Puisi-Puisi Halim Bahriz; Pidato Dedaunan
Pidato Dedaunan Telah kurentangkan sepasang tanganku seperti Angin yang merebahkan dirinya kepada bumi Telah kupejamkan sepasang mataku […]
Pidato Dedaunan Telah kurentangkan sepasang tanganku seperti Angin yang merebahkan dirinya kepada bumi Telah kupejamkan sepasang mataku […]
Di Hadapan Peniup Sarune[1] Begitu tertarung angin bukit ke getar air Danau Toba itu kami telah jatuh pandang dahulu sejurus […]
PEZINAH PERTAMA YANG MASUK SURGA I Rasanya belum lama Kita nikmati Dosa pertama Dan kini mereka akan […]
Memercayai Lemak Di warung makan, engkau sering menyantap ayam bakar, sedang aku melahap ikan masak. Kita sama-sama suka makan […]
Mengelus Perut Istriku Mengelus perut istriku yang sedang menggembung seperti roti dan berdenyut laksana surga kurasakan panah-panah waktu […]
Cinta Gila Apalah arti kembang api di tengah mandi cahaya Apalah arti cintaku yang besar bagimu Bila seluruh zat […]
Paris Malam Hari Ini kali ketiga aku di kota Paris. Alir Seine terang oleh cahaya lampu pinggir jalan. […]
Bapa Bapa, kenapa belajar kata-kata di kebun binatang? Ibu masuk kandang harimau, adik merayap di sangkar burung. Bapa, […]