Dimas Kanjeng AA Strange; Review Film Doctor Strange (2016)

in Hibernasi by
Dimas Kanjeng AA Strange; Review Film Doctor Strange (2016)
Sumber gambar: collider.com

Di penghujung tahun 2016, Marvel Studio menutup seri MCU (Marvel Cinematic Universe) mereka dengan petualangan pahlawan super terbaru bernama Doctor Strange setelah sebelumnya mereka baru saja memorak-porandakan para Avengers di event “Civil War”. Doctor Strange menggunakan sihir sebagai sumber kekuatannya dan gelar akademik sebagai nama pahlawan supernya. Hal ini hampir mirip dengan orang sakti di Indonesia yang menggunakan gelar spiritualnya, Dimas Kanjeng. Jadi apakah kedua orang ini memang mempunyai kemiripan?

Film garapan Scott Derrickson memasang aktor Inggris Benedict Cumberbatch untuk memerankan Stephen Strange. Penulis mengira bila ada yang tidak mengenal sosok Cumberbatch kemungkinan besar referensi filmnya hanya sebatas jadwal bioskop TV swasta yang gemar menekankan kalimat “pertama kali tayang di layar kaca”. Pemilihan Cumberbatch sebagai sosok The Sorcerer Supreme sendiri bisa dibilang harapan para fanboy yang menjadi kenyataan. Tengoklah sebentar Google Image untuk melihat bagaimana Stephen Strange digambarkan dalam komik mewujud sempurna dengan wajah pemeran Julian Assange ini.

Doctor Strange menceritakan tentang seorang ahli bedah saraf yang mengalami kecelakaan mobil karena melihat gadget—berkendaralah dengan benar!—dan mengakibatkan saraf di tangannya tidak lagi berfungsi normal. Setelah menjalani operasi, si Doctor tetap tidak bisa mengontrol tangannya yang terus gemetar sementara bagi seorang dokter bedah, tangan merupakan instrumen utama untuk bekerja. Setelah mendapatkan informasi dari pasien lumpuh yang kini bisa berjalan, si Doctor berangkat ke Nepal mencari Kamar-Taj—mungkin kalau di sini bisa disebut padepokan, di mana ia harus bertemu Sang Leluhur/The Ancient One, yang bisa menyembuhkan tangannya. Cuman yang dia dapatkan di sana bukan hanya kesembuhan, tapi juga tugas untuk melindungi bumi dari serangan makhluk dimensi kegelapan. Klise? Ya begitulah film superhero. Kalau dia mendapat tugas untuk melindungi pulau, mungkin judulnya berubah jadi “Descendants of the Sun”.

Tapi Hollywood apakah memang sudah kekurangan ide untuk tidak memakai portal ke dunia lain yang harus dicegah para pahlawan dalam setiap filmnya? Terbilang sejak “Transformers” yang ketiga, “Avengers”, “Thor: Dark World”, “TMNT 2”, “Ghostbusters”, dan yang paling terbaru “Suicide Squad”, ide yang dipakai adalah tentang mencegah portal. Mungkin Anda bisa membantu penulis menambahkan daftar film tentang portal dunia lain yang harus ditutup di film yang pernah Anda tonton.

Untuk segi cerita sendiri, yang belum pernah membaca komik Doctor Strange tidak perlu merasa khawatir karena penonton diajak untuk mengenal dunia Doctor Strange pertama kali. Pun dunia di Doctor Strange tak begitu rumit ketimbang dunia “Guardians of the Galaxy” yang minggu lalu baru saja mengeluarkan trailer terbarunya!!! Setelah menonton ini pun, penulis menyarankan tak ada salahnya Anda membaca komik Doctor Strange yang ditulis oleh Jason Aaron serta digambar secara apik oleh Kevin Nowlan; sangat direkomendasikan!

Pemilihan pemain bisa dibilang tidak main-main. Memasang pemeran Hannibal sebagai musuh utama Doctor Strange terbilang tepat. Hanya sosoknya tidak terlalu mengerikan sebagai seorang penjahat utama. Wibawanya ada tapi langsung main gebuk, kurang karismatik. Yang mencuri perhatian justru penampilan Tilda Swinton yang berperan sebagai Sang Leluhur. Di komik, Sang Leluhur digambarkan sebagai seorang pria, namun Marvel tidak menemukan aktor yang cocok. Jangan lupakan juga Rachel McAdams yang datang sebagai pemanis. Sebagai seorang wanita yang dicintai oleh Stephen serta tegar menemani saat Stephen sakit dan kemudian disakiti oleh Stephen, penulis merasa adegan yang dimainkannya terlalu kurang. Apalagi ciuman yang diganti dengan kecupan… apaan?! Di awal film kan sudah ditulis hanya untuk penonton 17 tahun ke atas, kenapa cuma… sudahlah.

Yang perlu penulis garis bawahi selain penampilan Mas Cumberbatch, Tante Swinton, serta ciuman yang gagal Mbak Rachel, film ini menampilkan aksi pertarungan yang sungguh luar biasa memanjakan mata. Apalagi ketika pertama kali Sang Leluhur mencegah Kaecilius kabur, tak salah beberapa yang melihat trailer ini langsung berkomentar bahwa adegannya mirip dengan “Inception”, tapi Marvel membuatnya jauh lebih bagus lagi. Kota yang terlipat, dunia cermin—mirip dengan serial “Kamen Rider Ryuki”, perang sihir yang kebanyakan menggunakan kekuatan fisik tidak seperti di film-film Harry Potter—lupakan tongkat karena sihir di sini disimbolkan oleh mandala serta cincin, penulis sejenak sudah lupa dengan pertarungan antara Spider-man dan Giant man di “Civil War”. Penulis kenapa tidak pernah menyinggung Batman Vs Superman? Karena semua sudah penulis tulis di esai “Manusia Berencana tapi Siapa yang Bercanda? (Review Singkat BvS)”.

Beberapa adegan terlihat sangat psikedelik dan surealis dengan takaran yang pas sehingga penonton memang dibawa ke dunia penyihir yang mencegah terbukanya dimensi kegelapan. Tak jauh beda juga dengan penyihir di negeri ini yang tujuannya juga mencegah… mencegah hujan turun di saat kawinan.

Kurangnya di film ini adalah beberapa jokes yang bisa terbilang garing, latar belakang musuh yang kurang digali lebih, dan pertarungan terakhir yang harus diakui terkesan biasa. Jadi, apabila ada superhero dengan kekuatan hebat bertemu musuh yang bentuk tubuhnya lebih besar lima kali lipat dan mereka menyelesaikan konflik dengan musyawarah seolah pertarungan pembuka yang begitu hebat hanya pemanis? Marvel… serius?! Kalian pikir ini DPR?

Kisah Doctor Strange sebenarnya juga tak jauh di kehidupan sekitar kita. Di saat sakit dan pengobatan dengan biaya mahal sudah kita jalani, kita akhirnya kembali ke alam. Entah itu berobat herbal ke sinse atau mandi di sendang saat bulan purnama. Alam mistik tak pernah jauh-jauh dari kehidupan masyarakat kita. Pernahkah Anda mengira kalau tempat di sekitar Anda yang dikeramatkan adalah portal ke dunia lain? Tolong jangan pernah mengabari sutradara film Hollywood agar mereka tidak membuat film tentang portal lagi.

Yang punya nalar sehat pun berharap dunia mistik adalah jalan keluar terakhir ketika masalahnya tak bisa dipecahkan. Seperti saat Doctor Strange yang terus mendesak doktor lain untuk menyembuhkan tangannya namun tidak ada yang sanggup sehingga jalan yang dilakukan oleh Strange pergi ke dunia astral. Hanya untungnya Stephen tidak pergi ke padepokan yang alirannya sesat dan harus memakai narkoba demi untuk melakukan perjalanan Astra atau sekadar berkomunikasi dengan jin.

Justru jika Doctor Strange membuka padepokan demi menjaga gerbang dimensi kegelapan di negara yang nilai-nilai mistiknya masih menjamur, alangkah banyaknya pengikut Doctor Strange. Apalagi para kelas menengah yang masih percaya mistik tapi malu karena guru padepokannya tidak punya bergelar akademik. Tentu ini akan menjadi start-up menjanjikan ke depannya. Berniat merintis usaha ini?

Jacob Julian

Jacob Julian

penulis, penggemar film yang merangkap sebagai detektif partikelir, juga pandit sepak bola antar kampung.
Jacob Julian
  • Imelda Kinyope

    suka dengan tulisannya…maklum, sesama penggemar film..

    • Jacob Julian

      Hehe

  • Izhary

    Portal yah … Pacific Rim, portal buat ‘kaijuu’ ada di bawah laut. Kaijuu-kaijuu di Ultraman Gaia juga nongol dari Lubang Cacing a.k.a portal.
    Bahasa review-nya asyik banget. Smoothly flowing. (Kapan ane bisa nulis kayak gini) Apalagi bawa-bawa Dimas Kanjeng, jadi bikin tambah kece. 😀