Menghakimi Justice League (2017); Film Propaganda Agar Tak Terpecah Belah

in Hibernasi by
Menghakimi Justice League (2017); Film Propaganda Agar Tak Terpecah Belah
Justice League (2017). Sumber gambar: IMDB

Setelah Gal Gadot The Movie aka Wonder Woman sukses mengobati kekecewaan fans komik terhadap DCEU atas tiga film buruknya—tak perlu penulis sebutkan, di penghujung tahun 2017 lagi-lagi Gal Gadot mengharumkan nama DC untuk kedua kalinya di tahun yang sama. Walau berita yang lagi hangat adalah Gal Gadot tidak mau memerankan Wonder Woman di film keduanya karena bermasalah dengan kasus pelecehan seksual yang menimpa salah satu produser film DC. Kalau berita ini jadi benar, Gal Gadot tidak perlu khawatir. Dia sudah dipersiapkan mendapatkan peran pahlawan wanita lain, Kartini yang ternyata tidak mendapat apresiasi bagus dan kalah dengan film setan di negeri sendiri.

Terlepas dari itu semua, film bertajuk Justice League ini mendapat kekhawatiran karena film prolognya dicaci maki oleh semua kalangan. Beberapa kecaman terhadap sang sutradara terus dilakukan walau akhirnya semua berbalik kasihan ketika putri Zack Snyder bunuh diri sewaktu proses syuting sudah hampir final. Proses produksi dilanjutkan ke tangan Joss Whedon—yang tutup akun Twitter setelah film Age of Ultron yang ia garap dicaci maki, walau di kredit awal film ini masih ditulis directed by Zack Snyder.

Menghakimi film Justice League—karena ada unsur hakim di “keadilan”, tanpa menontonnya lebih dulu sama berdosanya dengan mengarak pasangan mesum, mengatakan Star Wars adalah telenovela dengan setting luar angkasa, dan mengejek Belanda tidak lolos ke Piala Dunia. Para pemuja situs tomat busuk agak kebingungan ketika rating film ini tak kunjung terlihat padahal sudah premiere di beberapa negara termasuk Indonesia. Namun tidak juga membuat film ini lantas menjadi yang terbaik di tahun 2017 karena bagi penulis yang terbaik adalah Star Wars Episode 8 yang akan tayang 15 Desember 2017! Maka mulai saat ini, lingkari kalender kalian!

Film dimulai dengan adegan Superman diwawancarai oleh anak kecil dan diakhiri dengan pertanyaan yang agak menohok karena kita semua tahu Superman adalah Alien. Kematian Alien di film BVS—ini sudah bukan lagi, membawa kemurungan sekaligus juga membawa kekhawatiran bagi beberapa orang. Jika kalian ingat plot Iron Man 3, keresahan Tony Stark juga dimulai dengan hal ini. Jadi selanjutnya sebenarnya plot JL adalah gabungan Avengers+Iron Man 3+Gal Gadot. Tidak ada yang istimewa. Kecuali Gal Gadot.

Ya. Film ini selain memberikan tribute kepada theme song Batman tahun 70-an juga sering memperlihatkan wajah Gal Gadot yang membuat penulis sering menahan napas karena sering hampir setiap scene-nya selalu diambil close-up!

Seakan Snyder sudah terlalu pusing dengan banyaknya review jelek yang ia terima dan pemberitaan tentang film ini baiknya ditunda dulu lalu ia cerita kegelisahannya kepada tim dan tiba-tiba ada anak magang mengatakan, “Gimana kalau tiap shoot yang ada Gal Gadot kita close-up saja?!”

Ide ini sungguh brilian! Harusnya anak magang ini diberi kredit lebih banyak ketimbang para nama komikus DC yang numpang nongol di kredit titel. Bahkan satu shoot yang membuat penulis terngiang adalah tak cuma wajah, bokong Gal Gadot juga di shoot close-up! Oke… sebelum kalian menghujat tulisan ini, bokong yang di-shoot untungnya tidak telanjang—walau penulis berharap harusnya demikian.

Karena plot yang termasuk standar dan tidak ada wahnya—kecuali plotnya Mbak Gadot walau awalnya agak mengingatkan adegan dengan pembukaan film Dark Knight, eksekusi film ini sama sekali tidak ada tone yang dark yang selama ini bagi para DC fanboy banggakan. Ini sekaligus bisa menjadi pembenaran kalau Marvel memang terlalu membiarkan film-film mereka digarap dengan tone ceria sementara DC adalah penghasil kisah kelam, sekelam rating mereka.

Ini dikarenakan karakter Barry Allen yang menjadi Flash terkesan komedik dibandingkan versi serialnya yang sering galau perkara cara mendapatkan cinta cewek masa kecilnya. Ini juga menghapus rasa penasaran para fans serial Flash ketika Flash dikabarkan gabung ke layar lebar tapi dengan pemeran beda. Selain terlalu banyak melontarkan lelucon yang sulit ditangkap karena saking cepatnya, Barry Allen di film adalah seorang Kpopers yang membuat dia nilainya semakin jelek di mata penulis. Tapi ada nilai khusus ketika Barry Allen mengucapkan, “Dostoyevsky” kepada seorang gadis asal Rusia yang ia selamatkan yang membuat penulis ngakak.

Sementara Cyborg sendiri adalah cowok sok tegar yang sok-sokan mau ketemuan sama Mbak Gadot sendirian, Aquaman terlihat seperti mas-mas yang baru habis keluar dari toko tato dan berjemur di pantai. Batman-nya sendiri?

Selain masih bersalah kenapa tidak kunjung mendapat film sendiri, Ben Affleck makin menegaskan kalau Batman hanyalah om-om tajir melintir yang maunya nampang di selfie grup tapi karena sok cool dia milih tempat paling belakang. Batman bukanlah Batman yang selama ini sudah dipotretkan oleh semestanya Nolan. Jika kedua Batman dibandingkan tentu masih bagus Batman yang menunjukkan pentilnya. Toh porsi Batman di film ini tentang penebusan dosa serta rekonsiliasi hubungannya dengan si Alien. Juga walau Batman memang manusia kaya, setidaknya dia menunjukkan kalau manusia kaya mampu membuat senjata untuk menghancurkan markas Alien.

Adegan aksi untuk sekelas film superhero yang berhamburan karakter yang perlu disorot tidak berlebihan. Tidak seperti film superhero yang belum lama tayang, Thor yang aksinya kurang dan konklusi yang sepertinya terlalu dipaksakan. Walau di JL sendiri kebanyakan memakai efek slomo karena adanya Flash—juga dipakai sewaktu X-Men memperkenalkan Quicksilver, tapi cukuplah untuk melihat Mbak Gadot membacok musuh dengan tayangan lambat yang ternyata masih terlihat cantik! Terlebih pertempuran akhirnya yang membosankan. Musuh terlihat kuat di awal kalah dengan keroyokan. Bahkan sebenarnya Mbak Gadot sendirian saja cukup buat mengalahkan musuh ini. Siapa sih yang tidak meleleh melihat Mbak Gadot senyum?!

Musuh kali ini tidak menunjukkan efek seram dan menebarkan teror bagi anak kecil yang nonton. Penggambaran Steppenwolf—mirip dengan judul novel karya Hermann Hesse, sudah mirip dengan apa yang ada di komik, juga pernah sepintas terlihat sewaktu BVS. Latar belakangnya digambarkan samar sehingga penonton yang menonton cukup tahu kalau dia adalah hanyalah karakter jahat yang akan kalah di akhir film. Toh penulis tidak merasakan kalau tujuan akhir Steppenwolf tercapai dunia akan hancur karena penulis berada di Indonesia sementara markas Steppenwolf sendiri di Rusia. Jadi amanlah penulis menikmati hari-hari memandangi wajah Mbak Gadot sambil makan ayam cokelat.

Liga Kebenaran ini hanyalah proyek senggang para superhero milik DC ketika tidak punya waktu luang. Toh kalau ada musuh yang kuat cukup kirim satu superhero—terutama Mbak Gadot, untuk membereskan, semua akan baik-baik saja. Liga Kebenaran ini adalah alat pembenaran kalau DCEU masih bisa bertahan dan sanggup mewujudkan mimpi para fans komik ketika apa yang sekadar mereka baca bisa divisualisasikan ke media lain mumpung teknologi sudah memudahkan. Proyek ini tidak lantas memberi jawaban kepada tetangga mereka Marvel bahwa mereka masih punya tenaga untuk menguasai Box Office. Toh selama ini belum ada film kumpulan supehero yang sanggup memanjakan mata penulis. Kecuali JL karena ada Gal Gadot.

Jadi untuk apa tim promosi DC sampai menggunakan tagline: “Unite the League” atau “You Can’t Save the World Alone”?

Ini hanyalah kampanye propaganda untuk menyatukan kita para manusia lemah agar tidak terpecah belah. Bukan superhero yang harusnya bersatu, tapi para jelata yang tiap kali kena isu gampang terpecah belah. Masa karena isu sepele dari “grup sebelah” WhatsApp, Mbak Gal Gadot harus turun tangan? Untungnya pesan kampanye film ini tidak digunakan oleh para copywriter yang menggerakkan para ormas untuk berdemo. Penulis agak geli membayangkan jika ajakan demonya dibuat sekeren poster film Justice League karena rata-rata yang “mereka” cari bukanlah keadilan namun pembenaran.

Pesan moral film ini sungguh mulia sehingga tidak akan sampai masuk ke dalam pemikiran manusia biasa. Maklum pemikiran mereka masih tertutup dengan kebenaran berkabut di depan mata. Alhasil memang manusia ada baiknya begini. Berpecah dan jangan bersatu.

Tetapi tetaplah nonton film ini. Gal Gadot tetap yang terbaik di mata penulis.  Penulis juga berharap kalian tidak seperti penulis—nonton film ini di samping mbak-mbak yang sepanjang film malah buka WA daripada fokus ke Mbak Gal Gadot. Padahal mbak-mbak ini sudah kedinginan dan penulis yang tidak merasakan dingin karena dihangatkan oleh Mbak Gadot berharap mbak-mbak ini nyender di pundak penulis. Eh malah sibuk WA dan sinar hapenya bikin silau. Ditambah ternyata gambar yang ditayangkan di layar tidak sepenuhnya presisi pula sehingga terkesan layarnya kurang besar. Kalau saja tidak ada Gal Gadot, mungkin penulis memilih Walk Out dan mengajak para warganet untuk memboikot jaringan bioskop ini.

Semoga juga kalian punya kisah seru sewaktu nonton film ini dan bisa mengikuti lomba yang diadakan DIVA Press tentang kisah dalam bioskop—Mbak Rina bisa kok nambahi promosi lombanya di sini tapi nanti harus ngirimi Jacob buku Italo Calvino. :*

Jacob Julian

Jacob Julian

Penulis, penggemar film yang merangkap sebagai detektif partikelir, juga pandit sepak bola antar kampung.
Jacob Julian