Syaikh Abu al-Husin an-Nuri

designdev.net

 

Beliau adalah Ahmad bin Muhammad Abu al-Husin an-Nuri. Ayahnya berasal dari Bughsyur, sebuah wilayah yang terletak di antara kota Hirat dan Merv di Irak. Beliau lahir dan tumbuh besar di Baghdad. Bersahabat dengan Syaikh Sari as-Saqati, Syaikh Muhammad bin ‘Ali al-Qashshab, Syaikh Ahmad bin Abi al-Hawari. Beliau juga sempat menangi Syaikh Dzun Nun al-Mishri. Wafat pada tahun 295 Hijriah.

Beliau adalah seorang sufi yang segenerasi dengan Syaikh Junaid al-Baghdadi. Di dalam perkara ilmu, Syaikh Junaid lebih alim ketimbang beliau. Tapi di dalam perkara ketajaman mata batin, beliau jauh lebih tajam dibandingkan Syaikh Junaid. Hal itu tidak lain karena di dalam perkara kondisi rohani, ilmu rasa, dan kecenderungan hati terhadap hadiratNya, beliau jauh lebih mengalami ketimbang Syaikh Junaid.

Pernah pada suatu hari, ada seseorang yang bertanya kepada Syaikh Junaid al-Baghdadi tentang substansi sabar dan tawakal. Ketika Syaikh Junaid hendak menjawab pertanyaan tersebut, Syaikh Abu al-Husin an-Nuri berteriak dengan menyatakan kalimat berikut ini: “Kau tidak boleh berbicara tentang tema-tema yang diselami kaum sufi. Karena ketika mereka ditindas oleh penguasa Abbasiyah, kau menyingkir dari kalangan mereka, kau bergabung dengan para ulama yang posisinya jauh lebih aman.”

Harap diketahui bahwa pada masa dinasti Abbasiyah di sekitar tahun 900an Masehi, posisi kaum sufi yang senantiasa bersikap kritis terhadap kekuasaan Abbasiyah berada pada kondisi yang sangat getir. Disiksa dan dipenjara. Syaikh Husin bin Manshur al-Hallaj yang dieksekusi mati pada tahun 922 Masehi adalah salah satu contoh konkret tindakan brutal kekuasaan.

Berbeda dengan posisi para ulama di saat itu. Kelompok orang berilmu, utamanya di bidang agama, yang lebih lentur dan adaptatif ketika berhadapan dengan sikap otoritarian kekuasaan, mereka lebih terhormat dan dilindungi. Bahkan dalam kasus tertentu, mereka malah menjadi bagian dari taring kekuasaan. Contohnya adalah bahwa Syaikh Junaid al-Baghdadi adalah termasuk salah satu di antara ulama yang membubuhkan tanda tangan yang merupakan bukti setuju terhadap dieksekusinya al-Hallaj.

Dari sini kita bisa memahami konteks kalimat yang dilontarkan oleh Syaikh Abu al-Husin an-Nuri terhadap Syaikh Junaid al-Baghdadi: “Kau tidak boleh berbicara tentang tema-tema yang diselami kaum sufi. Karena ketika mereka ditindas oleh penguasa Abbasiyah, kau menyingkir dari kalangan mereka, kau bergabung dengan para ulama yang posisinya jauh lebih aman.”

Syaikh Junaid al-Baghdadi sadar dan mengakui hal itu. Juga mengakui adanya kelebihan dan ketinggian pangkat spiritual an-Nuri terhadap dirinya. Ketika beberapa waktu setelah itu Syaikh Abu al-Husin an-Nuri wafat, dengan perasaan sedih dan pilu, Syaikh Junaid berujar sembari penglihatannya menerawang sosok yang dikaguminya itu: “Separuh ilmu tasawuf menjadi hilang dengan wafatnya an-Nuri.”

Syaikh an-Nuri yang tangannya senantiasa memegang tasbih, yang hatinya senantiasa berdzikir agar tidak dihinggapi oleh lalai kepada Allah Ta’ala, pernah pada suatu hari menyatakan kepada seseorang yang sangat tekun beribadah: “Janganlah kau tertipu oleh kejernihan ibadah. Karena di dalamnya ada kemungkinan lalai terhadap dimensi rububiyah hadiratNya.”

Itu artinya adalah bahwa betapa sangat penting memahami sekaligus menyelami dimensi rububiyah itu. Yakni, kita menyaksikan dan kagum dengan sepenuh hati terhadap adanya keterlibatan Allah Ta’ala di dalam mengelola dan mengembangkan seluruh makhluk di alam semesta dengan penuh kasih-sayang. Menyaksikan dan mengalami hal itu akan menjadikan siapa pun merasa “menyatu” dengan hadiratNya.

Bagaimana mungkin tidak, dia akan merasa gembira karena telah diperankan oleh Aktor Hakiki yang tidak lain adalah Tuhan semesta alam dalam berbagai job kehidupan yang ditekuninya. Dia menyaksikan hakikat dirinya sendiri yang sesungguhnya pasif, dan pada saat yang bersamaan dia menyaksikan dan merasakan betapa Tuhannya sedemikian aktif. “Setiap hari Dia dalam keadaan sibuk,” (QS. ar-Rahman: 29). Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie
Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.