Syaikh Abu al-Gharib al-Ashfihani

 

Nama beliau adalah persis sebagaimana judul di atas. Saya tidak menemukan tambahannya lagi. Juga saya tidak menemukan data yang mencatat tentang tempat kelahiran dan wafatnya. Pun saya tidak mendapatkan keterangan tentang waktu kelahiran dan wafatnya.

Akan tetapi ada keterangan bahwa Syaikh Abu ‘Abdillah bin Khafif sangat mencintai beliau. Juga bersenda gurau dengan beliau. Syaikh Abu ‘Abdillah bin Khafif sendiri wafat pada tahun 982 Masehi. Hal ini menunjukkan bahwa sang sufi yang sedang saya “bahas” ini tidak jauh berbeda, baik waktu kelahiran maupun wafatnya, dengan Syaikh Abu ‘Abdillah bin Khafif tersebut.

Beliau termasuk salah seorang sufi yang telah menyelam ke dalam lautan hakikat. Memiliki berbagai macam karamah dan bukti nyata tentang cinta ilahiat. Beliau telah sampai pada realitas keilahian yang utuh, sebuah kedudukan rohani yang sangat tinggi. Para sufi yang lain menyebutkan bahwa beliau telah sampai kepada derajat hulul atau “penyatuan” dengan Allah Ta’ala.

Ada kisah menarik tentang beliau. Waktu itu beliau berada di Syiraz. Beliau setengah “putus asa” terhadap hidupnya sendiri. Beliau memanggil murid-muridnya. Setelah mereka berkumpul, beliau berkata kepada mereka: “Aku butuh kalian. Apa kalian siap membantuku?” Jawab mereka dengan serempak: “Siap.”

Beliau melanjutkan: “Jika tiba ajalku di rumah ini, tolong kubur aku di pekuburan orang-orang Yahudi.” Para murid beliau kebingungan dengan kata-kata sang guru. “Ada apa ini, wahai guru?” Beliau menjawab: “Aku telah berdoa kepada Allah Ta’ala, ‘Ya Tuhanku, jika aku memiliki kedudukan yang dekat dengan hadiratMu, tolong matikan aku di Tarsus.’ Dan sekarang, jika aku mati di sini, aku menjadi tahu bahwa aku sama sekali tidak memiliki kedudukan apa pun di sisi Allah Ta’ala.”

Setelah peristiwa itu, lambat laun kesehatan beliau menjadi pulih kembali. Beliau lalu pergi ke Tarsus, sebuah kota di Turki di dekat muara Sungai Tarsus Cay, kemudian wafat di sana.

Sebelum wafat, ada salah seorang sufi yang mengunjungi beliau di Tarsus. Si tamu menuturkan apa yang disaksikannya: “Aku melihat kedua paha Syaikh Abu al-Gharib al-Ashfihani, dari mulai lutut sampai bokong, penuh dengan luka yang berdarah dan bernanah. Sungguh merupakan sesuatu yang menakjubkan.

Aku bertanya kepada beliau, ‘Bagaimana keadaanmu?’ Jawabnya, ‘Sebagaimana yang engkau lihat. Tapi sampai hari ini aku tidak pernah berkeluh-kesah, ‘Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku telah tertimpa sakit’.”

Lewat kisah di atas, kita menjadi tahu bahwa setinggi apa pun derajat rohani seseorang, tetaplah dia tidak bisa menentukan dan memastikan nasibnya di hadapan Allah Ta’ala. Itulah sebabnya kenapa Qur’an tidak saja mengajari kita untuk menjulangkan harapan, tapi juga membimbing kita di dalam merentang kecemasan.

Kita senantiasa berharap karena kita sadar bahwa rahmat Allah Ta’ala itu meliputi segala sesuatu. Dan kita kadang cemas karena jelas bahwa tidak ada satu amal pun yang bisa kita andalkan di hadapan hadiratNya. Maka dengan kedua sayap itu, harap dan cemas, kita terbang menuju kepada asal-usul kita yang tak lain adalah Allah Ta’ala. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie
Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.