Seorang Gadis di Dalam Senja

in Cerita Pendek by
seorang gadis di dalam senja
Sumber gambar ytimg.com

Seharusnya, gadis itu telah berumur ratusan tahun.

Ia terperangkap di dalam senja lebih dari seabad yang lalu. Tepatnya ketika ia masih seperti remaja tujuh belas tahun. Sejak saat itu usianya tak bertambah lagi, ia tetap muda dan tak bisa kembali. Namun gadis itu tidak pernah dianggap hilang, sebab orang-orang masih bisa melihat kemunculannya hampir setiap hari, yaitu menjelang petang ketika langit tampak kuning kemerah-merahan di barat jembatan Sungai Serayu.

Hamparan sungai yang melewati Desa Kebasen ini memang menawarkan pemandangan tersendiri. Dari sinilah Anda bisa melihat dengan jelas bagaimana sosok gadis itu di dalam senja. Meskipun langit itu jauh, gadis itu terlihat jelas sebesar rembulan. Ia kadang berlari, kadang berjalan, kadang pula hanya duduk termenung. Ia seperti berada dalam selaput bening yang menyelimutinya. Seolah-olah ia terperangkap dalam sebuah gelembung raksasa, tapi ini bukan gelembung, ini senja, dan ia terkurung di balik langit yang tampak transparan itu.

Anehnya, gadis itu tak bisa terlihat di tempat yang lain, di senja yang lain. Ia tak akan muncul di langit senja Pantai Kuta, atau di Bukit Kadungora, atau di mana pun tempat senja bisa dilihat dengan sejelas-jelasnya. Di tempat lain, hanya akan ada senja biasa, matahari bundar seperti koin yang menyalakan cakrawala. Gadis itu hanya bisa dilihat dari tepi Sungai Serayu. Di atas barisan pohon pinus dan jalan raya ke arah Purwokerto. Karena itulah, banyak orang berkumpul di sana.

“Siapa pun harus menolongnya.” Begitu yang biasa diucapkan seseorang kalau baru pertama kali melihatnya.

“Ya. Sudah seratus tahun mereka berkata harus ada yang menolongnya tapi tak seorang pun tahu caranya,” jawab yang lain. Maka mereka pun hanya bisa menatap gadis itu.

Di langit yang kuning-kemerahan, di antara awan tipis yang berarak pelan, gadis itu seperti berjalan mengambang, duduk juga mengambang. Kadang ia terlihat menusuk-nusuk selaput langit itu dengan tangannya, sehingga langit itu seperti akan robek dan entah apa yang akan terjadi di muka bumi ini kalau sampai langit benar-benar robek, mungkin seisi lambung langit akan tumpah, akan muncul hujan yang tidak pernah ada dalam bayangan manusia. Apakah surga pun akan jatuh ke bumi bersama bidadari yang berhamburan dengan pakaian-pakaian berhias safir dan mutiara?

Namun langit tetap kokoh. Gadis itu tidak pernah berhasil. Setiap kali ia merasa telah melubangi langit sebesar jari kelingking, maka langit itu akan dengan cepat menutup lubangnya sendiri. Dan gadis itu akan kelelahan.

Pada kemunculan di senja berikutnya, gadis itu tetap saja menyempatkan untuk melubangi langit itu lagi. Dan saat ia menyerah, ia hanya akan duduk dengan tatapan kosong, berjalan mondar-mandir, atau diam seperti sedang melamun.

Orang-orang juga tak bisa mendengar suaranya. Kalau gadis itu berteriak-teriak—terlihat dari gerakan mulutnya—orang-orang tak pernah mendengar apa-apa, tak tahu apa yang diucapkannya. Gadis itu seperti bisu, seperti sedang beradegan pantomim. Namun semua tahu gadis itu tidak bisu. Pernah datang seorang yang dikenal ahli membaca gerak bibir untuk menafsirkan ucapannya, tapi gagal karena ia bahkan tak bisa memahami bahasa yang dipakai gadis itu.

“Seperti bukan bahasa Banyumas atau bahasa Indonesia,” katanya.

Maka yang tampak kemudian seperti sebuah rutinitas. Setiap sore, bantaran Sungai Serayu dipenuhi orang-orang yang hendak menonton gadis itu sambil menikmati senja yang begitu romantis. Beberapa pasangan muda bahkan tidak malu untuk bermesraan di sudut-sudut ilalang yang lebih sepi, padahal gadis itu bisa melihat mereka dengan jelas.

Setiap kali ada kereta lewat menjelang senja, orang-orang di dalam kereta juga selalu menyempatkan untuk memandang ke luar jendela, menyaksikan gadis itu dengan sedih. Bahkan kadang masinis sengaja mengurangi laju kereta agar gadis itu, senja itu, bisa dipandang lebih lama oleh para penumpang.

“Lihat, Ma. Di langit ada orang,” kata seorang anak pada ibunya.

“Gadis itu lagi. Dia sudah ada sejak dulu.”

“Siapa yang memberinya makan? Apa ia tidak lapar?” kata orang yang lain.

Dan mereka selalu memandang takjub, bertanya-tanya, bagaimana gadis itu bisa terperangkap begitu lamanya?

“Apa kita juga bisa ke sana?”

“Dia harus dibebaskan. Mungkin dia hanya sedang tersesat.”

Usaha pembebasan bukannya tidak pernah dilakukan. Selalu ada saja yang mencari ide agar setidaknya bisa menemukan kejelasan tentang riwayat gadis itu. Pernah beberapa tahun lalu, beberapa orang yang merupakan pakar, peneliti, sekaligus ilmuwan luar angkasa, mengadakan pertemuan khusus untuk memecahkan keindahan itu—ah, mengapa keindahan butuh untuk dipecahkan?

Mereka mencari cara bagaimana setidaknya bisa mendekati gadis itu, agar bisa bertanya apa yang pernah menimpanya. Maka, pada suatu hari di masa lalu, sebuah pesawat pun meluncur ke arah senja. Pesawat supercepat itu melaju ke barat, tapi ternyata tak pernah bisa mencapai gadis itu. Langit seperti mundur dan menjauh, gadis itu ikut menjauh, terus menjauh, hingga pesawat pun hanya bisa menembus atmosfer, menuju ruang hampa udara. Berakhir dalam kekosongan, karena senja telah berakhir.

Pesawat itu pun akan pulang dengan perasaan hampa.

Selain dengan teknologi, ada pula yang masih menggunakan pemikiran tradisional, serupa mitos, dongeng, legenda. Ada yang bilang gadis itu dulunya anak raja yang enggan dijodohkan, sehingga raja meminta seorang penyihir untuk mengurung gadis itu di langit. Ada pula yang mengatakan bahwa gadis itu hanya bisa diselamatkan oleh seorang laki-laki yang tepat. Namun laki-laki yang tepat itu mungkin lupa atau tidak menyadari bahwa ia sangat dibutuhkan untuk menjawab semua teka-teki ini.

Selain dua kisah di atas, ada kisah lain yang lebih terkenal, yaitu bahwa gadis itu sesungguhnya adalah seorang bidadari yang dihukum karena melanggar aturan surga, bidadari itu nekat turun untuk mandi di Sungai Serayu, padahal mandi di bumi merupakan hal yang tabu. Entah siapa yang mengarang cerita ini. Bahwa bidadari itu kini dihukum dalam wujud manusia, dikurangi kecantikannya, ditampakkan bagi penduduk bumi. Dan ia berusaha keluar dengan melubangi langit, tapi selalu berakhir sia-sia.

Setiap orang akan mempercayai berdasarkan versinya sendiri. Dan bagaimana pun masa lalunya, gadis itu hanya bisa meratapi nasib terperangkap di dalam senja.

Entah bagaimana hakikat senja sebenarnya. Apakah ia semacam ruang isolasi di mana setiap orang tak tahu berapa luasnya, berapa tahun cahaya? Seperti ruang ketidakmungkinan yang abadi. Gadis itu mungkin bosan melihat banyak manusia memandanginya dari waktu ke waktu, melihat kereta yang melaju di mana jendela gerbong memantulkan warna merah termasuk bayang-bayang dirinya. Namun tak ada yang bisa ia lakukan kecuali ikut menghilang bersama terbenamnya matahari.

“Gadis itu, sesungguhnya tidak pernah sendirian,” kata seorang penyair suatu kali.

“Matahari menemaninya di kala malam,” kata penyair yang lain.

“Benar. Matahari besar sekali, pasti gadis itu tidak kesepian. Ia bisa tidur memeluk matahari.”

“Memeluk? Hm, aku jadi iri pada matahari.”

Pada akhirnya, gadis itu pun tetap hidup di dalam senja. Sungai Serayu akan semakin ramai. Akan tumbuh bangunan-bangunan berupa kafe dan losmen untuk meraup keuntungan dari para pengunjung, karena tempat itu mulai dijadikan objek wisata. Manusia pun berangsur tua dan mati, anak-anak muda akan meneruskan kekaguman orang tua mereka tentang pemandangan ajaib dari tepi Sungai Serayu….

Dan barangkali saja, suatu hari gadis itu benar-benar berhasil melubangi langit senja, lalu ia pun akan terjatuh di daerah pegunungan. Kemudian ia berjalan menyusuri bumi yang kian tua ini. Mungkin manusia yang masih hidup saat itu akan mengalami ketakjuban luar biasa, akan ada banyak kejadian yang mengherankan dan sama sekali tak terduga berkaitan dengan gadis tersebut.

Namun tentu saja, ketika saat itu tiba, saya sudah tidak bisa lagi menceritakannya.***

Sungging Raga
Follow Me

Sungging Raga

pernah kuliah di jurusan Matematika Universitas Gadjah Mada. Buku kumpulan cerpennya Sarelgaz (Indie Book Corner, 2014).
Sungging Raga
Follow Me

Latest posts by Sungging Raga (see all)