membuatnya melakukan semacam penebusan (taubat), misalnya, tak ada informasi. Apakah sebelumnya beliau habis menonton sinetron tentang azab, misalnya?

Relasi emosional yang terjalin antara Ito dan Reina di fase berikutnya pun tak seperti, sebut saja, Leon dan Mathilda di film Leon: The Professional (1994) jika harus membandingkan. Beberapa flashback yang muncul di pertengahan sebetulnya baik tapi tak cukup ampuh memperlihatkan feel relasi antar tokoh. Pergantian cerita kurang smooth. Tidak ada pembeda waktu yang kontras (tone gambar). Dramatisasi lebih antartokoh sebenarnya bisa membuat efektif dan itu tidak terlihat lebih kuat. Contohnya, seberapa dekat sih relasi pertemanan Ito dan Arian di masa sebelumnya, sehingga chaos ini terasa begitu ironis? Ada momen masa lalu sampai adegan minum bareng tapi tak lebih dari 5 menitan saja.

Beberapa catatan lain cukup mengganggu. Pertama, perihal pemasangan perban di perut Ito. Itu bloopers paling aneh dari sisi teknis editing. Kedua, koreografi laga dari para pemeran pembantu yang terlihat seolah “menunggu” antrean untuk dihajar daripada menyerang frontal. Tidak banyak adegan, sih. Ketiga, ekspresi bertarung yang sedikit berlebihan. Agaknya penting bagaimana sebuah akting seharusnya terlihat laiknya tidak sedang berakting, salah-salah ada penonton yang malah geli ketimbang ngeri. Terakhir, saya masih bisa menolelir keganjilan logika “peluru nyasar” ke gedung DPR sejauh ratusan meter tempo hari yang bahkan sempat menyerempet sedikit kepala dari staf sang legislator, ketimbang berondongan senjata api laras panjang yang mengarah ke Ito—yang berlindung di balik meja kayu dengan bolongan tengahnya—pada jarak 5 langkah saja, dan ajaibnya sang jagoan tidak terluka, kecuali oleh sengatan listrik dari stun gun.

Oh ya satu lagi. Scoring musik. Salah satu elemen penting ini tampaknya tidak terlalu digarap dengan baik. Kita bisa membandingkan output-nya dengan The Raid 2 atau film-filmnya Joko Anwar, yang mampu mengubah intensitas suatu kisah lewat scoring bervariasi, tepat guna dan tidak monoton.

Untuk akting, angkat topi setinggi-tingginya bagi Zack Lee (Bobby Bule)—saya lambat menyadari kalau itu Zack di awal kemunculannya, Julie Estelle (The Operator), Hannah Al Rasyid (Elena) dengan Kukri-nya, dan Revaldo (Yohan). Semua aktor menjalankan porsinya dengan pas, kecuali—maaf—jejak gestur protagonis masih sedikit menyisip dalam beberapa mimik Dian Sastro dan Abimana. Iko Uwais telah kembali dari Mile 22 yang flop, dan untuk Joe Taslim, perannya sebagai Ito mengingatkan saya pada tokoh Joe di film You Were Never Really Here, plus Jackie Chan!

Di atas semuanya, bagi saya nama Timo Tjahjanto tak pelak lagi dapat ditahbiskan sebagai atribusi pembawa splatter-gore movies utama—mungkin untuk beberapa dekade terakhir—yang konsisten dalam kerangka alternatif varian sinematik kita (yang penuh dengan batasan). Dan untuk itu, cukup layak bila TNCFU diapresiasi sebaik-baiknya—tetap, Rumah Dara masih jadi favorit saya.

Jadi hikmah dari segala kekacauan ini adalah: bahwa dalam setiap pertempuran, jika Anda tidak memiliki sepucuk AK atau Glock 19 di tangan, maka benda seremeh apa pun bisa menjadi sebuah senjata yang mematikan.

Tapi sebaiknya jangan masuk jadi anggota geng. Baik-baik sajalah di kehidupan fana ini.

D. Hardi

D. Hardi

Penulis cerpen, puisi, dan resensi. Tulisannya termuat di antologi puisi Kepada Toean Dekker (Multatuli), antologi cerpen Cerita dari Koding (Jejak Publisher, 2018), Pikiran Rakyat, Balairungpress.com, Pewara Dinamika, Banjarmasin Post, Simalaba.com, Litera.co, Nyonthong.com, Karepe.com, Qureta, dan lain-lain.
D. Hardi

Leave a Reply

Your email address will not be published.