Pippi, Popo, Mereka

Puluhan tahun lalu, bocah-bocah di dunia mendapat cerita memukau dari Astrid Lindgren. Cerita bertokoh bocah perempuan bernama Pippi. Tokoh menggelikan tapi memberi warta gembira bagi bocah-bocah menjadi “pemberani”. Ia itu aneh dan lucu. Di mata sekian orang, Pippi sering bikin sebal dan bingung: omongan, penampilan, dan perbuatan.

Ia sering mengenakan kaus kaki panjang beda warna dan motif. Kesengajaan di penciptaan girang dan menepis malu menurut tatanan normal. Pippi sudah “menggugat” dan mengerti kesembronoan estetik. Ia pun dijuluki “Si Kaus Kaki Panjang”. Pippi sedang mengenakan makna memiliki ketetapan di mata publik berkaitan ukuran, warna, waktu, tempat, dan tindakan. Si bocah seperti melakukan ralat atas kamus dan opini umum dalam tawa dan tingkah mengejutkan nalar biasa. Pada kaus kaki, Pippi membentuk identitas di luar kebakuan ukuran kesopanan dan estetika publik. Tokoh itu terus terkenang sampai sekarang. Ingat Pippi, ingat kaus kaki panjang. Di kaki, kaus kaki itu metafora memicu tawa, sebelum sangsi-sangsi bermunculan mengenang adab hidup di Eropa.

Astrid Lindgren (1984) mengisahkan: “Nah, kaki Pippi yang kurus panjang dibungkus sepasang kaus panjang. Tapi warnanya tidak sama. Kaus yang satu warnanya hitam, sedang sebelahnya berwarna kuning garis-garis hitam. Pippi memakai sepatu hitam yang kebesaran. Ukurannya dua kali lebih besar.” Sepatu itu dibelikan bapak di Amerika Selatan. Si bapak meniatkan sepatu besar itu “agar kaki Pippi bisa tumbuh bebas di dalamnya.” Kaus kaki aneh dan sepatu besar. Kaus kaki itu memberi julukan keren pada Pippi.

Cerita Pippi berkaus kaki panjang itu menggirangkan bocah-bocah di Indonesia. Kita tak pernah memiliki album catatan ulah Pippi ditiru ribuan bocah. Di rumah dan sekolah, mereka berkaus kaki panjang beda motif dan warna. Ulah itu pasti membikin tertawa dan senewen. Bocah-bocah di Indonesia dididik tertib, rapi, dan seragam. Dulu, bocah-bocah SD diwajibkan mengenakan kaus kaki berwarna putih dan sepatu hitam di hari Senin. Kaus kaki ikut upacara bendera. Pada hari Sabtu atau hari ditentukan pihak sekolah, murid-murid mengenakan kaus kaki berwarna hitam saat berseragam pramuka. Pada abad XXI, kaus kaki itu iklan sekolah. Kini, bocah-bocah mengenakan kaus kaki dengan logo sekolah. Kita menduga ada orang melihat kaus kaki dan berpikiran mutu sekolah.

* * *

Di negeri dan masa berbeda, kaus kaki ditempeli makna-makna tambahan tanpa membatalkan makna asal. Kita menuju Korea Selatan. Kaus kaki tanpa jejak pemaknaan seperti di dua kaki Pippi. Kaus kaki dikenakan gadis sedang bingung mengurusi perasaan. Kaus kaki di perkara asmara. Kaus kaki sudah lazim dikenakan kaki-kaki para murid di sekolah atau dikenakan saat bekerja di kantor. Lelaki dan perempuan pantas berkaus kaki asal merasa enak dan menetapi kaidah-kaidah disepakati umum.

Pada 2009, Pape & Popo: Rainbow Love mendapat penghargaan komik terbaik di Korea Selatan. Komik buatan Shim Seung-hyun itu mengena di perasaan dan menantang pembaca di keluguan menjadi manusia di abad XXI. Kita menikmati komik itu dalam edisi bahasa Indonesia pada 2014. Kenikmatan di kertas saat jutaan orang memilih melihat Korea Selatan di panggung musik atau drama seri mengagungkan air mata. Di Indonesia, tumpahan air mata untuk keromantisan khas Korea Selatan mengolah sumber-sumber tradisi dan pengaruh dari Amerika Serikat-Eropa.

Tokoh gadis bernama Popo dilanda bimbang dalam menentukan tambatan hati. Ia pernah diperlakukan secara sopan dan dimanjakan oleh Jung-woo. Lelaki santun, penuh pengertian, sabar. Di kubu sebelah, ada Pape. Lelaki “nakal”, lucu, dan setia. Detik-detik kebimbangan membuat Popo repot di keputusan. Pada suatu peristiwa, ia menemukan umpama berupa kaus kaki. Popo ingin berdandan anggun. Ia bingung memilih kaus kaki. Ada dua pasang kaus kaki sama-sama diinginkan dikenakan di kaki: sepasang kaus kaki panjang berwarna biru dan sepasang kaus kaki pendek berwarna hijau. Ia memutuskan mengenakan kaus kaki panjang di kaki sebelah kanan dan pendek di kaki sebelah kiri. Ia memenuhi ingin mengenakan dua pilihan telah membimbangkan. Pilihan itu ditertawakan sendiri: menggelikan dan tolol.

Di kaus kaki, Popo ingin berumpama perasaan pada dua lelaki pujaan. Ia dipaksa memilih dan berani tanggung risiko: bahagia atau kecewa. Popo memastikan memilih Pape. Lelaki bukan kaus kaki. Perasaan bukan kaus kaki. Setiap hari, Popo tetap mengenakan demi gengsi dan kepatutan. Ia harus berkaus kaki seragam, tak boleh selen atau berbeda di dua kaki. Berasmara dan berkaus kaki itu beda meski pernah ada di “titik” pengertian sejalan. Di mata Popo, pujaan bernama Pape itu lelaki, bukan kaus kaki berbau apek, bolong, dan molor.

Kaus kaki di Indonesia memiliki cerita terlalu berbeda dengan kegirangan Pippi dan asmaranisme bertokoh Popo-Pape. Kini, kita sampai ke pengertian bahwa kaus kaki itu halal. Kaus kaki ada di ejawantah keimanan. Indonesia memiliki komoditas kaus kaki bermerek Soka telah berhasil mendapatkan sertifikasi halal dari Majelis Ulama Indonesia. Pihak produsen menjelaskan arti halal harus memenuhi tiga kriteria: (1) bahan baku dan pencelupan kain menggunakan softener terbuat dari tumbuhan; (2) kaus kaki diproduksi menggunakan kuas berasal dari ekor kuda dijamin halal; (3) lingkungan produksi kaus kaki jauh dari unsur najis (Republika, 5 April 2019).

Kaus kaki itu ditujukan ke konsumen dari kalangan muslimah. Pada saat kaum muda semakin ingin mengetahui Islam dan rajin mengikuti pengajian, kaus kaki itu diharapkan laris. Konsumen tak usah ragu untuk mengenakan kaus kaki dalam pelbagai peristiwa keseharian. Pada kaus kaki, mereka menguji keimanan dan berikhtiar meningkatkan ibadah. Kaus kaki halal itu mendapatkan pasar di Indonesia, Filipina, Malaysia, Thailand, dan Australia. Kita ada di perkara baru, berjarak jauh dari cara baca kaus kaki di novel gubahan Astrid Lindgren dan komik buatan Sim Seung-hyun.

* * *

Iklan kaus kaki di Indonesia terbilang jarang. Kaus kaki dalam cerita cukup memberi kita imajinasi mengenai pelbagai hal. Kaus kaki di sekolah-sekolah Indonesia sudah mengabarkan keseragaman dan cara “menertibkan” murid. Murid nekat tak berkaus kaki pasti dapat ejekan dan hukuman. Di tatapan mata, murid itu berpenampilan buruk. Di Indonesia masa 1980-an dan 1990-an, orang-orang lekas memberi tuduhan jika melihat murid mengenakan sepatu tapi tak berkaus kaki adalah murid STM, bukan murid SMA. Penolakan berkaus kaki kadang mendapat penggenapan dengan kenekatan murid mengenakan kaus kaki sudah bolong, bau, dan molor.

Kita tinggal itu menuju iklan-iklan kaus kaki pernah muncul di majalah-majalah. Iklan itu pasti kalah seru dengan iklan sepatu dan tas. Di majalah Tempo edisi 24 Maret 1984, tersaji iklan minta perhatian. Iklan kaus kaki dari Pan Arfina. Kaus kaki bermerek Fila dianjurkan dimiliki para pembaca gemar olahraga. Kaus kaki manjur: “Melekat di kaki sang juara!” Kaus kaki dikenakan atlet tenis, bukan murid atau lelaki kasmaran.

Simaklah: “Kaus kaki Fila khusus dirancang para ahli agar gerak kaki Anda menjadi lebih gesit, lincah dan mantap pada setiap ayunan raket. Kebebasan gerak kaki Anda lebih terjamin karena Fila terbuat dari bahan pilihan yang lembut dan menyerap keringat secara efektif. Selain itu, desainnya yang sportif sangat mendukung penampilan Anda.” Pada olahraga berbeda, kaus kaki berbeda bahan, motif, dan khasiat. Kaus kaki itu janganlah dikenakan para pemain sepakbola dalam Liga Champions. Kaki-kaki mereka bakal rusak dan cedera. Iklan itu mungkin pernah berpengaruh di masa 1980-an. Orang-orang kampung agak sulit membeli kaus kaki mahal. Mereka memilih membeli di pasar malam dengan uang 10 ribu rupiah mendapat tiga pasang kaus kaki.

Pada 1990-an, kaus kaki menentukan gengsi individu dan keluarga. Kaus kaki itu terlihat, mengabarkan derajat sosial si pemakai. Iklan berwarna sehalaman tampil di Tempo, 7 April 1990. Iklan keluarga untuk mengajak keluarga-keluarga Indonesia mengenakan kaus kaki bermerek Mundo. Iklan berdoktrin: “Bagiku harus Mundo, tiada pilihan lain.…” Kaus kaki apik. Mahal. Lihatlah, kaus kaki mau ditaruh di dalam koper, diajak bepergian keluarga berada. Kaus kaki berkumpul bersama baju, celana, dasi, dan lain-lain. Kaus kaki tak berbau apek.

Mereka keluarga Orde Baru: bapak, ibu, dan dua anak (putra dan putri). Mereka pelesiran. Peristiwa mereka berada di taman dan pelabuhan. Kaus kaki mereka tampak bersih dan cakep. Kaus kaki pilihan, bukan berasal dari pasar malam. Mereka memilih kaus kaki bermutu. Janji dari pengiklan: “Warna-warni yang in, pilihan yang asyik dengan computerized design dan sistem linking supaya enak dipakai. Awet, karena teknik double sole yang canggih. Sekian jenis dan ukuran kaus kaki bisa dikenakan bayi, anak-anak, remaja, dan dewasa. Pilihan lengkap! Kaus kaki selera kelas menengah-atas.

Ingat, kaus kaki mungkin penting dalam pembenaran kesuksesan pembangunan nasional. Konon, keampuhan Orde Baru bisa dibuktikan dengan jutaan orang mengenakan busana necis dan berkaus kaki apik. Lihatlah, para pejabat, pengusaha, dan orang-orang terkenal. Mereka memiliki koleksi kaus kaki, bukan berharga 10 ribu rupiah dapat tiga pasang. Di Indonesia, kaus kaki itu industri laris meski harus bersaing gengsi dengan pengena kaus kaki di Amerika Serikat, Inggris, Rusia, Tiongkok, Korea Selatan, dan Jepang. Begitu.

Bandung Mawardi

Penulis di pengedarbacaan.wordpress.com dan pengabarmasalalu.wordpress.com
Bandung Mawardi

Latest posts by Bandung Mawardi (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.