SYAIKH ADIB KAMANDI

Nama beliau adalah sebagaimana judul di atas, persis, saya tidak menemukan tambahan satu kata pun di depan atau di belakang nama itu. Beliau adalah satu zaman dengan penulis kitab yang begitu terkenal, yaitu al-Mahjub yang tidak lain adalah al-Hujwiri. 

Tidak terlalu banyak cerita yang ditulis tentang beliau. Mungkin terlalu jauh beliau dari penulis cerita. Mungkin beliau hanya suntuk kepada Allah Ta’ala dan tidak ada cerita untuk apa pun yang lain. Kelihatannya, karena suntuk kepada hadiratNya, sehingga tidak ada cerita untuk apa pun yang lain. 

Bayangkan saja, sampai dua puluh tahun beliau tidak pernah duduk, kecuali pas tasyahud ketika shalat, itu pun hanya sebentar. Bayangkan, betapa hanya sebentar duduk pada tasyahud ketika shalat di antara seluruh bentangan waktu yang ada. Bahkan tidur sekalipun beliau harus berdiri. 

Orang-orang bertanya kepada beliau: “Kenapa kok jenengan tidak mau duduk?” Mendapatkan pertanyaan seperti itu, beliau menjawab: “Sekarang, sama sekali tidak ada derajat bagiku untuk duduk di dalam menyaksikan Allah Ta’ala.” Sungguh, itu merupakan jawaban yang sangat telak. 

Saya membayangkan, betapa terheran-herannya beliau kepada kekuasaan Allah Ta’ala. Di dalam memandangnya, seolah-olah beliau tidak butuh berkedip sedikit pun. Dari saking takjubnya kepada hadiratNya itu. Bagaimana Dia bisa memiliki kekuasaan yang tidak terbatas. 

Orang-orang yang takjub kepada Allah Ta’ala berbicara dengan cara diam. Diam adalah cara yang paling pas tentang ketakjubannya itu. Tidak ada cara yang lain. Yang paling menakjubkan betul-betul hanya Allah Ta’ala, yang lain-lain betul-betul tidak ada, baik di langit maupun di bumi. 

Semakin takjub kepada hadiratNya, semakin minim beliau berbicara. Karena apakah yang bisa diungkapkan selain ketakjubannya itu? Takjub tidak perlu diungkapkan dengan kata-kata. Tidak bisa diungkapkan kecuali dengan takjub itu sendiri. Tanpa kata-kata atau kalimat apa pun. 

Betapa sangat menakjubkan Allah Ta’ala itu. Segala sesuatu diciptakan tanpa ada cerita terlebih dahulu tentang segala sesuatu itu. Segalanya serba baru. Lengkap dengan warna-warninya. Lengkap dengan sistemnya. Lengkap dengan makan atau minumannya. Betapa Allah Ta’ala itu segalanya. 

Takjubku kepada Allah Ta’ala itu tidak berkesudahan. Terus datang susul-menyusul. Belum dikunyah satu hal, sudah datang hal yang lain. Terus begitu, tidak ada henti-hentinya. Segalanya serba Allah Ta’ala. Sungguh, serba hadiratNya. Tidak ada yang lain, tidak ada yang betul-betul lain. 

Tentang Syaikh Adib Kamandi, takjubku kepada Allah Ta’ala semakin menjadi-jadi. Beliau ditarik sedemikian rupa kepada hadiratNya dengan cara yang tidak lazim. Maka, tertariklah beliau kepada Allah Ta’ala sedemikian rupa, melebihi rasa tertarik kepada apa atau siapa pun yang lain. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie
Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Comments

  1. Mzfrds Reply

    Dari mulai judulnya saja sudah membuat saya tertarik untuk membacanya ceritanya bagus mengenai seseorang yg betul2 bertaqwa KPD Allah bahkan dari cerita nya beliau TDK mau duduk selain tasyahud saja sungguh keimanan orang2 dulu sangatlah kuat patut kita contoh

  2. Snd Reply

    Masyaallah

  3. Boyu Reply

    Membaca cerita ini sy jadi berpikir, ibadah apa yang ia lakukan sehingga ia hanya duduk saat sholat. Berdiri sambil tidur, dan ucapan2 yang ambigu. Diluar nalar dan ajaran rosul, jika diikuti termasuk bid’ah. Apa yang ia lakukan di dunia yg harusnya menyebar kebaikan? Bukan sembahan semata-mata pada Tuhan, yg jelas Tuhan sendiri meminta manusia untuk menabur kebaikan dan batin surgawi di dunia

  4. Ramsey Reply

    cukup menarik, dan seru

Leave a Reply to Snd Cancel Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!