Syaikh Ahmad an-Najjar & Syaikh Abu Zur’ah ar-Razi

Syaikh Ahmad an-Najjar

Beliau adalah Ahmad an-Najjar al-Istirsyadi. Menurut Syaikh Abu Isma’il ‘Abdullah al-Anshari al-Harawi yang dikenal dengan sebutan Syaikh al-Islam, beliau adalah seorang syaikh yang bermukim di Khurasan. Beliau bersahabat dengan Syaikh Abubakar asy-Syibli dan Syaikh al-Murtaisy.

Dikisahkan oleh Syaikh al-Islam bahwa beliau pernah menyaksikan Syaikh Abubakar asy-Syibli suatu saat pernah mencukur kumisnya. Sejak saat itu, tidak pernah mau tumbuh sehelai bulu dari kumisnya itu. Sama sekali. Sungguh sangat menakjubkan hal tersebut.

Beruntung sekali beliau bersahabat dengan Syaikh Abubakar asy-Syibli. Sebab, dapat dipastikan bahwa beliau itu mesti dibawa kepada Allah Ta’ala, bukan kepada sesuatu yang lain. Sebab, himmah terbesar seorang sufi pastilah hadiratNya sebagai satu-satunya asal-usulnya. Juga sebagai asal-usul segala sesuatu.

Syaikh Abu Zur’ah ar-Razi

Beliau adalah Ahmad bin Muhammad Abu Zur’ah ar-Razi. Syaikh al-Islam mengatakan bahwa beliau pernah melihat tiga belas sufi yang pernah menyaksikan Syaikh Abu ar-Razi. Beliau adalah salah satu murid dari Syaikh Abubakar asy-Syibli.

Murid-murid Syaikh Abubakar asy-Syibli itu mengatakan bahwa setiap hari Syaikh Abu Zur’ah ar-Razi itu mengatakan: “Aku tidak memiliki apa-apa selain membuat orang-orang fakir tertawa karena perkataanku.” Artinya apa? Setiap kali beliau berkata-kata, itu sudah menghibur mereka.

Menurut Syaikh al-Islam, mereka berjumpa dengan Syaikh Abu Zur’ah ar-Razi di dalam mimpi setelah kematian beliau. Mereka bertanya kepada beliau: “Apa yang Allah Ta’ala perbuat untuk jenengan?” Kenikmatan kubur atau siksa kubur yang kau dapatkan dari hadiratNya?

Mendapatkan pertanyaan seperti itu, beliau menjawab bahwa Allah Ta’ala memanggil kepada dirinya dan berfirman: “Engkau adalah orang yang mengenakan baju perang di dalam agamaku bersama makhluk?” Beliau menjawab: “Ya.” Allah Ta’ala berfirman lagi: “Kenapa kau menyerahkan makhluk kepadaKu dan kau hadapkan hatimu kepadaKu?”

Maksudnya adalah: kenapa kau tidak menyerahkan makhluk kepada diriKu? Kenapa kau tidak menoleh dengan hatimu kepada diriKu? Mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Tuhan semesta alam sungguh sangat menyenangkan. Pertanyaan seperti itu, tidak tanggung-tanggung, datang dari Rabbul’alamin.

Pertanyaan seperti itu oleh beliau dijadikan kebanggaan di dalam hatinya. Tidak sembarang orang mendapatkan pertanyaan dari Allah Ta’ala sebagaimana beliau. Sungguh sangat menyenangkan rasanya, bagi beliau, berdialog dengan Tuhan seluruh alam raya. Betapa banyak orang yang menginginkan seperti itu.

Beliau menjadi lupa kepada yang lain-lain karena dari saking senangnya terhadap dialog itu. Beliau semakin hari menjadi semakin cinta kepada Allah Ta’ala. Di hatinya, yang ada hanya hadiratNya, tidak ada apa pun yang lain. Duh, betapa aku juga ingin memiliki hati yang demikian. Semoga. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie

Comments

  1. Agung Reply

    Di malam yang sunyi dan gelap
    Bintang-bintang bersinar dengan cerah
    Aku duduk sendiri, merenung dalam hati
    Mengingat kenangan yang tak pernah mati

    Di sini, aku menulis kata-kata
    Untuk mengungkapkan isi hati
    Semoga puisi ini bisa membuatmu tersenyum
    Dan mengingatkanmu bahwa kamu tak sendiri 💕

Leave a Reply to Agung Cancel Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!