Review Film Wonder Woman (2017) Plus Surat Cinta untuk Gal Gadot

in Hibernasi by
Review Film Wonder Woman Plus Surat Cinta untuk Gal Gadot
Review Film Wonder Woman (2017). Sumber gambar: time.com

Kepada wanita yang selalu membuatku terpana, Gal Gadot,

Mbak, tadi barusan aku menonton filmmu yang paling baru. Ini film yang sudah lama kunanti setelah aku jatuh cinta padamu saat pandangan pertama. Harus kuakui, tatapan matamulah yang telah membunuh tenagaku dan menyumbat pembuluh-pembuluh nadiku. Kita pertama kali bertatapan tentu saja aku membayangkan senja di Pantai Karibia. Pohon kelapa, debur ombak dikelilingi suara camar yang berisik memakan bangkai paus dan hiu-hiu yang mengitarinya lalu kau keluar dari laut memakai bikinimu berwarna oranye selaras dengan latar belakang syahdu itu. Rambutmu basah karena air laut kau sibak karena air garam tidak bagus untuk rambut apalagi kuyakin perawatan rambutmu tidak cukup seharga creambath di salon Rudi Hardisuwarno.

Mata kita menatap. Aku saat itu sedang memberi lilin untuk papan seluncur. Ada senyum yang kuingat kala kedipanmu membuat seluruh tubuhku basah—aku berada terlalu pinggir dari pantai dan kuyakini kedipanmu tadi memberitahuku agar aku berhati-hati untuk tidak terseret ombak dan di makan hiu.

Tunggu, Mbak…, aku yakin, kamu mengira ini hanyalah surat dari fans yang sering melamun di pinggir pantai saat pemutar MP3-nya memainkan lagu David Foster. Adegan pantai tadi memang kukarang, sih. Yang jelas tingkat delusiku masih wajar daripada orang-orang yang ikut-ikut fandom-fandom random itu. Btw, aku nggak terlintas untuk membuat fandom Gal Gadot cabang Kartoharjo. Kuingin tapi ku tak mampu karena aku tak kunjung juga punya ragamu apalagi hatimu.

Ah ya, kembali lagi ke adegan pantai tadi. Mungkin kamu ingat itu hanyalah cuplikanmu memakai bikini cokelat agak keungu-unguan di Fast Five, film Fast & Furious paling bagus menurutku ya karena adegan ini. Tuh kan aku hafal lho warna bikinimu. Hahahaha….

Anyway… maafkan aku jadi sering melantur ya, Mbak. Izinkan aku membicarakan sebentar tentang film barumu itu, Wonder Woman. Ah ya, terkadang aku bingung lho Mbak sama orang-orang di luar sana. Kenapa demikian? Begini. Mbak ingatlah bagaimana film remake Ghostbusters tahun lalu. Semua pemerannya diganti dengan perempuan. Aku nggak mau mengangkat isu feminis di sini, tapi film Ghostbusters yang remake itu memang nggak bagus menurutku. Ceritanya buruk dan sama sekali tidak layak sebagai sebuah remake.

Ayolah, Mbak, jangan berhenti baca suratku ini. Aku tidak menyudutkan para perempuan dalam konteks apa pun. Seminggu sebelum filmmu terbit, aku membaca berita bahwa screening khusus Wonder Woman yang hanya boleh dihadiri oleh para wanita, diserang oleh para orang-orang semacam itu. Mungkin kamu sedikit membacanya, Mbak, atau kamu sibuk dengan syuting film Justice League, entahlah. Padahal beberapa minggu sebelumnya, di negaraku lagi viral tentang wanita-wanita tangguh yang sepertinya keroyokan merebutkan tempat duduk di KRL khusus wanita juga. Mereka tangguh seperti wanita Amazon yang kamu perankan, Mbak. Tapi sepertinya kalau yang mereka keroyok itu para tentara Jerman yang menyerang Themyscira, mungkin semuanya bisa dimaklumi. Toh video ini hanya sekali lewat di linimasaku. Oh ya, Mbak Gal Gadot mau mem-follow Twitter-ku?

Aku juga salut dengan penyutradaraan Patty Jenkins. Di saat sutradara DC yang lalu-lalu loyo, kini dia sekarang menampar mereka buat melek dan membuat standar baru untuk film DC selain Watchmen. DC film kok harus gelap terus, buktinya Wonder Woman ini bisa secerah senyumanmu, Mbak.

Setelah aku ngecek Wiki, Patty Jenkins ini baru membuat dua full featured films rupanya. Yang pertama, Monster, tidak masuk dalam radarku. Entahlah. Mungkin saat itu sinyal modemku buat unduh film tak selincah sepak terjangmu sewaktu memuntir laso kebenaran.

Aku ini suka film lho, Mbak. Aku saja kuat kok nonton film Jodorowsky, Tarkovsky, Aronofsky tanpa harus minum anggur cap orang tua lebih dulu. Mbak merasa aneh nggak sih, kalau nama sutradara yang barusan kusebut suka membuat film aneh dan mereka berawalan sky yang artinya langit di dalam bahasa negaraku. Kalau dalam kamusku, langit itu adalah matamu, Mbak.

Aku yakin Mbak Gadot suka film, kan? Aku mau kok nemenin Mbak Gadot nonton DVD bajakan sepuluh ribuan di malam Minggu sambil buatin Mbak Gadot Indomie.

Juga, kisah Wonder Woman kali ini lebih bagus ketimbang saat aku membaca komik Wonder Woman: Earth One yang ditulis Grant Morrison dan digambar sama Yanick Paquette.  Komik ini bagus juga buat orang yang ingin baca kisahmu dalam bentuk komik. Hanya saja penggambaran mereka tentang Steve Trevor di komik ini sungguh mengecewakan.

Aku juga nggak suka penggambaran Steve Trevor di film ini, Mbak. Chris Pine aktingnya ya begitulah. Khas seorang manusia lemah yang akhirnya jadi love-interest si pahlawan super. Yang aku nggak suka ya adegan kalian di dalam kamar itu! Apaan, sih. Harus ya Mbak Gadot ciuman tapi digelap-gelapin gitu? Aku tahu ini filmnya tayang saat bulan Ramadan. Tapi kan… aku nggak tega lihat bibirmu dilumat begitu saja dengan seorang mata-mata Inggris yang tiba-tiba nyasar di pulau surga. Aku aja kalau nyasar paling ke kuburan, lha ini kok dia hoki nyasar ketemu Diana Prince yang kamu peranin, Mbak. Seandainya hidup itu adil, Mbak, harusnya sampeyan nggak perlu nolongin Steve Trevor. Biarin aja dia tenggelam saat pesawatnya jatuh. Toh dengan begitu, bibir Mbak Gadot nggak ciuman sama Chris Pine. Tapi ya, sampeyan sudah ciuman sama Sung Kang juga. Terang-terangan pula pas naik mobil. Sampeyan dipangku gitu, kan? Kamu nggak tahu betapa sakit hatinya aku lihat adegan itu, Mbak?

Kembali lagi di film Wonder Woman, walau penuh aksi dan sedikit drama romantika Diana dan Trevor, film ini sama sekali nggak ada humornya, Mbak. Waktu aku diskusi sama dulur-dulur yang ikut nonton bareng film ini, memang kerasa kalau humornya sangat kaku. Entah itu di adegan atau percakapan, garing sekali.

Walau aku nggak tertawa sewaktu kamu melontarkan guyonan, sepanjang film aku terus tersenyum kok, Mbak, waktu layar bioskopnya ada kamu. Untung aku nggak sempat mimisan, sih. Sesekali aku merinding waktu Wonder Woman theme—yang juga diputar saat kemunculanmu di Batman Vs Superman, berputar. Theme song itu begitu membahana, Mbak. Kalau aku sedang sendu galau ketika hujan menerpa jendela kamarku dan aku tahu kamu di sana kelon sama orang lain, lantas kuputar lagu ini, seakan aku siap bangkit dari kasurku. Bergerak paling depan memimpin perlawanan antek-antek kapitalis yang tiap hari menggerogoti sendi-sendi kehidupan manusia, Mbak. Tapi aku mohon maaf ya, Mbak, theme song itu masih kalah sama The Imperial March. Kamu pasti tahu alasannya.

Oh sebenarnya ada adegan lucu kok, Mbak. Aku mau cerita tapi aku takut spoiler ketika surat ini dibaca orang lain—kuusahain surat ini hanya sampai ke tanganmu itu. Yang jelas itu adegan pas kamu mau melawan Ares lalu lupa pedangmu di mana. Itu yang nulis skenarionya bingung ya, Mbak? Kok kamu nggak protes sih, Mbak? Walau di adegan itu aku hanya melihat punggungmu, tapi itu jelas konyol sekali. Mbok ya kamu itu protes gitu lho, Mbak. Proteslah, Mbak, sebab dunia ini berfondasi oleh protes-protes tersebut.

Seperti saat orang-orang protes di ketiakmu tidak tumbuh bulu padahal Amazon itu jauh dari kata salon. Ingatkan mereka juga, Mbak, untuk protes kenapa wajahmu tidak pernah kena kotoran di saat kamu bertempur melawan ratusan prajurit di tanah berlumpur padahal kamu fokus melindungi dirimu dari serangan peluru dengan gelangmu. Apa sebenarnya para Amazonians ini memang dilahirkan tidak satu pun kotoran manusia menempel di tubuhnya?

Aku rasa sudah cukup begitu saja ceritaku setelah aku menonton film barumu ini. Aku tetap akan menantikan Justice League walau mungkin waktumu tampil di film itu sedikit karena kalah dengan pahlawan super yang lain. Aku juga berbelasungkawa saat mendengar Zack Snyder memutuskan untuk mundur di proyek ini karena kematian putrinya. Semoga itu tidak mengganggu jalannya produksi film ini. Semoga dengan review film Wonder Woman yang positif, para produser mau membuat film yang keduanya walau itu mungkin akan butuh waktu yang sangat lama. Tapi kamu masih cocok memerankan Diana Prince kok, Mbak. Umurmu sekarang baru 32, toh? Setidaknya kalau delapan tahun lagi film Wonder Woman itu muncul, semoga rasa cintaku untukmu tidak memudar.

Ya itu karena aku baru setelah membaca Wikipedia, kamu itu ternyata sudah menikah sama orang Israel. Anakmu sudah dua rupanya, yang paling bungsu baru lahir bulan Maret lalu. Kok gitu kamu nggak ngabarin aku sih, Mbak? Padahal tiap postingan fotomu di facebook selalu kubagikan tanpa perlu lihat isi captionnya.

Mungkin hari ini, saat aku menulis surat ini, aku merasakan kekecewaan tiga kali: melihat kamu ciuman sama Chris Pine, baru sadar kalau kamu itu ibu beranak dua, dan juga tiket bioskop yang mahal karena saat aku nonton besoknya libur. Kalau tiket bioskop terus-terusan mahal, kapan aku bisa nabung nyusul kamu?

Kalau Samuel Beckett membuat Waiting for Godot, sebentar lagi kumpulan cerpenku akan kuberi judul, Menunggu Gadot. Itu sebagai bukti kalau aku begitu mendamba untuk mencium bau tubuhmu dari dekat. Atau cukup melihat senyumanmu sejarak tiga langkah dari depan hidungku. Sebab kalau terlalu dekat, hantaman bodyguard-mu akan merontokkan gigiku.

Mungkin surat ini bisa menjadi sebuah sarana melampiaskan bahwa film di mana kamu menjadi pemeran utamanya melebihi ekspektasi yang kutimbun selama ini. Sejauh surat ini tak mungkin kamu baca, setidaknya kamu tahu; kotaku lagi musim cegatan polisi. Hati-hati kalau bawa kendaraan.

Madiun, setelah premiere Wonder Woman

Tertanda,

Penggemar berat yang menanti kamu berpisah dengan suamimu.

Trailer Wonder Woman:

———————————————

Jacob Julian

Jacob Julian

Penulis, penggemar film yang merangkap sebagai detektif partikelir, juga pandit sepak bola antar kampung.
Jacob Julian